Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Cambukan


Mengantar putri ke depan gerbang kerajaan, gerakan sayap itu di hentikan oleh panglima perang yang meminta dia untuk tidak memasuki istana.


“Yang mulia, mohon untuk mengantar sang putri sampai disini. Hamba tidak ingin yang mulia mendapatkan masalah kembali” ucap sang panglima.


“Baiklah tapi jangan hentikan langkah ku lagi jika hari esok aku kembali. Jaga sang putri.”


Raja pun membentangkan sayap pergi meninggalkan istana Jati jajar. Sang putri di antar menuju kamar kebesaran, Gangga mengekor tidur hinggap di salah satu batang pohon di dekat kamar putri. Meskipun sang putri telah melukainya dia tetap setia menunggu. Di kamar kebesaran, sang putri menuju meja yang biasa tempat untuk menulis dan membaca. Tumpukan gulungan surat, daun dan bunga Allysum biru kering masih utuh. Putri menulis sebuah dekrit perjanjian perdamaian antara kedua kerajaan.


Setelah selesai menulis, dia menggulung dan meminta sang penasehat untuk meminta ijin stempel kerajaan kepada sang raja. Betapa marahnya sang raja membaca dekrit yang di berikan dari sang penasehat.


“Pengawal, panggil sang putri ke ruangan ku” perintah raja Jati jajar.


Malam tanpa istirahat, sosok putri di tempatkan di tengah ruangan kebesaran. Dia di beri hukuman lima belas cambukan dari pengawal pendamping raja karena membela kerajaan Yaksa dan ikut andil dalam membantu peperangan.


“Raja hentikan!” teriak ratu berlari memeluk sang putri.


“Lihatlah dia, aku sudah semakin tua dan dia yang akan menjadi pewaris penguasa Jati jajar. Tapi dia malah berkhianat dan membela kerajaan musuh. Wahai ratu, apakah kau mengetahui putri mu membantu peperangan sampai hampir menewaskan dirinya sendiri. Terlebih lagi, ibu suri Yaksa si wanita ular itu sudah memberi racun kepada menteri pertahanan untuk berkerja sama dengan pejabat daerah. Apakah engkau masih membela kesalahannya?” tanya sang raja mengeraskan suara.


Malam panjang, suara cambukan di punggung sang putri. Sang ratu hanya bisa menangis menyaksikan hukuman yang di berikan dari sang raja pada anaknya. Wajah pucat fasih menahan rasa sakit, setelah selesai dia di bawa ke ruangan kebesarannya. Ratu tidak di ijinkan ikut menemani begitu pula dayang pita hijau.


...----------------...


Dia terbang mengepak ke istana Jati jajar, sang raja menjelma menjadi wujud seekor angsa memasuki jendela kamar sang putri. Di samping ranjang, terlihat sang putri menangis sambil memeluk lutut. Dia sendirian gerakan tubuhnya menggigil begitu hebat. Raja menahan jelmaan agar bisa membungkus tubuh mungil itu. Dia hanya berjalan mendekati memasukkan parunya yang panjang di sela tangan sang putri.


“Raja?” ucap putri terkejut.


Raja meletakkan kepanya di kaki sang putri. Semalaman mereka bersama hingga fajar menjelang, Dayang pita hijau melihat kehadiran angsa yang sangat familiar itu. Dia tidak berani mengusir angsa tersebut sampai membangunkan sang putri. Dia perlahan membersihkan kamar, menyiapkan air hangat di bilik ruangan samping lalu menyediakan baju ganti sang putri. Setelah selesai, sang dayang kembali lagi membawakan dua gelas madu hangat di atas wadah perak.


“Dayang, jangan katakan pada siapapun bahwa ada angsa di ruangan ku” ucap sang putri.


“Baik yang mulia” jawab sang dayang.


“Tinggalkan aku sendiri.”


Putri mengusap kepala sang raja perlahan. Dia memberikan segelas madu untuk di minum bersama, rasa sakit bekas cambukan seolah terobati setelah kehadiran raja jin bersayap.


“Raja, kembalilah sebelum raja Jati jajar mengetahui keberadaan mu” ucap sang putri.


“Putri, nanti malam aku akan menunggu mu di lembah sungai jin” ucap raja Permadi terbang keluar dari jendela mendekati Gangga. Raja keluar melewati tembok berduri raksasa dengan bantuan Gangga.