Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Perjuangan


Kimia Cinta


oleh Pangeran Permadi


Tentang Senyawa oksigen yang saling berikatan satu sama lain


Seorang putri jin semungil bunga edelweiss


Putri kerajaan yang bergerak semu seperti kelopak bunga indah


Meruntuhkan keras hatiku utuh kepadanya dengan kekuatan melebihi limpahan kekuatan oksigen di lembah ghaib


Saat itu, Aku


Bagai serbuk besi


Terbang melayang kearahnya dengan segenggam besi sembrani tanpa henti


Dengan tarikan yang kuat, melekat tidak terpisah


Hati ini


Terus terhempas melanggang dari langit membentang ukiran nama mu


Itu adalah cinta terakhirku.


...💙💙💙...


Di ruangan kerajaan putra mahkota tampak pangeran Permadi tersenyum di kulum tawa tak jadi. Sedang kasim jin merah dengan mata menyala masih berdiri berjaga di samping mengamati tulisan pangeran yang masih memainkan tinta perak di atas kertas serabut. Dia sudah berjam-jam berusaha kaku mengukir rangkaian kata indah dengan jari-jari tangannya yang kekar.


“Badar, kau tau siapakah bunga edelweiss yang aku maksud di sini?” tanya pangeran menunjuk huruf dengan hati-hati.


“Maaf pangeran, aku hanyalah jin kasim yang setia kepadamu tanpa bisa mengetahui makna yang tersirat” jawab Badar menundukkan kepala.


“Ahahah..” gema tawa pangeran melihat Badar sambil menggulung kertas tersebut.


Dia memasukkan salinan tulisan ke sebuah gulungan bambu bersiul memanggil Tarangga. Tarangga sejenis burung hantu besar berwarna abu-abu. Dia menyelipkan gulungan ke kaki Tarangga lalu menghempaskan Tarangga dari atas menara.


“Permisi pangeran, anda di panggil ibu suri ke Aula istana.”


Mendengar perkataan dari panggilan, pangeran berjalan menuju Aula di ikuti para dayang istana. Singgasana sudah di duduki oleh raja dan ratu. Mereka tersenyum melihat pangeran permadi memberi hormat kepada keduanya.


“Silahkan duduklah..” ucap Raja mempersilahkan ke kursi kerajaan.


“Perihal kewajiban yang harus di emban sebagai penerus raja, maka pencarian kandidat putri mahkota untuk pendamping putra mahkota akan di selenggarakan pada pergantian matahari tepat di atas kepala bangsa jin. Demikianlah petisan yang di sampaikan secara terbuka di depan para aparat kerajaan” Tutup sang menteri memberikan petisan kepada Raja.


“Baiklah, kepada para pejabat istana yang setuju dengan petisan ibu Suri, silahkan angkat tangan” ucap Raja menatap tegas ke depan.


Sementara pangeran permadi mengepal tangan dengan kuat, dia belum siap bila harus membuang kuntum ranum yang sudah dia pilih jauh hari. Para aparat istana secara delapan puluh persen mengangkat tangan persetujuan petisan. Lalu seorang pejabat meminta ijin menyampaikan pendapat.


“Raja, tolong penuhi keinginan kami, untuk memperkuat kedudukan pangeran” ucap sang pejabat dengan membungkukkan tubuh.


Raja mengangguk kepala tanda setuju dan meraih stempel kerajaan. Segala persiapan di susun oleh ibu suri. Dari balik tirai singgah sana dia tersenyum menarik sudut bibir dan menepuk wajahnya agar tidak berkerut.


Pangeran, aku akan mencari putri mahkota yang dapat merawat kecantikan ku agar aku tetap awet muda dan berlimpah ruah tahta, gumam ibu suri melempar manik netra ke arah pejabat kementrian pertahanan dengan segala rencana yang dia susun.


Setelah pertarungan sengit dengan Arska tadi malam, hati pangeran berkecamuk menunggu kabar tentang surat yang di bawa oleh tarangga. Dia tidak bisa keluar istana karena besok adalah acara pemilihan putri pendamping putra mahkota. Pangeran mencari cara untuk mengelabuhi para dayang dan kasim yang mengikuti dari belakang dengan menuju kamar peristirahatan.


“Hei, apakah kalian juga ikut tidur di sampingku? Dan kau Badar keluarlah, aku ingin beristirahat sendiri.”


Perintah pangeran melotot menutup pintu.


Mereka semua diluar kamar berjaga, Kasim istana itu menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar apakah pangeran benar-benar tertidur.


Pangeran jin mengetahui pergerakan para anggota istana dengan merubah diri sebagai burung merpati, kembali menuju kamar dari membunyikan suara dengkuran palsu untuk meyakinkan mereka. Setelah situasi aman terkendali, pangeran cepat-cepat merubah diri menjadi seekor angsa menuju kerajaan jati jajar. Seekor angsa putih berbulu indah dengan setangkai bunga peoni merah bela yang dia gigit di mulutnya. Putri Arska tampak sendirian di lembah sungai jin yang sedang berlatih memanah bersama Nanjam dan Gangga.


Jelmaan angsa yang menggericau terbang mendekati kaki tuan putri Arska. Aroma harum tubuh putri jin yang membuat pangeran lebih mendekat tepat di depannya.


“Putri lihatlah angsa yang cantik ini” Nanjam mengusap kepala angsa yang sibuk mengelilingi kaki putri Arska.


“Sebentar lah aku masih ingin memainkan anak panah, berani sekali dia mengirimkan burung hantu untuk membawa lagi surat tipuan perang!” seru putri Arska mengabaikan angsa putih yang masih saja mengganggu.


Putri Arska melirik kebawah dan tersenyum kecil mengamati keelokan angsa langkah dengan mata tajam yang seolah menatapnya.


“Hewan siluman menjauh lah atau aku akan memakan mu” Putri Arska menggerakkan busur anak panah ke arah angsa putih.


Putri, begitu kejam kah kau! Gumam pangeran Permadi di balik jelmaan angsa putih yang berpikir akan mati konyol akibat memuja putri jin dari musuh kerajaan.


Putri Arska melepaskan anak panah tepat di samping tubuh Angsa putih. Jelmaan angsa yang menaikkan salah satu kaki dengan bergetar.


"Aku hanya bercanda wahai siluman angsa, ada apa gerangan kau menjumpai ku?"


Putri, apakah kau tau siapa aku? batin Pangeran berjalan menjauh dari sang putri.


"Aku tau siapa kau.."