Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sergah


Ibunda ratu mengerahkan semua pasukan pendamping bersama Raja yang pernah memimpin Yaksa itu mencari melewati kerumunan pawai lentera di lembah sungai jin. Kerumunan yang sangat ramai membuat mereka kesulitan bergerak lebih cepat. Kasim Jou yang masih membungkam mulut untuk tidak mengatakan mengenai kejadian dayang pendamping putri Arska . Semua atas perintah Raja Permadi yang tidak ingin putri Arska mendapatkan kesulitan atau ancaman atas kedekatannya.


Malam yang berselimut kegelapan sihir Taraya ini, persembahan untuk arwah kegelapan agar mendapatkan kekuatan yang lebih di layangkan oleh pemimpin pasukan dengan menempatkan tubuh Raja Permadi di meja Raksasa. Asap mengepul, aroma kemenyan putih bersemai mengelilinginya. Cahaya rembulan dalam hitungan detik menghilang, hanya ada obor-obor yang di pegangin oleh para pasukan Taraya dengan sorot mata merah mereka yang menyala. Semua sudah tidak sabar menyaksikan kematian Raja dan mendapatkan bagian kekuatan paling kuat dari Raja jin bersayap itu.


Salah satu dari anggota suku Taraya lebih cepat mengasah pedang raksasa yang akan di persiapkan untuk menebas leher Raja dan memotong kedua sayap raksasanya. Tawa menggelegar dan senyum menyeringai, mata melotot kepala suku Taraya menerima pedang tajam yang siap di pakai.


“Tiba waktunya! Taraya!” teriakan sang kepala suku mengayunkan pedang.


Namun pedang itu di tepis oleh jin panglima perang pendamping Raja Permadi. Dia mengikuti Raja bersama Gangga, seolah hewan peliharaan sang putri sudah mempunyai dua majikan yang setia. Sayup-sayup bola mata raja terbuka, di sekeliling yang kacau. Dia tidak bisa menggerakkan tubuh karena di rantai mantra ghaib.


“Apa yang sudah terjadi?” gumamnya.


“Taraya! Taraya!” gema suara mereka menyerbu sang panglima.


Gangga ikut membantu sang panglima, di sisi lain mantra hitam yang menjerat sang Raja perlahan memudar setelah rotasi bulan kembali normal dan bersinar. Tubuh Raja begitu lemah, dia baru saja mengalami libas kilat petir dan ikatan mantra ghaib yang menyedot energinya. Dari arah belakang raja di serang oleh jin algojo taraya, senjata duri mematikan dari hutan terlarang.


“Raja, kau akan segera keracunan! Naik ke tubuh gangga dan pergilah, aku akan menahan mereka” ucap sang panglima.


Baru saja Gangga mengangkat tubuh sang Raja berjarak 100 meter dari ketinggian. Sang panglima sudah terkena tikaman dua pedang dan satu anak panah dari belakang.


“Panglima!” seru sang Raja menyesal tidak bisa menolong sang panglima.


Suku Taraya yang memiliki jiwa iblis itu memakan tubuh sang panglima sampai tidak tersisa. Mereka juga mengejar Raja dari jalur darat dan udara.


“Gangga, lebih cepat lagi!” perintah sang Raja memegang erat tubuh Gangga.


Kecepatan Gangga yang seperti angin menyisir apa saja yang melewatinya. Ratusan anak panah di layangkan untuk Raja, Gangga semakin mengudara lebih tinggi. Untuk menghindari musuh dan menjaga agar dia tidak ketahuan menuju pura muara hijau.


Raja menguatkan diri untuk menguatkan tubuh dengan sisa tenaganya dan menyerang pasukan yang mengejar. Raja mengangkat pedang dan berputar menebas leher beberapa pasukan Taraya. Dua tebasan yang menghabisi setengah pasukan dan tebasan ketiga tidak melumpuhkan dan membunuh siapapun. Pedang raksasanya di ambil oleh kepala suku Taraya dengan mengucapkan mantra dia menyemburkan kembali rantai besi ghaib hitam. Tanpa henti sampai Raja lengah, rantai tersebut berhasil mengikat salah satu kaki Gangga.