
Tidak ada yang bisa merubah garis ruang waktu di alam jin.
"Menghadap raja, putri sedang bersama ratu jati jajar. Panglima perang mengatakan bahwa sang putri terlihat baik-baik saja. Hamba juga sudah menitipkan ramuan obat herbal" ucap pengawal pendamping.
"Aku lega mendengarnya. Sekarang engkau boleh kembali" ucap sang raja.
Persiapan pertemuan kerajaan Jaksa dan Kalingga yang di wakili oleh Pangeran Darson bersama putri Kayanya. Para pejabat dan punggawa saling menatap, mereka tau pihak kerjasama ini hanya bagian dari keinginan sepihak dari Kerajaan Kalingga. Tanah yang tandus tapi penuh harta berlimpah dan luas wilayah hasil rampasan. Kedatangan mereka di kerajaan Jaksa menjadi bumerang dan manipulasi sengketa tanah.
"Raja, tolong pikirkan kerjasama ini sekali lagi hamba mempunyai firasat yang kurang baik. Hamba mohon untuk menunda keputusan ini" bisik penasehat raja.
Raja mengangguk setuju, sebelum memberikan tanda persetujuan dari kerajaan Yaksa, sang raja meneliti isi pernyataan. Salah satu pengawal pendamping Kalingga di tunjuk untuk membaca kembali derkrit secara lantang di tengah mimbar. Sang pangeran Darson tersenyum mengusap dagunya.
“Bagaimana raja, aku sudah menawarkan tanah kekuasaan yang sangat luas bahkan hampir seluas Yaksa” ucap pangeran Darson.
“Tapi, aku harus menanyakan maksud dari garis besar keharusan gerbang utama Yaksa memperbolehkan Kalingga masuk tanpa menujukkan simbol kerajaan. Aku tidak bisa menerima karena hal ini menyangkut keamanan dua negara” Raja Permadi menerangkan.
“Raja perjanjian ini berbanding sama rata? Bagian mana yang tidak bisa engkau panen dalam ruas wilayah yang bergelimang hasil kekayaan alam” ucap pangeran Darson.
Kebohongan pangeran Darson seolah ingin mendeskripsikan betapa makmur tanah Kalingga. Raja Permadi mengamati gerakan pangeran yang mencurigakan. Dia menunda perjanjian, keputusannya hanya ingin bisa mendapatkan setengah wilayah yang di kehendaki, begitu pula setengah wilayah yang di kehendaki oleh pangeran Darson sebagai kerjasama antar dagang dan rute peperangan.
Semua rakyat kedua kerajaan harus tetap melewati pembatas gerbang dan tetap menunjukkan simbol kepemelikian kerajaan.
“Aku akan membunuh mu raja hewan bersayap!” gumam sang pangeran.
Penundaan keputusan, dekrit emas itu tidak di tarik oleh sang pangeran. Mereka memutuskan untuk pulang dan memberikan batas keputusan dari sang raja dalam jangka waktu tiga hari.
...----------------...
Di kerajaan Jati Jajar
Puluhan jin prajurit ninja masuk menerobos istana, keahlian mereka dalam seni bela diri mengayunkan pedang menebas semua para penjaga di pintu masuk. Mereka adalah utusan ibu suri, sosok nenek yang sudah di asingkan itu tetap menjadi hama bagi kerajaan Jati jajar.
Dia mengerahkan semua sisa kekuatan untuk melancarkan rasa dendam. Kedatangan salah satu sosok ninja tersebut di ketahui oleh pengawal pendamping sang putri. Perkelahian di depan kamar kebesaran terlihat dari balik sela pintu yang sedang di intip oleh dayang pita hijau. Dia ketakutan berlari memberitahu kepada sang putri yang sedang terlelap akibat menelan ramuan obat dari sang raja.
“Putri bangun, ada penyusup di luar” ucap dayang pita hijau.
Setengah bola mata putri terbuka menahan rasa kantuk bercampur pusing. Dia tidak bisa melawan reaksi obat. Di depannya sudah berdiri sosok jin ninja yang menegakkan pedang bersiap menghunus tubuhnya.
“Arggh!” jerit sang dayang.