
Dear Saturnus, dari langit alam jin. Planet indah mu terlihat jelas di dalam mata Ghaib ku. Aku menanti hari indah terbang bersama jin bersayap raksasa dan menapaki tempat mu disana. Tapi kini segala harapan ku memudar. Bahkan segala ukiran tinta perak di atas kertas itu hanyalah pelangi atau sinar Aurora sesaat yang pergi di curi oleh kabut hitam.
Katanya dia sangat setia, tapi ternyata dia telah mengabaikan dan melupakan segala perjuangan panjang dan ketulusan ini.
Dan telah datang kebekuan serta keputusan ku meninggalkan mu..
Air menjadi panas di mendidih kan oleh matahari. Dapat pula menjadi sedingin salju oleh bulan purnama yang mengubah menuju sebuah hati yang sudah tersakiti. Disini, sekalipun gelas kaca berkali-kali di banting dan pecah berkeping-keping. Namun nyawa yang ada di dalamnya masih tetap hidup dan terus bernafas. Dia menunjukkan pada dunia bahwa mata ghaib tidak semudah itu untuk di hancurkan. Pewaris mata ghaib di alam jin akan terus menyala dapat melihat kejadian di masa kini dan lalu.
Debaran jantung yang biasanya seutuhnya untuk putri jati jajar seolah setengah berpaling oleh putri Helena. Raja telah terhipnotis oleh bisikan indah dari sang putri dan terlalu lama tersenyum kepada nya. Dia masih mengayunkan kipas raksasa ke arah tubuh putri dan mengamati setiap senyum, bujuk rayu dan godaan yang tidak berkesudahan.
Sementara ibu suri yang melihat dari kejauhan terhenti berjalan menuju mereka. Seolah segala rencananya sebentar lagi akan terwujud sempurna. Senyuman yang menyeringai lalu berbalik arah dan memutar pikiran untuk menyusun rencana baru agar keduanya lebih tunduk dan berhasil dia kuasai.
Di kerajaan jati jajar
Serpihan kelopak bunga dari pohon alysum biru berterbangan memasuki kamar putri mahkota. Sangat banyak sekali yang gugur sampai cenayang Han mengernyitkan dahi. Tangan mengadah menuju arah Utara merasakan hembusan angin yang seolah memiliki arti. Sesuatu yang belum bisa dia terka, terlihat putri Arska ikut menghampiri dan mengambil salah satu kelopak bunga dari atas lantai.
"Kenapa bunga-bunga ini berguguran? Bukankah sekarang sedang berjalan musim salju dan panas di alam jin? Apa yang sedang terjadi?" Ucap Putri.
Gaunnya terbang membentang tertiup angin, dia melihat langit biru dari kejauhan berubah berwarna merah dan hawa udara terasa begitu semakin dingin. Suatu tanda yang membuat benaknya berkecamuk.
"Raja..." Gumamnya terhentak.
Mata Ghaib putri Arska menyala dan melayangkan gambaran buruk yang terlihat begitu nyata.
"Apa yang kau lihat putri? Katakan padaku.." tanya cenayang Han melihat sinar mata yang berubah berwarna biru.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang__" perkataan sang putri terhenti.
"Putri, aku tidak bisa menjaga mu lebih lama disini, tempatku kembali adalah pura muara hijau. Jika engkau berubah pikiran maka aku akan membawa mu jauh pergi ke ujung dunia jin untuk menghindari takdir buruk ini" cenayang Han mengusap jari lentik sang putri dan memberikan tenaga ghaib yang bersumber dari salah satu kekuatan Cenayang karang.
"Cenayang Han bagaimana aku bisa berkomunikasi pada mu? Bagaimana aku bisa memanggil mu lagi?" Jerit putri Arska.
"Putri, mata Ghaib akan menuntun engkau untuk menemukan ku" gema suara cenayang Han.
Gong, gong...
Suara tabu gendang yang memberikan sinyal darurat kembali menyala. Seperti tanda serangan dari benteng di wilayah timur, bersama sorak ramai para prajurit dan pasukan jin berkuda hitam. Putri melihat dari jendela istana. Para tentara kerajaan yang sedang berbaris untuk keluar menuju Medan perang.
"Dayang Sim kemarilah" panggil putri.
Dayang utama itu dengan cepat berlari sambil menunduk menujunya.
"Kemana perginya para pasukan? Segera siapkan baju besi ku!" Putri berjalan berlalu meninggalkan kamar.
"Putri tunggu, pesan Raja bahwa putri harus beristirahat dan tidak ikut berperang"
"Tidak, jangan halangi langkah ku"
Sang Ratu yang sudah berdiri melihat nya langsung menarik tangan putri Arska dan membawanya menuju kamar permadani.
"Ananda ku, kau penerus kerajaan. Kau harus di lindungi sebelum pemberian tahta putri mahkota dan di persunting oleh pangeran Tranggala." Ucap sang Ratu mengingat pita rambut putri Arska dan merapikannya.
"Baiklah aku akan menuruti perintah Ibunda untuk tetap tinggal di istana. Namun, aku belum siap untuk menikah dan ijinkan aku belajar menjadi pemimpin yang baik untuk rakyat ku kelak. Aku tidak mencintai pangeran dari telaga hitam itu." Jawab sang putri memeluknya.
"Baiklah, ibu akan membicarakan pada ayah mu setelah ia selesai berperang"