
Bila hari kelam ini belum terlewati maka akan menjadi hujan berkepanjangan tanpa ada sinar rembulan ataupun mentari yang menyinari.
Seluruh asset dan kekayaan kerajaan Telaga hitam sudah di sita, para rakyat di giring ke wilayah Jati jajar. Bekas punggawa dan pejabat kerajaan yang sudah lengser itu meminta hak pengambilan alih kedudukan mereka masing-masing, Berkisar sebelas petinggi melayangkan petisan kehendak mereka kepada raja.
Di halaman istana bagian selatan, seluruh para petinggi kerajaan Jati jajar berkumpul. Hampir sebagian para jin yang menggenakan seragam pangkat itu memasang wajah marah ke arah mantan petinggi Telaga hitam.
“Hal ini tidak bisa di diamkan, seharusnya mereka berkaca pada kerajaan yang sudah runtuh. Semuanya bernasib tragis bahkan sampai terbunuh secara kejam!” ucap perdana menteri keuangan.
“Dasar tidak tau diri. Di beri fasilitas dan kecukupan disini malah menjadi harimau memangsa majikannya” cibir salah satu punggawa.
Para menteri petinggi Telaga hitam tidak memperdulikan semua sindiran itu. Mereka berlutut di halaman istana sampai menunggu kedatangan sang raja. Mata penguasa raja Jati jajar merah mengeluarkan urat otot leher dengan tatapan tajam ketika berjalan menuju singgasana.
Dia mendengar dua pejabat penting Jati jajar yang melakukan rencana pengkhianatan demi mendapatkan keuntungan. Semua jin yang hadir disitu membungkuk memberi hormat kepadanya, ratu Jati jajar tidak ikut dalam pertemuan besar di halaman istana. Dia masih sibuk mengurus putri Arska di ruangan kebesarannya.
“Raja, hambar ingin menyampaikan sesuatu” ucap penasehat istana.
Raja mengangkat tangan, dia memberi sinyal kepada sang penasehat untuk menghentikan langkah.
“Raja, demi martabat negeri ini tolong pertimbangkan lagi untuk menyelamatkan punggawa kekaisaran dan perdana menteri pertahanan” ucap salah satu punggawa bersujud di tengah halaman istana.
“Jik pemimpin negeri sudah di hianati oleh bangsanya maka yang tersisa adalah pondasi dan pilar yang rapuh. Aku tidak akan memilih pilar yang rapuh dan berusaha menghancurkan istananya sendiri demi berpindah ke istana lainnya atau merubah pilar itu sendirian menjadi sesuatu yang bernilai. Bukankah seyogia pilar terlihat bermanfaat dan berharga jika di berada di dalam istana yang membangunnya sendiri” jelas sang raja.
Semua para petinggi istana menutup mulut mereka rapat-rapat, tidak ada satu pun yang bergerak bahkan mendongakkan sedikit lehernya ke atas. Raja menoleh ke para mantan pejabat Telaga hitam dia tidak menerima petisan yang berada di tangan penasehat istana. Tanpa aba-aba dan perintah apapun sang raja meninggalkan halaman istana.
“Bagaimana kondisi putri Arska?” tanya ratu kepada tabib istana.
“Yang mulia, kondisi energi kekuatan saljunya yang dingin tidka menentu, kondisi ini melonjak menyebar membuat demamnya kembali menyerang ketika kekuatan energi rembulan tidak bersinar di malam hari” ucap sang tabib sambil mengambil jarum akupuntur di bagian titik urat-urat sarafnya.
“Yang mulia, kami siap menyerang untuk membebaskan punggawa kekaisaran dan perdana menteri pertahankan daerah” ucap panglima perang.
“Tidak perlu, aku mendengar kabar pengawal istana yang mereka serang di kerajaan lawan. Kedua petinggi yang membuat masalah besar itu harus tetap jadi tahanan bahkan harus rela jika harus di hukum mati oleh raja Yaksa. Sekalipun mereka keluar buih akan menjadi buronan kerajaan Jati jajar. Urus kesembuhan pengawal agar bisa menghadap raja di pertemuan hari besok.”
“Baik yang mulia ratu” jawab sang panglima.