
Bermilyar pertanyaan dan jawaban yang sama untuk permaisuri di hati raja Permadi.
Cinta, tidak hanya tentang berdua melabuhkan rasa.
Wahai raja, aku tidak akan pernah mengetahui isi kepastian hati mu. Keraguan menghalangi jalan kita untuk menjalin ikatan pasti di tengah pertempuran berdarah sepanjang abad.
Aku masih mengingat semua janji mu, bahkan setiap kata yang engkau ucap bagai memori yang sudah tersimpan rapi di dalam ingatanku.
Wahai raja Yaksa, kerlingan menggoda itu seakan memperluas wilayah di hati ku untuk engkau tempati.
Beberapa hari ini, raja Permadi dan putri Arska selalu bertemu di danau teratai. Hari ini ada sesuatu yang mengganggu pandangan jarak raja menatap putri dari kejauhan. Sosok dayang terlihat olehnya sedang mengendap-endap mengikuti putri. Dia memakai penutup wajah yang sengaja dia pasang untuk mengikutinya.
“Raja, apa yang sedang engkau lihat? Bersusah payah aku menghindari pertemuan kepada para punggawa hanya untuk menemui mu. Tapi hari ini engkau memasang raut wajah begitu. Aku akan pergi lagi, ini adalah pertemuan terakhir kita” ucap sang putri berbalik arah berjalan meninggalkan raja Permadi berwujud angsa putih.
Setelah melihat dayang itu pergi. Raja buru-buru berubah wujud semula, dia terbang mengejarnya namun di gagalkan oleh kehadiran jin kasim mengikuti jalan sang putri.
“Kenapa amarah mu belum reda? Bukankah sudah beberapa hari ini aku sudah menunjukkan ketulusan ku?” gumam Raja kembali ke wilayah Yaksa.
Kunang-kunang di malam hari membawa penerangan di halaman wilayah Yaksa. Mereka membentuk sebuah jalan perlahan di ikuti oleh raja Permadi yang sedang duduk di tepi titi memandang ke sebuah bukit. Lembah sungai jin masih tetap sama seperti ribuan tahun lalu, bahkan perasaannya kepada sang putri juga tidka pernah berubah sepanjang Zaman.
“Kemana perginya kunang-kunang ini?” gumam raja.
Tanpa terasa langkahnya terhenti sampai di pinggir lembah sungai jin. Di depan sana ada Gangga bersama putri Arska. Sontak hati raja sangat bergembira terbang menangkap tubuh mungilnya.
“Maafkan aku yang tidak membalas perkataan mu tadi siang. Sosok dayang telah mengikuti engkau dan melihat engkau berbicara kepada ku. Hati sedang tidak menentu memikirkannya hingga saat ini. Jika raja dan Yaksa mengetahui hal ini, pasti jarak kita akan semakin jauh” ucap raja.
“Sudahlah, aku sudah melihat kesungguhan mu. Tapi kita benar-benar tidka bisa bersama. Mala mini adalah malam terakhir kita untuk bersama. Tolong jangan buat aku menderita.”
Putri menepis tubuh sang raja, berlari naik ke atas badan Gangga.
“Putri, bukan seperti ini untuk menghindar dari masalah. Bukan kah engkau juga mencintai ku?” kata Raja Permadi menarik lengannya.
“Kita harus tetap bersama, jangan tinggalkan aku” tambahnya.
Putri Arska membalas dekapannya, di bawah bintang yang bertaburan dan kunang-kunang malam. Mereka kembali beradu kasih menggenggam tangan menatap langit menguntai doa dan harapan.
“raja, aku ingin menanyakan penyerangan secara brutal ke wilayah Jati Jajar. Bukankah engkau sudah mengibarkan bendera perdamaian?” tanya sang putri.
“Bukan aku yang melakukan penyerangan itu. Ibu suri yang merancang semua ini, kedua paman ku telah tiada akibat perebutan harta berselubung penghianatan.”
Putri mendengar penjelasan sang raja dengan seksama, dia mengusap sayap raksasa itu lalu menyenderkan kepalanya.
“Kini aku mengetahui beban berat mu, wahai raja jin bersayap mengapa engkau tetap memilih ku?”