Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kematian Cenayang Karang


Salam santun semuanya, Terimakasih sampai saat ini masih mau dan ikhlas berjuang bersama. Salam persahabatan selalu dan tetap saling berkompetisi secara sportif. Tidak ada satupun kata yang terucap selain do'a, semoga segala dukungan para reader mendapatkan pahala dan berkah.


Jangan lupa rate 5, favorit, like dan komen yaπŸ™


Terimakasih.. jaga kesehatan semuanyaπŸ˜‡


...----------------...


...πŸ’™πŸ’™πŸ’™...


πŸ’Œ Teruntuk kakanda yang hampir aku tinggalkan πŸ’™


Sajak tidak bertepi


Deru ombak mengibas rasa asin hampir menjadi empedu di hati


Di kala itu tak ku lihat bercak senja seperti biasa


Kamu menghadang kepergian ku dan mengatakan cinta


Dunia ghaib berusaha ku lewati mencari arah jalan pulang untuk menempati relung hati mu


Tapi aku belum menemukan kembali rasa yang pernah aku sambut untuk mu


...πŸ’™πŸ’™πŸ’™...


πŸ’ŒTo: Raja kedua Yaksa


Hati ku terhenti


dunia ku sepi di kala semua ini hanyalah suatu muara pelangi yang sekejap menghilang di telan masa


Keheningan dan kedap tanpa menggema


Ada kala berhenti sejenak bukan untuk mundur menepi


Hanya saja beristirahat dari kata di ujung perpisahan dari dua dunia


...----------------...


"Arghh!" teriaknya kesakitan menghempaskan tubuh Han.


Setelah menyiram racun, prajurit itu Langsung terbujur kaku. Cenayang Han melebur besi yang merantai kaki dan tangan Karang dengan kekuatan sihirnya. Dia menarik paksa Karang dan berusaha kabur dari istana.


"Tidak! aku tidak ingin menjadi pecundang dan meninggalkan nama buruk pura muara hijau!" ucap Karang kembali menuju jeruji besi.


"Karang! kalau tidak salah! hikss.." Isak tangis Han memukul tubuh nya sendiri.


Karang memeluk tubuh Han dan mengguncangnya.


Setelah perdebatan panjang, Han berlari sejauh mungkin meninggalkan pura sebelum membawa segala kebutuhan pribadinya. Dia memikul gulungan di pundak dan pesan rahasia untuk mencari Bulan yang bersemayam di tubuh jin yang berasal dari salah satu kerajaan yang sangat di takuti kaum segala jin.


Hari eksekusi untuk Karang pun tiba, dia di bawa menuju lapangan istana dengan perlakuan begitu kejam. Fonis kali ini tidak dengan pemaksaan meneguk secangkir racun ataupun pemenggalan kepala. Hukuman pelepasan semua anggota tubuh secara waras dan sadar yang di layangkan membuat Isak tangis Han mengutuk sumpah serapah kepada kerajaan Yaksa. Salah seorang punggawa berdiri di atas mimbar membacakan perintah pemindahan segala posisi pemerintah kerajaan sehubungan dengan kepergian Raja yang belum kembali. Dia mengatakan bahwa segala sebab akibat bersumber dari cenayang Karang.


"Fitnah..!" teriak Karang seakan mengeluarkan biji bola matanya.


Jari ibu permaisuri berbunyi dengan memberikan kode pandangan menuju salah satu jin algojo yang berada di dekat nya. Jin tersebut Langsung mengikat mulut karang dengan kain begitu ketat dan kuat.


"Hahhh..." desah algojo menyeringai.


Dia telah mulai melanjutkan pengikatan kepala, kedua tangan dan kaki karang di atas tanah. Tali yang membuat tubuhnya akan terlepas saat jin itu menarik ke lima ikatan simpul dengan satu Kayuhan.


Suara gong dan sofar bergema mengiringi langkah kepergian cenayang tersakti itu.


"Langit akan menjadi saksi dan cahaya rembulan akan membuka semua kejahatan!" kata karang menatap ibu suri.


"Bunuh dia!" ucap ibu suri berdiri mengamati dari singgasana.


Krekk, krekk, krek


Jin algojo mengayuh gerakan cepat melepaskan Anggota tubuhnya.


"Argh! arghh! argh!" jeritan dan teriakan kesakitan cenayang Karang menerbangkan burung-burung yang bertengger di dahan pohon.


..._To be continued_...