
Guratan hati sang raja yang sangat sendu.
Rasa air minum yang sangat pahit dan terasa panas di tenggorokan. Raja Permadi hanya meminum setengah ramuan itu, dia berharap efeknya hanya menghilangkan setengah ingatannya saja. Setengah air tersebut dia tumpahkan di lantai kaca pura ruang persemedian. Air cahaya putih dan kegelapan yang mengenai kaki jin yang tidak di tuju oleh pemiliknya itu merenggut jiwa dan dapat membunuh siapapun yang tidak sengaja menginjaknya. Raja terkejut mendengar jeritan dari salah satu cenayang yang sedang terkulai lemah berjalan menginjak air yang tadi dia buang. Cenayang tersebut langsung menjerit kesakitan dan mati menjadi kepulan asap. Melihat hal itu, Raja buru-buru membersihkan sisa air dengan jubahnya.
Gerhana bulan penuh
Angin bertiup kencang, aungan suara siluman serigala keras terdengar dari kejauhan.
Suku Taraya sudah mengelilingi pura muara hijau menunggu dinding pembatas hancur. Mereka sudah tidak sabar mengunyah para cenayang sebagai santapan segar dan merenggut kekuatan mereka.
“Taraya!” sorak para anggota melihat pemimpin suku mengangkat tongkat tengkorak.
Tongkat tengkorak terkuat yang hampir meruntuhkan kerajaan Jati Jajar ketika pemberontak dan pengikut ibu suri mengerahkan pasukan Yaksa untuk menyerang tersebut. Penyerangan senjata jin dan sihir beracun dari suku Taraya. Ibu suri juga meminta kekuatan dari pura hijau dan mengancam kepala suku untuk membantunya.
Kilatan cahaya saling beradu, suara dentuman bagian utara dinding hancur. Suku Taraya tertawa seakan sinyal tanda kemenangan berpihak pada mereka.
Cenayang Han memanggil seluruh kekuatan cenayang Karang untuk membantu melindungi pura. Sampai pada kejadian yang tidak terduga terlihat sosok wujud cenayang Karang melayang di depan tembok utara dengan sorot mata menyala. Gaun putih panjang bersimbah darah yang terus mengalir, rambutnya terurai, tidak terlihat tangan dan kakinya. Melihat itu cenayang Han menangis mengingat kematian Cenayang Karang yang secara sadis.
“Bukan kah itu cenayang Karang?” gumam Raja Permadi. Sang raja yang sudah mendengar rumor kematiannya tapi masih belum percaya bahwa pembunuhnya adalah ibu suri.
Tidak ada satupun pasukan suku Taraya yang berani mendekat dan menerobos dinding yang hancur. Karang mengibas setengah pasukan sampai terbanting dan lumpuh. Satu persatu mundur, hanya kepala suku Taraya yang masih berdiri kokoh memanfaatkan sinar gerhana Bulan untuk melawannya. Sinar bola merah dari sang kepala suku Taraya untuk menyerang. Sosok arwah itu berubah menjadi bentuk yang mengerikan, dia mengeluarkan sihir ganasnya untuk membunuh kepala suku Taraya.
Bumm, bum..
Bunyi dentuman memecahkan kepala suku Taraya. Tubuhnya hancur seketika yang tersisa hanya tongkat tengkorak yang tertancap di atas tanah. Melihat pemimpin mereka telah mati, semua pasukan Taraya pergi melarikan diri. Setelah gerhana bulan berakhir, corak aurora di dunia jin muncul menghiasi warna-warni indah. Seperti sedang menyambut kedatangan putri Mahkota yang kembali di alam jin atau menandakan pertemuan kembali dua jin yang terpisah begitu lama.
Cenayang Karang menghilang ketika sinar rembulan kembali terang benderang. Semua masih terkejut melihat penampakan dari cenayang Karang dan bantuannya melindungi pura hijau. Beberapa cenayang menangis, isak tangis yang paling keras adalah cenayang Han. Belum sempat dia memeluk sahabatnya itu dan mengucapkan terimakasih telah mempercayakan ilmu kesaktiannya. Penampakan kembali cenayang Karang hari ini menandakan bahwa kejadian di masa silam bukanlah kesalahan dirinya.
...Hope all will never end...
...🔥🔥🔥🔥🔥...