Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Bumerang jin


...Kata yang di sebut rindu sedang bersembunyi di balik langit gelap demi menjalani segala cobaan dari dua hati yang terpisah. Hanya ada nama mu yang sudah aku simpan rapi....


Bunga Peony hitam adalah bunga beracun yang hanya bisa di dapat di hutan hutan rimbun dekat pinggiran perkampungan jin. Disana serbuk bunga Peony di manfaatkan sebagai penawar racun jik di melakukan tiga tahap pengobatan. Pertama dengan menabur serbuk di sekujur tubuh, kedua menabur kembali dengan mengucapkan mantra Taraya yang di pimpin oleh kepala suku jin dan yang terakhir adalah meminumkan ramuan bunga kepada yang sedang terkena racun.


Segala jenis racun mematikan menjadi kekebalan bagi yang sudah meminum bunga beracun penawar itu. Namun seolah maksud buruk suku Taraya untuk mengambil kekuatan berada di tubuh pangeran. Takdir putaran baik pangeran dengan penyelamatan yang di lakukan oleh Kasim Badar.


Kini dia harus berjuang sendiri karena panglima pendamping pangeran Permadi diam-diam sudah berhianat dan mematuhi segala perintah ibu suri.


...----------------...


Demi menyelamatkan Badar, pangeran merelakan diri menuju sarang siluman jin hutan rimbun. Kepala suku menawarkan sebuah permintaan pengambilan setengah ilmu perubah wujud pangeran menjadi beberapa sosok makhluk lain. Hal itu membuat pangeran begitu berat untuk merelakan beberapa perubah wujudnya untuk mereka.


"Taraya.." teriak sang kepala suku menabur kembali serbuk bunga Peony hitam di atas tubuh Badar.


Tubuh badan menggelinjang bergetar cepat dengan pupil mata menuju ke atas. Dia memuntahkan darah tanpa henti lalu menekan. lehernya dengan kuat.


"Argh, argh!" suara Badar dengan tubuh berubah menguning.


"Apa yang terjadi dengan Kasim Badar? cepat selamat dia!" perintah pangeran Permadi memegang pundak sang kepala suku.


"Serahkan saja sebagian kekuatan mu yang bisa berubah wujud, wahai pangeran yang agung. Ahahahh" sang kepala suku mengulurkan tangan mendekati sayap pangeran.


"Atau jika boleh, aku menginginkan sayap besar ini." tambahnya kembali.


"Biarkan saja aku mati, jangan biarkan mereka mengambil kesempatan ini pangeran" ucap Badar membulatkan rahangnya.


Saat pangeran Permadi mengeluarkan kilatan warna oranye untuk mentransfer kekuatan menuju kepada si kepala suku, tiba-tiba Badar meraih belati yang terselip di samping pinggang Anggota jin rimba. Dia menancapkan belati itu ke arah jantungnya sendiri.


"Argghh.." suara terakhir yang terdengar dari Badar.


Pangeran menarik kembali kekuatan yang hampir berpindah pada tubuh kepala suku. Dia berlari menuju Badar dan menarik belati dari tubuhnya.


"Badar! apa yang kau lakukan!" ucap pangeran menekan darah yang mengalirkan di dadanya.


Kepala Kasim itu telah menghembuskan nafas terakhir. Pangeran sangat terguncang melihat kepergian Badar. Segalanya seolah sia-sia, bahkan orang yang paling dekat dengan pangeran pergi meninggalkan nya. Kini pangeran sendiri keluar dari hutan rimbun tanpa mengucapkan kata perpisahan. Jasad jin Kasim itu di semayamkan di dekat perbukitan lembah sungai jin. Di situasi rumit ini pangeran sudah menumbalkan kasim nya sendiri untuk menyelamatkan nya. Serakan daun kering mengiringi langkah pangeran menuju perasingan. Mendengar keributan besar yang terjadi, pasukan Ratu yang tiba mencari pangeran untuk memintanya kembali ke istana.