
Semua para cenayang masih melakukan perkumpulan di ruang persemedian. Saat raja memasuki aula pura, tempat itu tampak sepi, dia mendengar suara dari ruangan lainnya. Saat langkap kaki yang menyeret sayap raksasanya mendekati pintu, raja di dorong oleh dua orang penjaga wanita yang mengarahkan cemeti ke arahnya.
“Tolong, ijinkan aku bertemu dengan kepala cenayang” ucap raja.
“Tidak bisa raja, engkau harus menunggu hingga mata hari tenggelam” jawab mereka datar dengan wajah amarah.
...----------------...
Raja duduk di lantai Aula sambil menunggu waktu itu tiba. Di dalam pura, suasananya begitu dingin dna sejuk. Lantai bening bisa memantulkan bayangan sendiri dan berkaca di atasnya. Sekitar pura terdapat pepohonan sejuk terdapat aliran air kolam keabadian yang mengalir di belakangnya. Tanpa terasa, raja Permadi tertidur hingga dia bermimpi sedang berada di suatu tempat yang aneh.
“Raja, itu kah kau?”
Asap hijau menggulung di sekitar kolam.
Raja berjalan menghampiri kolam itu, dia melihat begitu banyak kekuatan magis yang sedang berkumpul dengan membentuk sinar di dalam air yang berwarna hijau. Semula raja enggan menyentuh air tersebut, sampai ada satu tangan dari dalam kolam yang menarik tubuhnya. Sedikit lagi dia masuk ke dalam air, jika asap hijau tidak langsung membawanya melayang menjauh dari kolam.
“Siapa kau?” tanya raja Permadi.
“Aku adalah jin di masa kini dan lalu, pengubah peradaban di lembah sungai jin untuk membuka cangkang ghaib dalam mengganti revolusi. Aku lah pembaca siang dan malam” ucap asap hijau membentuk sosok jin berpakaian cenayang.
“Apakah engkau hantu penghuni pura? Kenapa kau menarik ku tadi ketika akan masuk ke dalam kolam? Bisa saja aku menemukan obat untuk putri Arska di dalam sana” ucap sang raja kembali mendekati kolam.
“Raja, itu adalah kolam keabadian. Siapapun yang memasuki tanpa menggunakan ritual meminta kehidupan abadi maka dia akan menjadi korban.”
“Katakan, bagaimana aku bisa mencari obat untuk putri Arska?”
“Raja, kau belum menyelesaikan reinkarnasi ini dengan sempurna. Apakah engkau ingat ramuan yang di berikan oleh cenayang Han tidak kau minum semuanya? Kini kau berada di tengah takdir sakit dan bahagia. Akulah yang membantu mu bersama kekuatan cenayang Han yang berasal dari ku.”
“Siapa kau sebenarnya?” tanya raja sedikit terkejut melihat perubahan wajah cenayang yang mengerikan.
“Aku adalah cenayang Karang. Sosok cenayang yang di bunuh oleh ibu suri Yaksa. Dia membunuh ku dengan sangat kejam!” nada suara keras menggema di udara.
Angin menggulung kencang, raja Permadi memasuki putaran dunia ghaib. Dia berdiri menyaksikan kejadian pembunuhan sosok cenayang yang Karang. Darah yang terlepas seakan nyata, mengenai ujung sayap raja Permadi. Sang raja seakan tidak percaya melihat sang nenek mempunyai sifat pembunuh berdarah dingin tidak berperasaan. Ujung sayap raja yang terkena darah tiba-tiba berubah menjadi api yang membara.
“Arghh!” jerit sang raja.
Raja di siram oeh para cenanyang yang mengelilinginya. Ketika dia sterbangun, ujung sayap terlihat seperti habis terkena bakaran. Dia melihat langit telah gelap, raja sadar bahwa mimpinya tadi adalah nyata.
“Raja, apa yang kau inginkan dari pura ini?” tanya kepala cenayang.
Dia di giring oleh cenayang lainnya menuju kolam keabadian. Di samping kolam itu terdapat cenayang Han yang tersenyum melihatnya.
“Raja, kau pasti sudah bertemu Karang” gumam cenayang Han.