
Pintu hitam raksasa, sekeliling di kelilingi oleh asap putih mengepul dengan aura mengerikan di sekitarnya. Putri Arska yang sedang berada berada di dalam alam bawah sadarnya, melihat pintu jin untuk jalan keluar dan masuk ke alam lain itu pun terbuka lebar. Dia merasakan energi ghaib telah menghilang dari dalam pintu yang telah terbuka itu.
“Apa yang akan terjadi?” gumam sang putri.
Di sela rasa sakit akibat bekas luka yang dia derita, putri mengalami demam kembali. Dayang pita hijau tanpa sadar menjatuhkan secangkir teh hangat ketika melihat wajah pucatnya. Dayang langsung berlari mencari bantuan. Pengawal pendamping putri yang mendengar sang putri kembali sakit langsung beranjak dari ruang peristirahatannya mencari sang putri berada.
“Putri bertahan lah, akan memberitahu kepada raja yaksa” ucap sang pengawal pendamping.
Pandangan mata putri yang terbuka dengan pandangan kabur, dia hanya melihat sang pengawal tanpa membalas perkataannya. Sang pengawal keluar istana, dia tidak memperdulikan jahitan dan luka di tubuh. Di malam yang larut, sang pengawal tiba di depan gerbang istana Yaksa.
Alangkah malangnya dia di sambut buruk oleh para prajurit pengikut ibu suri yang bergantian bergantian bertugas di depan gerbang Yaksa. Dia langsung di hujani puluhan anak panah, hampir saja salah satu anak panah itu menembus jantungnya. Serangan dan berbagai macam cara yang di lakukan oleh prajurit pengikut ibu suri itu untuk menangkap dan melumpuhkan sang pengawal putri.
Sampai akhirnya di menit terakhir, dia menyalakan sinyal dari sebuah benda milik sang putri untuk memanggil raja Yaksa maupun pasukan hewan bersayap.
Para prajurit pengikut ibu suri itu ketakutan melihat kedatangan sang raja, senjata mereka berterbangan di udara saat sayap jin raksasa itu mengepak dengan sangat kuat. Begitu pula kedatangan para kanan hewan bersayap yang mengelilingi mereka.
“Ampun yang mulia!” ucap salah satu dari mereka.
...----------------...
Raja Yaksa membawa pengawal pendamping menuju ruangan kebesarannya. Dia memperhatikan bekas luka di tubuh sang pengawal sedikit terkoyak. Dia pun meminta kasim memanggil tabib tapi sang pengawal menghalangi.
“Raja, hamba sangat mendesak. Hamba hanya ingin menyampaikan bahwa putri Arska sedang sekarat dan kesakitan. Dia mengalami demam tinggi, tampaknya kondisi ini sangat serius dari sebelumnya” ucap sang pengawal.
“Kalau begitu segera kembali lah ke istana, kau harus berhati-hati jangan sampai ada yang mengikuti mu. Aku akan menuju pura muara hijau untuk mencari penerangan kepada jin cenayang” pinta raja Permadi.
“Baik Yang mulia, hamba mohon pamit.”
Perihal semua hawa negatif yang di terima sang putri, itu semua ada kaitannya pada suku Taraya yang masih mengincar mata ghaibnya. Terutama misi pemotongan sayap raja Permadi untuk meningkatkan ilmu dan senjata yang belum terpenuhi dari setiap masehi. Mereka yang tidak pernah binasa ibarat iblis di muka bumi. Incaran dan serangan yang paling gampang terkena adalah sang putri yang memiliki hubungan ghaib akan antara sisi hitam dan sisi yang selalu di abaca lewat segala mimpi dan penglihatannya.
Raja mengepak sayap ke pura muara hijau. Dia hafal bagaimana cara memasuki wilayah garis suci tersebut. Tanpa aba-aba dan komando dari penjaga pura, sang raja melepas baju zirah dan senjatanya di depan pintu masuk.