
Di tengah malam yang sunyi dan gelap gulita, keheningan membius suara lengkingan bersahut-sahutan dari ujung negeri. Rembulan kini sedang di sembunyikan oleh raksasa kegelapan dan alam jin menjadi hampa tidak bernyawa. Seluk beluk mengenai dimensi lain, masih di bahas di dalam cinta biru. Hembusan sihir masih terus di layangkan oleh suku taraya untuk mengambil sayap raksasa Raja Permadi dan merampas paska mata ghaib yang dimilik oleh putri Arska.
Si dalam tidur, gadis jin berambut panjang itu masih berkeluh kesah dan keringat semakin membanjiri tubuhnya. Putri kembali mengembara di alam lain, melihat dirinya di masa yang akan datang sedang terbujur kaku dalam sebuah ruangan tertutup.
“Itu kah aku?” gumamnya yang masih mengenakan baju kerajaan berada di samping wanita yang sangat mirip dengannya.
Wajah yang membiru dengan bekas cekikan di lehernya, wanita yang sudah tidak bernyawa tersebut sangat lama di tatap oleh sang putri. Beberapa langkah kemudian terdengar langkah seorang pria yang sedang berlari mendobrak pintu. Mata yang sudah berlinang air mata , kelopak yang berwarna sangat merah sambil menekuk lutut di dekat tubuh wanita itu.
“Maharani..!” jeritnya bersujud lalu memeluk tubuh sang wanita dengan erat.
Masih ada putri Arska di samping yang tidak terlihat dan terperangah melihat kemiripan raut wajah sang pria dengan Raja Permadi.
“Raja..” kembali sang putri bergumam.
Angin berhembus kencang, membawa gumpalan asap hitam bergerak mengelilingi tubuh wanita itu. Putri melihat sihir hitam yang sudah membuat wanita tersebut meninggal.
BUKU CATATAN MAHARANI
Kalau masih bisa aku hidup kembali dan sekali lagi mengusap mu dengan lembut
Aku masih memikirkan mu
Hari ini aku sedang merasa ketakutan akan berpisah dengan mu
Kemarin kau berhasil meluluh lantakkan hatiku
Dan membagi kepingan rindu mu dengan yang lain
Usah kau katakan cinta
sedang sayang hanya terasa hangat beberapa saat untuk mencairkan musim salju yang ku miliki
kamu yang selalu aku tunggu
Kini yang katanya telah setia seutuhnya menebarkan serpihan bunga hanya untukku
Batas kekuatanku telah melemah dan akan meninggalkan mu selamanya
Buku berwarna biru itu masih di genggam oleh Astro ketika memeluk Maharani, dia sudah terlambat untuk menyadari semuanya.
Yang tersisa hanya hati ku yang ikut terkubur bersama jasad kaku ini
Kau yang selamanya bertahta di jantung ku yang sudah berhenti berdetak untuk mu
...----------------...
“Argh, argghh..” sepasang mata bolong sedang melayang di atas tubuh putri.
Makhluk halus berambut merah dengan tangan mempunyai kuku tajam mencekik leher putri sampai kukunya hampir menggores leher jenjang itu.
Nafas terengah-engah dan terlihat di ujung gaun putri penuh lumpur dan bekas bercak darah berwarna hitam. Makhluk Halus itu masih tertawa terbahak-bahak dan menembus paksa tubuh sang putri untuk di rasuki.
“Argh..” rintih putri menolak keberadaan makhluk halus yang hampir memasukinya.
Raksasa kegelapan bersama pasukan penyihir hitam yang mengirim makhluk halus telah berhasil menutup pandangan Cenayang Han dengan menyembunyikan rembulan menambah malam panjang. Air liur menetes di atas ubin kamar putri mahkota, makhluk halus yang sudah tidak sabar ingin mengisap darah bangsawan. Arska bergerak menjauh menuju jendela, sedikit lagi dia terjatuh keluar dari ketinggian saat gigi taring makhluk halus menggigit kaki sang putri.
“Argh..!”
...-To be continued-...