Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Tentang gemuruh


Bersama para pasukan, mereka menuju istana. Di pertengahan jalan, ibu suri, pangeran dan para prajurit di sambut oleh gerombolan tentara istana. Semula mereka begitu panik, alih-alih berpikir akan di serang secara brutal. Namun di belakang barisan ada Ratu Layana yang berlari menuju pangeran permadi dan memeluknya. Dia mendengar kabar kematian anaknya yang membuat Ratu tidak percaya dan mencari pangeran keluar kerajaan.


"Perasaan seorang ibu tidak akan salah, pangeran masih selamat. Apa jadinya jika ibu membawa pulang jasad mu"


"Langit masih berpihak pada ku wahai ibu, hormat ku pada mu"


ucap pangeran berlutut penuh rasa sedih.


Ratu Layana memeluk pangeran, ada ibu suri yang tampak sinis melihat ratu. Ada rasa tidak suka pada Ratu dari dahulu yang pernah di emban ibu suri pada peristiwa lalu. Dia masih menutup rasa sayang untuk Ratu.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju istana. Kedua pasukan kuda jin yang mereka tunggangi sudah sampai di tembok gerbang pembatas istana. Para pasukan kerajaan dari atas tembok raksasa telah siap menarik anak panah. Ibu suri turun dari kuda jin dan berjalan melewati pengawal, dia memerintahkan untuk membuka gerbang.


"Apakah kau tuli? aku masih berkuasa disini!" bentak ibu suri mengeraskan suara.


Gerbang raksasa istana kerajaan Yaksa di lapisi oleh besi tebal berduri. Dari atas benteng berjejer pasukan menarik anak panah dari busur. Pangeran Permadi mengangkat pedang bersiap menepis hujan busur.


Ratu Layana keluar dari tandu yang membuat kehadirannya menggetarkan Futon dan Kala. Mereka menjatuhkan senjata ke atas tanah merah. Futon turun dari balik tembok raksasa menuju Ratu dan ibu suri. Berlutut meminta maaf lalu memukul kepalanya di dekat kaki mereka.


"Apakah ini rencana busuk mu semata untuk menggantikan posisi pangeran?" ucap Ratu berteriak di telinga Futon.


"Kakak, Huson lah yang membunuh pangeran di hati itu" jawab Futon memegang kaki Ratu.


...----------------...


Mereka semua berkumpul di lapangan luas kerajaan. Disana juga ada susunan rapi para punggawa istana dan aparat kerajaan. Raja membuka petisi dari Ratu dan menyerahkan kembali ke pengawal. Dia memberikan suatu pilihan kepada ibu suri agar menentukan nasib pangeran atau dirinya.


"Sesuai keputusan raja mengenai petisi ibu suri, maka ibu suri berhak memilih siapa yang harus minum racun untuk menyelamatkan kehormatan kerajaan. Terhitung pangeran Permadi telah melakukan penghiatanan membela kerajaan jati jajar."


Seru pengawal raja di tengah lapangan.


Suatu keputusan yang menggetarkan hati ibu suri. Pangeran menuju mangkuk racun hitam dan meraihnya. Sebuah anak panah menuju mangkuk yang sedang di pegang oleh pangeran lantas tumpah seketika. Arska membidik dari atas angkasa bersama Gangga kembali berbalik meninggalkan kerajaan jati jajar.


"Kejar dia!" perintah Raja Yaksa murka berdiri menuju kuda.


Pasukan burung hantu jin ikut mengejar Arska. Sayap pangeran Permadi yang belum bisa mengepak di udara membuat dia sangat kecewa dengan dirinya. Pangeran menuju kuda jin dan ikut mencari putri. Situasi sangat kacau balau, Gangga terkepung oleh pasukan burung hantu raksasa di udara. Arska memanah para burung hantu namun anak panah yang tidak seukuran tubuh mereka hanya bagaikan lemparan lidi lancip kecil yang mengenai tubuh burung hantu.


...----------------...


Apakah ini suatu sinyal biru muda? atau hanya bentuk penyelamatan beruntun yang di tuju untuk pangeran Permadi? semua masih menjadi simpanan rahasia dari balasan surat cinta putri Arska.


...To be continued...