Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Tetap berjuang


Semusim telah di lewati bersama sang waktu yang tidak pernah berhenti berdetak. Detak jantung itu sempat berhenti berdetak, segumpal darah yang dingin, membeku dan kosong kembali hidup karena takdir yang membawa di dalam rongga reikarnasi dua jin di era ribuan tahun lalu.


Setelah sibuk mengurus pemerintahan di kerajaan Yaksa, raja menuju alun-alun kerajaan arah ruangan ibu suri berada. Wanita yang tidak pernah menyayanginya itu enggan menampakkan diri selama berhari-hari. Sekalipun sang raja telah hadir menemuinya, tetap dia meminta para dayang agar tidak membukakan pintu untuk siapapun.


“Hamba menghadap wahai ibu suri yang agung, raja Permadi ingin bertemu” ucap dayang pendamping.


Ibu suri meletakkan sisir emas yang semula dia pakai seharian di depan cermin untuk berhias. Dia berjelan membuka pintu, memakai alas kaki menuju sang Raja.


“Raja, untuk apa lagi engkau berbicara pada wanita tua yang renta ini? Seharusnya kau sudah tidak perlu repot-repot menemui ku!” seru ibu suri.


“Nenek, aku hanya ingin tau kabar mu, Terlebih lagi engkau harus menjaga kesehatan untuk bersiap berpergian menuju kerajaan lain” ucap raja Permadi tersenyum.


Dia mengulurkan tangan dan membuka genggaman telapak tangan sebelah kanannya. Sebuah cincin emas yang terukir simbol kerajaan Yaksa.


“Apa maksud semua ini?” tanya ibu suri melotot.


“Aku akan membawa mu bertemu dengan ratu Yaksa, sosok putri mahkota kerajaan Jati Jajar.”


“Tidak! Aku tidak sudi ataupun merestui hubungan kalian! Sampai kapan pun dua kerajaaan ini akan tetap berperang!”


Amarah ibu suri memuncak hendak merampas cincin yang berada di tangannya.


Raja memalingkan wajah berjalan pergi meninggalkannya di susul oelah para dayang dan kasim. Di dalam benaknya bahkan sampai kinis ang enenk tidak memikirkan masa depan atas kebahagiaannya membangun cinta sebagai pendamping yang telah dia pilih untuk menemaninya selamanya.


“Selama ini, aku telah memberikan apapun yang nenek ingin kan. Hanya ibu yang merestui hubungan ku dengan putri Arska, di masa lalu dia telah memberikan benda miliknya sendiri untuk pendamping ku kelak” gumam raja Permadi.


Sang raja duduk di tepi kolam sambil menatap perbukitan yang hijau di belakang istana, dia meminta para dayang pergi setelah menghidanginya teh hangat.


“Kasim, tinggalkan aku dan katakan pada dayang utama untuk membuat banyak hidangan di hari esok” perintah sang raja.


“Baik yang mulia” jawabnya menunduk lalu pergi.


Raja Permadi meninggalkan tempat peristirahatan menemui sang ayah. Dia berharap sang ayah agar merestui dirinya mempersunting putri Arska. Sifat mantan raja Yaksa itu masih tetap keras kepala dan melakukan kehendaknya sendiri.


“Raja, aku sudah tau engkau akan datang dan mengatakan keinginan mu waktu itu, meminta persetujuan ku agar merestui hubungan kalian bukan? Ibunda mu sudah memberitahukan waktu itu” ucapnya sambil mengeraskan suara.


Raja Permadi menunduk menahan genangan percikan gerimis di pelupuk mata. Dia hanya menunduk enggan membalas perkataan dan tatapan sinis sang ayah. Raja kembali mengepakkan sayap meninggalkannya menuju kerajaan Jati Jajar.


“Putri, aku tau raja dan ratu Jati Jajar pasti lebih tidak menyetujui hubungan kita. Sekalipun ayah ku seperti itu, aku mohon agar engkau tetap berada di dalam dekapan ku dan menjadi kan aku raja di hati mu” gumam sang Raja.