
Luluh lantak suatu kerajaan itu jika suatu pemimpin tidak bisa menjaga perdamaian dan menetapkan pikiran pada apa yang telah di putuskan. Dia sudah di beri amanat dan kepercayaan untuk segera menikahi putri Helena. Kabar itu sudah tersebar di segala penjuru. Sampailah pada hari ini, dayang ming mengabarkan berita itu membuat dayang utama mendengar dan langsung menyampaikan pada putri Arska.
“Benar apa yang sudah kau dengar? Apakah kau bisa mempertanggung jawabkan segala perkataan mu?” tanya putri masih menyisir rambutnya di depan cermin.
Kemarin baru saja keduanya bertemu dan saling beradu pandang. Bekas pijakan kaki dan dan jejak tanda setapak yang di lalui menaiki bukit belum memudar.
Sekarang panas matahari membakar kulit dan menghanguskan sebagian kelopak bunga alyssum biru di guci antik yang berada di atas meja rias sang putri. Sisir perak terlepas jatuh ke lantai, sontak dayang ming buru-buru mengambilnya dan meletakkan kembali ke tangan putri yang sudah mengerutkan dahi.
...----------------...
Bila ku lukis kepakan sayap mu yang besar itu
Jemari ku bergetar tidak dapat mengayunkan pasti kuas cinta akan dekapan mu
Lagi-lagi kau dating memeluk ku dan mengusap jantung penenang jiwa
Namun, nasib masih mengejar mu untuk berpisah dari ku
Pancaran sinar langit dunia jin telah terbentang mengabarkan janji mu
Engkau mengucap lantang dengan meneteskan darah tepat di denyut nadi ku
Titah Raja kedua Yaksa:
“Telah aku kumandangkan pada langit, seutuhnya cinta ini untuk putri Arska yang aku cintai. Sumpah sehidup semati hanya untuk mu wahai putri darah biru sang penakluk hati ku. Aku mencintai mu.”
“Apakah yang sudah terjadi? Siapa yang sudah mengubah garis edar haluan tata surya?” gumamnya risau menghentikan persemedian.
Raja Permadi terbang menuju lembah sungai jin dan memastikan pertemuan kali ini akan menjadi ingatan sang putri untuk selama-lamanya. Lama sekali dia menanti, sampai dia terlelap saat bersandar di salah satu pohon raksasa tua yang berada di dekat tepi sungai.
Syuhhh…
Cakar kaki gangga mendarat di atas tanah.
Kehadiran putri yang tidak di ketahui oleh sang Raja yang sudah tertidur pulas. Pemimpin yang kuat dan berkuasa itu tampak tidak berdaya. Seluruh pikiran dan hatinya melemah untuk terus menerus memikirkan putri Arska. Perlahan sang putri menghampiri raja, dia menyeret gaun panjang dan mendekat.
Akan tetapi, tiba-tiba ada bisikan roh jahat untuk meminta perdamaian dan kemenangan bagi kerajaan jati jajar. Dia sedang berusaha mencuci pikiran putri untuk segera menghunus pedang yang berada di pinggang Raja.
“Wahai putri, kau adalah putri mahkota harapan rakyat jati jajar. Sekarang pilihlah untuk mematahkan sayap Raja itu atau menebas kepalanya!” bisik roh jahat.
Darah segar yang para roh tunggu, mereka terus membisikkan untuk mencapai kehendaknya.
“Hih, hih…” bayangan roh halus mengitari tubuh sang putri dan terus memaksa.
“Bunuh lah dia, habisi dia! Kalahkan kerajaan Yaksa!”
Para roh menggerakkan tangan putri dan menarik pedang milik Raja Permadi.
“Tidak!”