
“Putri, beri aku nafas buatan mu” gumam sang Raja begitu berharap.
Putri meletakkan ujung jari di hidung Raja Permadi, sampai kira-kira lima belas menit nafas sang Raja tidak terasa.
“Raja, raja bangun! Jangan tinggalkan aku!” bisik putri.
Dia khawatir para pengawal dan dayang mendengar suaranya. Tangis putri Arska pecah menetes mengenai wajah Raja Permadi. Dia memeluk Raja bersayap itu begitu erat sampai Raja membalas pelukannya. Putri merasakan gerakan tubuh sang raja, dia melepaskan pelukan lalu menatap sang Raja yan tersenyum melihatnya.
“Jahat sekali, sungguh raja yang sangat licik” bisik sang putri mendorong tubuhnya.
Meskipun begitu raja tidak memperdulikan segala perkataan putri. Dia memeluk tubuh mungil sang putri dari belakang lalu melingkarkan sayap raksasanya menutupi tubuh sang putri. Putri meronta-ronta berusaha melepaskan pelukan namun sang raja tetap tidak memperdulikan.
“Wahai putri Arska, engkau milik ku. Maafkanlah kekhilafan ku yang membuat mu marah saat di lembah sungai jin” bisik sang raja.
“Pergilah” putri membalas tatapan Raja Permadi.
“Putri, hamba mengantarkan teh teratai hangat dari Ratu”
Suara dayang pendampingnya dari luar pintu. Dia mendorong pintu ruangan kebesaran putri. Raja Permadi menjelma kembali menjadi seekor angsa. Dayang pendamping terkejut melihat angsa putih yang kini masuk ke dalam ruangan putri Arska.
“Wahai putri, bukankah angsa itu semula berada di halaman belakang istana?” tanya sang dayang memperhatikan angsa berbulu indah itu.
“Dia angsa pintar dengan mudah menemukan ku” ucap putri Arska.
Sang dayang meletakkan teh tersebut di atas meja. DIa berjongkok mengamati rupa angsa putih yang sedikit berukuran besar dari angsa pada umumnya.
“Wahai putri, hamba rasa dia adalah angsa laki-laki. Sangat terlihat jelas dari paruhnya. Akan tetapi sang Ratu tidak mengijinkan hewan memasuki istana.”
Putri kini duduk di dekat meja, meneguk teh sesekali membuang pandangan lain karena sang Raja menatap tajam dirinya.
“Wahai raja, nakal engkau bertambah keterlaluan. Menjelma menjadi angsa dan asuk ke ruangan kebesaran ku hingga berpura-pura hampir mati” gumam putri Arska.
“Dayang, ambilkan makanan untuk angsa ku ini. Setelah itu dia akan aku keluarkan dari istana”
“Baik putri..”
Pintu kembali di tutup, Raja Permadi merubah wujudnya lagi. Dia mengulurkan tangan ke arah putri Arska. Putri tidak menyambut hanya meneruskan tegukan minuman sampai habis.
“Apakah engkau masih marah kepada ku?” tanya Raja Permadi duduk di sampingnya.
Tubuh penguasa Yaksa yang terlalu menempel dengan sayap raksasa menghalangi pandangan putri menatap berlawanan arah. Detak jantung sang putri berdegup kencang tidak menentu, dia bergetar hebat menatap segala rasa yang aneh di benaknya.
“Menjauh sedikit” ucap putri.
Raja Permadi semakin memeluk putri tanpa seijinnya. Raja perayu yang keterlaluan sesuka hati memeluk putri Arska. Pupil mata sang Putri membesar melotot, tubuhnya sangat hangat dan nyaman. Namun putri yang keras kepala itu tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
“Ya, aku masih marah akan tiga hal.”
“Sebutkan lah” ucap Raja. Tangannya kini mengusap rambut sang putri perlahan.
Tangan Raja Permadi yang kasar, banyak bekas luka akibat berperang itu bisa memperlakukan sang putri begitu lembut dan sangat hati-hati.
“Pertama, jangan lupakan bahwa kita adalah musuh dua kerajaan yang saling berperang sepanjang sejarah. Kedua, engkau telah mengingkari janji saat di lembah sungai jin dan yang terakhir adalah perlakuan nenek mu yang ingin membunuh ku” ucap sang putri.