Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Raja menjalani hari baru


Embun pagi basah menyapa dunia sang raja Yaksa. Membuka mata, menghirup udara di alam manusia lebih segar terasa. Bunga warna warni bermekaran di halaman rumah. Raja melirik bunga-bunga indah itu membayangkan wajah putri Arska akan tersenyum melihatnya.


"Putri, aku merindukan mu" gumam raja Permadi.


Hari ini musim hujan mengguyur deras wilayah kota B. Raja Permadi membuka pintu, dia berniat melakukan perjalanan mencari putri Arska. Tapi tiba-tiba dari arah belakang Kasim Jou menarik lengannya. Di kehidupan ini, sang Kasim lebih leluasa dan sangat dekat dengan raja.


"Yang mulia, di luar sedang turun hujan. Pakailah ini, engkau akan menjadi bahan perbincangan para manusia jika berjalan di tengah derasnya hujan" ucap Kasim Jou menyodorkan payung berwarna hitam.


Sang Kasim membuka lebar payung, memberi petunjuk kepada sang raja untuk memakainya. Raja hanya terdiam, mengikuti gerakan sang Kasim lalu berjalan keluar.


"Tampan sekali.." ucap salah satu wanita yang sedang berdiri bersama teman-temannya di halte bus.


Mereka tersenyum berbisik melihat raja Permadi. Namun raja tampak acuh tidak menghiraukan mereka. Pemberhentian bus menuju jalur perbatasan, raja naik masuk ke dalam lalu mencari posisi duduk. Di dalam sana, para wanita yang dia jumpai di halte ikut naik dan tersenyum meliriknya. Berjarak beberapa menit, bus berhenti menepi di pinggir jalan.


"Hei tuan, anda belum bayar" ucap supir bus melihat raja Permadi.


"Ternyata pria tampan itu tidak mempunyai uang sepeser pun!" seru para wanita turun dari bus mendahuluinya.


"Aku penguasa Yaksa, kekayaan yang aku miliki akan membayar mu dua kali lipat" ucap sang raja bersikeras untuk turun.


"Jika engkau penguasa Yaksa maka aku penguasa alam Semesta. Jadi bayarlah karena aku sangat sibuk hari ini" ujar supir bus melotot.


"Terimakasih non.." ucap supir bus mendorong raja Permadi untuk keluar.


Ketika melihat wanita itu, detak jantung raja memompa sangat kencang. Ada perasaan hangat mengalir di darahnya. "Dia bukanlah putri Arska, kenapa aku terkesan menjadi jin penghianat!" gumam raja Permadi.


Pandangan raja melihat wanita itu berjalan di bawah derasnya hujan. Raja yang tidak mengenalinya mengurungkan niat membalas kebaikannya tadi dengan menawarkan payung miliknya. Berjalan berdua bersama wanita lain, raja Permadi tidak ingin putri Arska terluka atau kecewa.


Perbatasan kota terdapat gedung pencakar langit yang tinggi dengan jarum jam raksasa di atasnya. Raja naik ke bangunan paling atas mencoba mengepakkan sayap raksasanya untuk mengudara.


"Terbang di atas langit, deras hujan akan menutupi pandangan para manusia melihat ku mengudara" gumam raja Permadi.


Di atas atap, Raja Permadi membentang sayap. Tapi keanehan pada sayapnya dia rasakan terlalu kaku dan begitu berat.


"Aku harus mencobanya" gumam raja Permadi.


Dia berdiri di ujung gedung membentang tangan bersiap melompat. Dari arah belakang suara wanita mengagetkannya.


"Paman! apa yang akan engkau lakukan disana?" ucapnya melihat raja.


Suara yang sama di masa lalu, sosok kekasih yang dia cari sampai mengalami reinkarnasi terakhir. Tapi raja masih ragu siapa wanita yang ada di hadapannya.