
Amarah raja telaga hitam hingga membentuk pusara angin yang sangat kencang. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya, para jin ghaib berterbangan dari dalam telaga hitam merasuki pasukannya.
“Raja, kendalikan dirimu. Kepala pangeran Tranggala harus di kubur bersama badannya” ucap penasehat istana.
Seluruh pejabat bersujud di hadapannya. Mereka sangat ketakutan dan berharap para siluman yang kini sedang berterbangan dari dalam telaga hitam itu tidak masuk ke tubuh mereka. Hanya ada satu kali kesempatan untuk membuka pusara penghuni telaga hitam. Jika raja sudah membukanya maka itu adalah pertanda kehancuran atau kejayaan istana.
Pasukan Telaga hitam menyerbu kerajaa Yaksa. Tanpa aba-aba mereka melakukan pengeboman tembok perbatasan wilayah Yaksa dengan puluhan bubuk mesiu. Begitu pula lemparan anak panah bubuk mesiu berterbangan di udara. Dengan sekejap, setengah pasukan Yaksa terbunuh. Serangan pasukan Telaga hitam yang hanya satu kali pukulan saja sudah mematikan prajurit Yaksa. Para pasukan Telaga hitam itu di rasuki oleh jin yang keluar dari telaga hitam. Kekuatan mistis sang raja yang memiliki penjagaan dari para leluhur terdahulu telah menggunakan kekuatan pamungkas untuk berperang.
...----------------...
Putri merasakan hawa dingin yang menyelimuti tangannya, mata ghaibnya seolah menyala merasakan kekuatan ghaib yang begitu kuat sedang menyelimuti ranah jin.
“Putri, apakah engkau merasa kurang sehat?” tanya dayang pita hijau.
“Tidak apa-apa. Aku harus pergi bersama Gangga, ada hal yang penting yang ingin aku lakukan.”
“Tidak, putri tolong selamatkann aku. Raja Jati Jajar pasti akan memenggal kepala ku jika aku tidak mendampingi mu” ucap sang dayang.
“Baiklah, aku akan membawa mu.”
“Apa yang sudah terjadi?” gumam sang putri.
Sang dayang yang masih terperangah dengan pemandangan menanjubkan yang baru dia lihat seumur hidupnya itu, tidak memperhatikan bahwa sang putri sudah meninggalkannya sendiri.
“Loh, kemana perginya putri?” ucap sang dayang.
Dia sangat kebingungan, saat sang dayang memutuskan untuk kembali ke istana. Dia akan merelakan diri untuk di hukum atau di penggal sang raja atas kelalaiannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang dayang memutuskan untuk menunggu putri di bawah pohon yang rindang.
Putri bersama Gangga menuju wilayah Yaksa, hujan darah dan ledakan sudah menerbangkan potongan tubuh jin dan darah hitam yang tumpah. Ada raja Yaksa yang sedang bertarung melawan ribuan tentara yang tampak kerasukan.
“Pasti ada yang salah, aku harus mencari tau penyebabnya” gumam sang putri.
Dia menutup mata lalu berfokus untuk menggunakan mata ghaibnya.
“Putri, gunakan darah mu untuk melumuri pedang untuk membunuh pasukan arwah telaga hitam” bisik cenayang Karang.
Putri melihat asap hitam yang berada pada masing-masing tubuh sang prajurit. Dia juga mendengar suara sosok wanita yang berwujud cahaya hijau mengitarinya.