
Gigitan tajam dari putri Arska, pundak sang raja sudah mengeluarkan darah. Putri memukuli tubuhnya namun raja tidak melepaskan. Di bawah pohon dekat lembah sungai, raja menatap sang putri dengan tangan mengunci tubuhnya.
"Wahai putri, cinta Biru kita tidak akan sirna. Hari ini aku akan mengatakan kepada dunia bahwa tidak memilih salah satu calon pun sebagai Ratu Yaksa. Engkau harus mempercayai ku" raja Permadi mendekap membiarkan sang putri terus menolak.
"Aku akan segera kembali dimana hari berlanjut tepat di lembah sungai jin" ucap raja Permadi kembali.
Dia mendaratkan sentuhan di dahi putri Arska. Kegiatan itu membuat gerakan putri terhenti. Fajar sudah menyingsing di ufuk timur, sang raja mengantarkan putri kembali menuju istana. Sepanjang perjalanan sang putri hanya terdiam, raja masih mendekapnya di udara. Sikap sang putri membuat hati raja Permadi merasa tidak tenang.
"Putri, sebelum kembali ke istana aku akan menyayat tangan ku ini agar tidak dapat membalas salam mereka. Lalu tidakkah engkau ingin memberikan aku seuntai kata saja? maafkanlah aku" ucap raja kembali.
Beberapa jarak dari kerajaan Jati Jajar, mereka mendarat bersama Gangga yang dari tadi mengikuti dari belakang. Sesuai perkataan sang raja, dia menarik pedang di pinggang lalu menyayat tangannya. Luka dan darah mengalir di pedang itu. Putri melotot menahan darah yang terus mengalir dengan jubahnya.
"Raja, aku tidak meminta mu melakukan hal seperti ini" putri membersihkan darah lalu membalut tangan jin penguasa Yaksa itu dengan jubahnya.
"Putri, aku rela mati di tangan mu jika engkau tetap menganggap aku sebagai musuh. Sekalipun sekarang masuk ke dalam gerbang benteng dan di bunuh oleh Raja Jati Jajar" ucap raja Permadi.
"Tidak, bagiku bertemu dan masih menjalin ikatan pada mu di masa kini seharusnya berusaha menjalani bersama walau terasa sakit"
setelah mendengar perkataan sang putri, Raja kembali memberi jejak di dahinya.
Putri naik ke tubuh Gangga meninggalkan Raja Permadi pulang ke istana. Raja mengamati putri sampai masuk ke istana.
...----------------...
Di dalam halaman istana jati jajar ramai di kunjungi oleh pasukan telaga hitam. Pangeran Tranggala meminta maaf atas perbuatannya di masa lalu kepada raja Jati Jajar. Dia membawa banyak hadiah memenuhi setengah halaman istana dengan berpuluh hewan yang ada disana.
Peti-peti yang berisi perak, perhiasan, barang antik, hasil panen rakyat, berpuluh ekor kuda, sapi, biri-biri dan keledai. Pangeran berlutut di begitu lama, putri pangeran Tranggala berlutut di depan gerbang istana. Tiada maaf untuk seorang penghianat, pintu hati raja sudah tertutup untuknya. Langkah kaki putri Arska melewati pangeran Tranggala, sang putri tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Semua pemberian dan hadiah itu tidak sebanding dengan ulah pangeran Tranggala.
Di Kerajaan Yaksa
Pergelaran acara pencarian calon putri mahkota sebagai ratu Yaksa telah di mulai. Pagi yang cerah. Para dayang tampak sibuk menyusun dekorasi agar lebih terlihat sempurna sesuai keinginan ibu suri. Para koki istana kesana-kemari meminta kasim membeli bahan-bahan yang kurang. Permintaan ibu suri yang berubah-ubah secara mendadak banyak meminta berbagai macam menu makanan dan minuman untuk di hidangkan.
Dapur yang mengepul, asap yang berterbangan dari cerobong pembakaran. Harum aroma makanan yang mengunggah indera penciuman para tamu.
..._The next episode_...