
Gemilang surya mencekam jiwa
Menahan kuatnya gangguan ghaib
Bertautan dalam satu keyakinan
Menahan emosi dan segala luka dan derita
Tanah jin kadang terguncang menyiratkan tanda ikatan cinta biru mereka berdua
Ini tentang segala rasa ketidak terimaan ku saat engkau mempermainkan waktu
Jangan meminta langit selalu cerah sedangkan gulungan awan hitam dan hujan di karenakan oleh mu
Musim salju dan hujan tetap sama dan beredar tanpa engkau tau kepastian berhenti
Untuk mu cinta biru
...❄️❄️❄️...
Di suatu pagi hari yang dingin, sosok ibu yang sangat sedih mengingat buah hatinya menghilang tanpa ada kabar. Selepas peperangan terbesar kemarin, bau anyir udara di wilayah jin menyengat mengibas jeritan para arwah jin samar merintih kesakitan. Ibunda Ratu masih selalu menunggu kabar dari putri Arska. Segala upaya di kerahkan oleh Raja jati Jajar untuk mencari putri Mahkota, raja juga memerintahkan beberapa pasukan untuk mendirikan tenda darurat agar berharap lebih mudah menemukan sang putri.
Deras guyuran air mata sang ratu terus menghujani pipinya. Dia enggan menelan makanan dan setetes air sekalipun. Hati dan pikiran semakin cemas, keadaan Ratu masih tetap di atas ranjang. Wajah pucat bahkan obat-obatannya tidak tersentuh sedikitpun. Raja yang baru tiba dari wilayah bagian timur jati jajar untuk mengatur para prajurit membangun kembali benteng yang hancur dan menstabilkan kembali perdamaian serta perekonomian para rakyat jin. Dia membuka pintu kamar, menyentuh dahi sang Ratu lalu mengusap dengan lembut.
Tidak pantas seorang pria untuk menangis, terlebih lagi dia adalah pemimpin dan penguasa jin di wilayah Jati Jajar. Raja sekuat tenaga menahan kepedihan kehilangan buah hati dan bersedih melihat keadaan sang Ratu.
Ratu memiringkan tubuh memeluk sang raja, dia bagai berputus asa karena anak sematawayang bernasib buruk.
“Semua ini salah ku, tidak becus menjaga anak kita. Maafkanlah daku..” ucap Raja mengusap punggung sang ratu.
...----------------...
Sambungan masa lalu Maharani di alam manusia
Di paviliun teras rumah, Maharani membuka lembaran buku selanjutnya. Ada sebuah nama yang tertulis tidak begitu jelas untuk di baca. Lembaran kertas usang yang terukir nama kecoklatan. Terasa ada sesuatu yang menusuk di hatinya. Ingatan yang seperti terhapus mengganggu pikiran seakan ada seseorang yang sangat penting pernah mengambil setengah waktunya untuk sedikit tersenyum melewati hari.
“Siapa dia? Kenapa aku melupakannya?” gumam Maharani.
Dia belum bertemu ada dekat dengan siapapun karena terlalu sibuk menahan rasa sakit yang dia derita. Dia semula berpikir waktunya tidak lama lagi dan enggan membuka hati selama-lamanya. Seringkali Maharani mengalami serangan demam tinggi. Sejak terlahir di dunia, dirinya dia menyambung hidup dengan berbagai macam obat-obatan. Kemanapun dia pergi, kedua orang tuanya selalu mengawal tanpa kenal letih.
“Semua demi Maharani, aku sudah memutuskan agar dia tidak pernah menikah seumur hidup” ucap ibu Maharani kepada suaminya.
Mereka berdebat di kamar membicarakan sesuatu yang terbaik untuk masa depan Maharani.
“Bisa sehat, berdiri tegak dan menjalani hari saja sudah kita sudah bersyukur” tambahnya.