Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Ranting patah


Sub penghalang dua cinta biru, Raja Permadi dan putri Arska belum bersatu.


Keduanya masih terpisah dan belum terbangun di dalam ruang dan waktu yang berdampingan. Kerutan bercak sinar rembulan dan matahari yang dapat menuntut keduanya. Pasang surut gulungan kertas masih terbaca oleh detik yang terus berjalan. Sepenggal kisah manis seolah hanya sebentar saja untuk di gapai.


Mereka menuju kamar putri mahkota. Sekilas suasana sepi itu menjadi semakin hampa. Tetesan air mata ibunda Ratu mengalir deras tanpa henti. Dia memeluk putri dan tersedu-sedu. Para dayang berusaha menenangkannya dan memberikan sapu tangan bunga. Seolah semua sudah selesai, istana jati jajar akan mengalami kehancuran saat pewaris kerajaan sedang di ambang kematian.


Sementara Raja menarik tangan Ratu dan memeluknya. Perlakuan hangat yang membuat mata cenayang Han membelalak. Goresan kesetiaan yang tampak tercurah seketika di masa depan akan mengalami guncangan batin saat orang ketiga yang akan muncul di antara mereka. Mata lain cenayang Han yang melihat hal itu pada Raja yang kini terlalu mencintai Ratu.


"Kau, apakah kedatangan mu kemari hanya sekedar melihat putri kami? atau ada maksud yang sedang ingin kau utarakan?" tanya Raja melempar pandangan kepada Han.


Cenayang yang kini menjadi buronan itu menawarkan sebuah syarat kepada raja dengan mengepal kan kedua tangan di depan dada.


"Aku, cenayang terkuat ketiga di pura muara hijau Ghaib. Ingin berusaha menyembuhkan penyakit putri jika Raja memberikan sebuah perlindungan kepada ku" ucap cenayang Han lalu menunduk.


Lagi-lagi pengawal pendamping raja menjadi murka. Dia menarik pedang menuju leher Han dan mendengus.


"Tunggu! biarkan saja dia mengobati putri. Raja, apakah engkau mau menolak kata-kataku?" Ratu menatap sayu dan memeluknya sekali lagi.


...----------------...


Di kerajaan Yaksa


"Tidak bisa di biarkan, jika cenayang Han sampai membuka mulut besarnya maka segala rencana ku akan gagal!" ucap ibu suri menggenggam tusuk konde kesukaannya.


"Argghh.." suara kesakitan terdengar jelas di telinga.


Hal tersebut membuat permaisuri tersenyum dan berjalan menujunya untuk mencabut tusuk konde dengan paksa. Tusukan yang mengenai tepat di lengan sang panglima perang.


"Kau tau ini sakit bukan? kau harus bisa menemukan wanita cenayang Han atau benda tajam ini mencungkil sepasang mata mu!" bisik ibu suri meninggalkannya.


Saat ibu suri beberapa langkah menuju bilik kerajaan. Dia melihat Raja Permadi berdiri memandangi sebuah bunga yang berada di dalam guci raksasa. Bunga yang sudah tampak layu masih terpajang disana.


"Dayang! kenapa kalian masih menyimpan bunga kering disini?" teriak permaisuri tepat di dekat daun telinga Raja.


Wanita tua ini, kenapa dia berteriak tepat di dekat ku. Sebenarnya siapa dia? apakah benar dia nenek Raja Permadi yang sedang aku tempati tubuhnya? batin Astro menoleh dan memperhatikan dengan seksama.


"Ampun wahai permaisuri, Raja sendiri yang memerintahkan kami untuk tidak mengganti bunga-bunga di dalam pot" jawab dayang penuh rasa takut.


"Apa? apakah kau tidak melihat cucuku sedang lupa ingatan?"


"Nenek, biarkan bunga-bunga yang sedang aku amati tetap pada tempatnya. Aku sedang mencari teka-teki" jawab Astro pergi berlalu.


"A, a, apa yang barusan tadi kau bilang?" ibu suri memegang jantung bergerak berusaha mengejar Raja.