
Jadi sampai hari ini kita masih di gantung oleh pelangi samar terlihat di ujung negeri dunia jin. Samar kurun panjang membawa lumuran pertikaian tanah kekuasaan maupun segumpal darah berdetak.
Seketika sinar merah menyilaukan mata, hujan debu di wilayah jin. Suasana kerajaan luluh lantak setelah pangeran Darson mengetahui dua prajurit telah tertangkap.
Dia mengerahkan lima ribu pasukan secara mendadak menyerang kerajaan Yaksa. Pasukan itu bagai hewan buas tanpa jeda menyerang prajurit dan tentara musuh. Pasukan perbatasan telah tewas tanpa tersisa. Gerbang istana terbuka lebar, Pasukan hewan bersayap ikut membantu menyerang menerbangkan hujan batu. Tabu gendang perang terdengar dari kejauhan membuat sang putri mengarahkan Gangga kembali menuju kerajaan Yaksa. Meskipun hewan itu sudah di sakiti oleh sang majikan, serpihan bulu raksasanya yang tercabut paksa tidak menjadikan hewan pemarah itu melukai sang putri.
Tanpa memakai baju zirah, sang putri masuk ke medan perang. Di atas tubuh Gangga, dia mengarahkan pedang menebas leher prajurit jin musuh. Di sisi lain, raja Permadi mengepakkan sayap membanting pasukan berkuda yang hampir berhasil menghabisi setengah pasukannya. Putri kayana melihat sosok putri Arska, dia mendengar segala hal dan kedekatan bersama raja Permadi.
Menunggu kesempatan dia turun dari tubuh hewan raksasa hingga akhirnya sang putri terpisah jauh dari hewan yang tampak ganas berjarak sedikit jauh darinya. Hal itu membuat dia semakin ingin menghabisinya. Aba-aba bom bubuk mesiu bercampur racun peoni belum di nyalakan. Tapi sang putri Kayana merampas panah api raksasa lalu melepaskan anak panah berisi racun ke arahnya.
Bola api yang terbang di sertai kepulan asap putih pekat, raja Permadi menoleh membalikkan tubuh namun kembali di serbu oleh pasukan ninja dan tentara perang bersenjata tombak api. Gangga terbang secepat angin, hewan pintar itu mengibaskan sayap membuka jalan du udara agar para pasukan hewan bersayap lainnya tidak terkena tubuhnya. Ledakan anak panak bola api beracun itu mengenai tubuh Gangga yang sudah membungkus tubuh sang putri begitu rapat lalu melepaskannya terbang ke atas lembah sungai jin sebelum tubuhnya hancur berkeping-keping.
“Gangga!” teriak sang putri sangat keras.
Tangisnya berlari menuruni perbukitan, dia tidak memperdulikan serangan apapun atau hewan hutan lain serta musuh yang kapan saja menyerangnya secara tiba-tiba. Ledakan tubuh Gangga berada tepat di perbatasan lembah sungai jin. Racun dari asap bubuk peoni menyebar di udara sekitarnya. Putri masih berlari hingga di berhenti melihat potongan tubuh dan sayap Gangga yang masih melayang di udara. Beberapa detik menghirup asap peoni beracun, sang putri jatuh pingsan di tangkap oleh penjaga pendampingnya.
“Putri! Bertahanlah!”
Sosok jin penjaga Jati jajar sudah mengetahui rencana pangeran Darson, tapi dia terlambat menyampaikan berita itu karena banyak sekali rintangan yang mengancam nyawanya ketika ingin bertemu sang putri. Jin penjaga putri mahkota itu membawa sang putri dengan menaiki kuda jin perang. Belum sempat dia membawa pergi putri Arska, terlihat raja Permadi menghadang sambil menyodorkan pedang ke arahnya.
“Siapa kau? kembalikan putri Arska kepada ku!” bentak raja Permadi.
“Raja, hamba adalah jin penjaga putri. Cepat tutup pernapasan mu dengan sapu tangan hitam ini. Sisa racun peoni masih menyebar di udara” kata sang penjaga.
“Ya, baiklah kalau begitu cepat bawa putri ke tabib istana. Kerajaan ku masih di serang oleh Darson dan Kayana. Sebelumnya aku turut berduka akan kematian Gangga.”
“Baik yang mulia. Hamba akan mengabarkan berita ini dan segera membawa sisa potongan tubuh hewan ini” balas sang penjaga pendamping putri.
Sihir cenayang Han membantu kerajaan itu dari balik pura muara hijau. Takdir baik kini berpihak lagi pada kerajaan itu. Asap bubuk mesiu racun peoni seketika menghilang di usir derasnya hujan. Begitu pula hujan api di tambah ledakan bom yang sudah merobohkan bagian depan istana. Anugerah dari langit meski sudah terkena air hujan tapi para pasukan hewan bersayap masih bisa mengepak menyerang musuh.
Raja menggunakan seluruh kekuatannya sampai titik terakhir, ribuan pasukan musuh berhasil di lumpuhkan. Pangeran Darson meninggalkan kerajaannya, raja Permadi secepatnya terbang lalu memenggal kepalanya dari belakang.
“Tidak! Darson!” teriak Kayana berlari tapi di tarik oleh para panglimanya agar segera pergi dari sana.
Tabu gendang perang berhenti, bunyi sofar, sorak kemenangan para pasukan Yaksa dan bendera kerajaan di kibarkan dari atas menara. Sisa prajurit di bawa ke penjara bawah tanah, tidak ada satupun yang di perbolehkan untuk memberikan makanan atau pun minuman. Raja Permadi memutuskan untuk memenggal kepala mereka semua tepat di hari esok ketika matahari berada tepat di atas kepala.
...----------------...
“Sungguh raja yang kejam. Dia pernah membebaskan prajurit telaga hitam dari hukuman dan menerima sebagai sekutunya. Kenapa prajurit Kalingga malah di habisi begitu saja?” ucap salah satu menteri.
“Pak tua, apakah kau tidak mendengar kabar mengerikan ini? kemari, biar aku bisikkan padamu” ucap menteri keamanan.
“Apa? Racun?” kata menteri perairan melotot sampai memperlihatkan urat-urat di wajahnya.
Seluruh menteri dan punggawa di dalam Aula menatapnya. Kabar keracunan kemarin masih di perbincangkan sampai semua jin terdiam menutup mulut mereka rapat-rapat ketika melihat raja Permadi memasuki Aula.
“Yang mulia memasuki Aula!” teriak suara kasim pendamping raja.
Para petinggi jin menunduk, mereka melirik sebagian sayap raja yang tampak hangus. Sisa dari pemberontakan dan serangan semalam masih mengisahkan berbagai pertanyaan dan misteri yang belum terpecahkan. Terutama serangan racun yang menewaskan penghuni jin Yaksa. Hari ini, pertemuan rapat penting itu di gelar pada dini hari. Raja buru-buru ingin segera melihat pemakaman Gangga serta keadaan putri Arska. Dia sudah mengutus dua pengawal pendampingnya agar menjaga sang putri dari kejauhan sampai dia hadir disana.
“Raja, tampaknya kerajaan Kalingga akan menyerang secara tiba-tiba kembali. Mereka tidak pernah menerima kekalahan sebelumnya” ucap penasehat istana.
“Memberi hormat kepada yang Mulia, mohon terima kotak ini. Akan tetapi pakailah sarung tangan ini agar kulit raja tidak terkena racun ketika menyentuh isinya” ucap salah satu tabib istana.
Sang kasim menerima benda itu, dia memberikan sarung tangan untuk raja lalu membuka kotaknya. Raja menyentuh sebuah kelopak bunga yang terlihat indah namun mematikan itu. Dia mengusap putik orange di atasnya dengan serbuk kecil berjatuhan.
“Wahai tabib, apakah bunga ini jenis racun yang di gunakan pada penyerangan semalam?” tanya sang raja.
“Benar yang Mulia, kerajaan itu memiliki kebun bunga peoni bagian timur bagian wilayah kerajaan. Tanah disana semakin subur karena di rawat oleh para ahli tanaman herbal yang empuni” jawab sang tabib.