
Semua duka belum berlalu dan pergi
Aku bertekad tanpa kenal arti kata lelah mencari dan menunggu
Ketahuilah segala harapan ku ini hanya untuk mu
Sekalipun harus mengorbankan diri
Langkah ku terasa ringkih bersama jalan yang berliku
Hari ini aku masih belum menemukan mu
...💙💙💙...
Penguasa yang begitu kesepian menjalani detakan waktu yang berlalu. Bagaimana dia bisa melewati semua ini tanpa putri Arska di langit yang tidak lagi sama?
Sifat asli putri Helena yang kejam dan membunuh siapapun yang dia kehendaki. Setelah puas mengeluarkan semua isi organ tubuh sang dayang, dia memerintahkan pengawal untuk membuang jasad dayang pendamping putri Arska begitu saja. Tanpa di semayamkan atau di kubur ke dalam tanah. Gerakan tangan gemetar pengawal yang mengangkat potongan anggota tubuh dan organ dalam sang dayang sambil menahan mual ingin memuntahkan isi perutnya akibar tidak tahan mencium bau bangkai. Jasad itu sudah di otopsi sebanyak empat kali selama dua hari, baju peninggalan sang dayang tidak menunjukkan informasi apapun sekalipun simbol kerajaan atau identitas wilayah jin.
Terpaksa sang pengawal membuang potongan tubuh dan isi organ itu ke dalam lubang sampah kerajaan lalu membakarnya. Bau daging panggang bercampur anyir mengelilingi sekitar kerajaan sampai memasuki isi dalam istana. Beberapa anggota kerajaan saling bertanya mengapa aroma masakan makan malam begitu menyengat anyir bersama aroma daging bakar.
“Apa yang sudah kau lakukan disini? Bukan kah batas tempat untuk pasukan gurun sudah di sediakan oleh panglima perang di dekat benteng kerajaan?” tanyanya mendengus memperhatikan sambil bakaran.
“Aku hanya membakar sampah”
Dia langsung berlari meninggalkan sang pengawal lalu menuju kerumunan pasukan gurun.
Sementara di ruang peristirahatan, sang kasim mondar mandir melihat Raja yang dari tidak melakukan gerakan apapun. Dia tetap duduk dan menatap tiga tanda giok di atas meja, salah satu giok yang sangat menyayat hatinya adalah milik kepunyaan putri Arska. Sang kasim menghampirinya dan memberikan secangkir teh hangat.
“Raja, engkau tampak sangat kelelahan, silahkan di minum the ini untuk menenangkan sedikit pikiran mu”
Mendengar perkataan sang kasim, Raja Permadi mendorong cangkir tersebut lalu gerakan isyarat kibasan tangannya meminta dia untuk meninggalkan ruangan.
“Bagaimana aku bisa meneguk satu tegukan air sementara putri ku sedang menderita di dalam hutan” gumam Raja kembali memperhatikan giok sang putri.
Saat mendengar pintu ruangan terbuka, Raja langsung menyimpan giok-giok yang berjejer di atas meja lalu menyambut kehadiran ibu suri. Meski beliau begitu kejam dan mempunyai niat jahat kepadanya tetap saja di mata Raja sang ibu suri adalah nenek yang harus tetap dia hormati dan kasihi. Raja membungkuk lalu memberi hormat, tapi sikap ibu suri semakin angkuh merasa dirinya yang pantas paling berkuasa dan mengatur segala urusan istana.
“Raja, kenapa engkau masih disini? Dimana harga diri dan rasa hormat mu dalam memperlakukan tamu? Terutama raja Gurun sudah melepaskan sang pewaris kerajaan untuk Raja Yaksa. Pikirkan lah secara matang dengan mempersunting ratu Helena maka kekuasan kita akan semaki luas.” Ucap ibu suri menyeringai.