
Kepada Asa dan waktu
Tentang biru cinta kita di balik awan dan pesisir binar rayuan mu
Dengan segala gejolak rasa yang tersirat
Jangan membujuk bila pelangi hanya sekejap indah mewarnai langit biru
Usah mendendang suara gemercik air yang samar terdengar dari kejauhan
Malam akan tetap berganti bersama ribuan Purnama merindu
Pembatas relung jiwa mengisyaratkan kekacauan setelah engkau membawa guruh
Berujung di jalan aku menapaki jejak mu, aku mendengar langkah mu yang menyeret sayap besar nan kuat. Di sepertigaan jalan aku terhenti saat kau menoleh, kemana jalan yang seharusnya aku lalui. Sedang kau memilih jalan lorong dengan sinar samar, kadang awan berselimut hangat dengan gemuruh angin di padang mayang-mayang. Bening tetesan di kala embun di pagi buta masih saja menjadi saksi menunggu hadir mu. Keluh dan kesah masih mengganggu, melahap mesin waktu yang sedang aku ciptakan di sajak harapan. Tidak ada yang mengetahui jalan cerita cinta biru yang sedang kau urai mengunci detak jantung gamang tiada pasti.
...----------------...
Hari ini langit jin tampak merah di sertai rintik gerimis yang jatuh di tanah merah. Namun udara teramat dingin berhembus angin dari selatan menerbangkan pasir hitam. Riuh merusak hari dan waktu menuju ujung jurang pembunuh.
Arska menjerit tak kala tangan kanannya terbakar kena percikan api dari tombak Huson. Panas yang sedang dia tahan ketika mendapatkan serangan anak panah dari prajurit. Pangeran membanting tombak raksasa Huson dengan sayapnya yang membuat sebagian sayap pangeran menjadi terbakar. Pangeran terjatuh dari ketinggian tiga kaki di atas bebatuan padas di sambut dengan ribuan anak panah menuju tubuhnya. Putri berlari menuju pangeran, dia ingin membalas jasa pangeran yang pernah menyelamatkan dengan menutupi tubuh pangeran. Nyaris saja putri terkena panah jika Gangga tidak cepat datang mencengkram nya.
“Tidak Gangga, kita tidak bisa meninggalkan pangeran sendiri” kata putri menoleh dari atas angkasa. Gerakan cepat Huson menancapkan tombak ke arah punggung pangeran.
“Arrgggh”
Bahkan saat akan di ambang sekarat, dia sempat melihat sang putri. Setelah membunuh pangeran, Huson beserta bala tentara meninggalkannya.
“Ayo kita pergi, dia pasti sudah mati” ucap Huson mengendarai kuda jin.
Dari atas pohon berduri ada Badar yang menunggu situasi aman untuk menyelamatkan pangeran. Kasim jin yang setia itu dengan cepat mengangkat pangeran menuju tempat persembunyian. Bersama ibu Suri mereka menuju markas persembunyian. Ibu Suri menangis terisak-isak sat melihat nafas putus-putus dari rongga hidung pangeran. Para tabib tampak bersusah payah dan tegopoh-gopoh memberikan segala obat.
“Cepatlah! Kondisi cucuku semakin kritis!” kata Ibu Suri menepis genangan yang terus menerus mengalir dari pelupuk mata.
“Ibu Suri, pangeran terkena tebasan tombak ganas beracun. Pertolongan terakhir dengan menantam sebagian tubuh pangeran dengan lumpur” ucap tabib menunduk penuh rasa takut akan perkataannya.
“Cepat lakukan!”
Di dalam tenda mereka menyiapkan galian dan memasukkan tubuh pangeran sebatas leher. Mereka menutupi dengan lumpur begitu rapat.
“Pangeran kau harus selamat, setelah ini kita harus kembali ke istana untuk mengambil kembali milik mu" bisik ibu Suri.
Tampak butir-butir keringat di dahi mengalir begitu deras, di bantu dengan racikan akar-akaran dari hutan jin para tabib menuangkan ke dalam lumpur yang sedang menutupi tubuhnya. Tidak ada pergerakan sama sekali dari pangeran bersama raut wajahnya yang semakin memucat.
...----------------...
Serpihan sayap jin telah terhempas di udara, apakah pangeran permadi akan pergi selamanya?