
Menjelang matahari terbit, kicauan suara burung di hutan membangunkan cenayang Karang. Dia begitu sekarat menahan rasa sakit setelah tubuhnya terlempar ke dasar jurang. Seharusnya jin itu sudah mati, perut sebelah kirinya mengalami pendarahan akibat tertusuk dahan ranting yang keras. Karang menekan luka di perut dan meringis kesakitan, dia berusaha bangkit dan meraih akar-akar pohon sebagai penyangga tubuh. Dengan seluruh kekuatan, dia memanjat tebing berusaha menaiki pangkal jalan menuju keluar hutan. Wajah sudah memucat, kaki bergetar memaksakan memijak kokoh berjalan sambil sesekali memuntahkan dara. Sampa hari ini, cenayang Karang masih menjadi buronan di dua kerajaan.
“Itu dia!"Teriak salah satu prajurit jati jajar.
Tarikan anak panah menuju kaki kanannya, sang Cenayang hampir lumpuh seketika. Dia menarik baju salah satu jin yang melintas dengan mengendarai kuda di jalan.
“Tolong, tolong selamatkan aku!” belum sempat dia meraih ujung bajunya, tubuh si cenayang terbanting ke atas tanah.
Dia tidak sadarkan diri dengan mendengar suara tapak kaki kuda yang sudah pergi berlalu. Cenayang di bawa dengan tandu oleh para prajurit jati jajar. Namun saat di pertengahan jalan, mereka di sergah oleh ibu Suri dan para panglima perang. Di situasi ini, jumlah prajurit jati jajar sangatlah sedikit, terhitung di belakang para panglima Yaksa berderet jin algojo raksasa yang siap menebas dengan kampak di pundak mereka.
“Kalian pilih hidup atau mati? Cepat serahkan cenayang itu atau dalam hitungan satu detik kepala kalian akan di penggal!" Bentak ibu Suri sambil melipat kedua tangannya.
Kelima jin prajurit Jati jajar tetap menyerang mengangkat senjata mereka, sampai jin algojo berhasil memenggal habis semua kepala mereka. Percikan darah prajurit Yaksa yang mengenai tubuh cenayang Karang membuat sihir ghaib yang berasal dari tubuh cenayang bangkit. Bagian sisi ilmu hitam cenayang bangkit mengeluarkan asap putih mengepul membungkus tubuhnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya ibu Suri mendekat.
Dengan sekejap luka yang berada di tubuh cenayang sembuh tidak berbekas.
“Cepat bawa dia ke penjara bawah tanah! Bisa saja dia menggunakan kekuatannya untuk membunuh kita!”
Di penjara kerajaan Yaksa.
“Hanya sepuluh menit saja” bisik salah satu algojo.
Dia membukakan pintu masuk ke sel tempat cenayang Karang di kurung. Kedua cenayang yang saling bertatapan, isak tangis cenayang Han melihat kaki dan tangan cenayang karang di rantai oleh besi raksasa. Bajunya masih basar berlumur darah. Cenayang Han memeluk Karang, dia menggenggam tangannya dan menundukkan wajah.
“Ayo pergi bersama ku! Kita bias menggunakan kekuatan ghaib dengan jubah yang aku bawa.”
“Tidak, kau harus menyelamatkan bulan yang sedang tertutup malam agar Negara wijaya kesuma tidak hancur dan porak poranda. Dia juga membutuhkan matahari yang sedang pergi, agar bisa menggantikan malam menjadi siang” ucap cenayang Han melemah.
“Siapa maksud mu?”
“Temui jin putri mahkota yang bermata besar tajam menyimpan cakra ghaib, dia sedang tertidur. Rembulan yang di telan malam.”
“Lalu untuk mereka bersatu jika keduanya di takdir kan dalam masa yang berbeda?” Tanya cenayang Han mengerutkan wajah.
Tiba-tiba sosok jin algojo mendorong tubuh cenayang Han keluar dari sel Karang.
“Tunggu, Karang beri aku petunjuk atau aku akan ikut mati bersama mu!” teriak Han mengguncangkan pintu penjara.
“Pergilah, waktu ku udah hampir habis!”