
Kebencian semakin dalam dengan putri Arska karena merusak rencana perjodohan dengan putri Helena.
“Tapi meskipun begitu, kita belum mengetahui sang putri sudah tewas atau masih hidup. Aku akan memastikan sendiri ke hutan. Jika dia masih hidup, akan aku habisi tanpa memberikan jejak sedetik pun” kata Huson tergesa-gesa meninggalkan ruangan.
Ibu suri mengutus mata-mata untuk mendapatkan berita dari dalam istana Jati Jajar, dia juga mengirim sesosok dayang jin untuk bekerja mendampingi dayang utama. Berbagai cara dia lakukan, sampai pada satu titik pikirannya mengirim seorang tabib palsu agar memeriksa keadaan Ratu Jati Jajar yang sedang terluka. Sebutir pil berwarna hitam, dia membungkus dan memberikan kepada tabib palsu yang akan menuju istana Jati Jajar. Dia berharap semua rencananya berhasil, nenek Raja Permadi itupun menginginkan sang cucu untuk tunduk dan patuh apapun kehendak dan keinginannya.
Pagi-pagi buta, sosok jin itu yang berpakaian seperti tabib berhasil mengelabui para penjaga istana. Dengan di damping dayang utusan ibu suri, mereka meminta ijin kepada kepala dayang utama untuk bertemu dayang pendamping Ratu.
“Kenapa untuk bertemu Ratu saja sangat sulit seperti ini?” bisik sang tabib palsu kepada dayang utusan ibu suri.
Sang dayang langsung memberi kode untuk tetap diam dan tenang agar kepala dayang Ratu tidak mencurigai mereka.
Bunga-bunga si puja kesuma putih hari ini tidak bermekaran, wanginya juga mulai pudar bersama dedaunan yang terlihat layu. Sinyal duka dan kehilangan di sambut dengan berbagai hal ganjil di istana tersebut. Begitu pula hewan peliharaan putri Arska kembali mengitari hutan untuk mencari putri.
“Lalu aku sekarang harus bagaimana?” ucap pendamping dayang putri mahkota yang seolah kehilangan arah.
Dia mondar-mandir di depan pintu kamar putri Arska yang kosong saban hari menunggu kabar darinya.
Praghhh..
Tamparan dari kepala dayang istana kepada dayang pendamping putri.
Melihat dayang pendamping putri mahkota sudah di usir keluar istana. Kesempatan itu di ambil oleh utusan ibu suri untuk meminta dayang pendamping ratu untuk menggantikan posisinya. Dia menjanjikan sebuah kesetiaan dan tetap mencari keberadaan putri Arska serta merawat kamar permadani selagi sang putri belum kembali.
Tibalah utusan tabib palsu memasuki kamar kebesaran kerajaan, sang Ratu yang sedang terbaring di hampiri olehnya. Sang tabib palsu mengeluarkan sebutir pil hitam lalu memasukkannya ke mulut sang Ratu. Seketika angin bertiup kencang menghempas tubuh sang tabib membuat pil itu terjatuh.
“Apa yang sedang terjadi?” gumamnya bangkit mencari pil tersebut.
Angin terus menerus bertiup kencang, tirai putih raksasa berterbangan dan jendela membanting kuat. Serpihan dedaunan kering dan ranting-ranting pohon masuk berserakan di lantai kamar. Sang tabib kebingungan mencari dimana letak pil yang terjatuh, dia melupakan sinyal pengenal nama sebenarnya yang yang hampir terlihat itu. Sebuah ukiran nama dan simbol kerajaan Yaksa di batu giok tergantung di pinggang tersibak jubahnya sendiri.
“Hampir saja!” gumamnya merapikan kembali jubah.
“Wahai tabib, kenapa engkau terus mencari sebutir pil itu? Bukankah engkau mempunyai banyak simpanan butir pil dan obat-obatan lainnya?” tanya kepala dayang istana sedikit curiga.
“Sekalipun kau yang menjadi penghalang ku nanti, aku akan membunuhmu” gumam sang tabib berdiri tegak memutar pikiran untuk mencari jawaban.
..._To be continued_...
...Jangan lupa jejak dukungan agar author lebih semangat update ya.. Terimakasih.....