
Penguasa Yaksa tidak henti mengucap kata cinta, dia mengerlingkan mata kembali ke arah putri Arska menuai getaran sayap dengan segenap perasaan di jiwa.
Begitu lama pangeran Tranggala menunggu, dia menekuk lutut di depan istana selama berhari-hari. Raja tetap tidak ingin memaafkan dan bertemu dengannya. Sementara ratu Jati jajar meminta kepada raja untuk melihat keadaan sang pangeran di halaman istana.
“Raja, aku harus memeriksanya. Membiarkan tamu di depan selama berhari-hari di luar akan mengundang desas desus para jin. Setidaknya kita harus berbicara secara baik-baik dan memintanya pergi” ucap Ratu Jati jajar.
“Wahai ratu ku, jika itu adalah keinginan mu maka aku akan mengijinkan engkau dengannya” jawab sang raja.
Hari ini langit jin tambah mendung, gumpalan awan hitam berlapis perlahan menjatuhkan air ke bumi.
Ratu berdiri di hadapan sang pangeran, dia di payungi oleh dayang lalu tangannya menarik paying dari sang dayang untuk meminta pangeran mengambil benda yang ada di tangannya itu. Pangeran enggan mengambilnya, dia berlutut dan bersujud mengucap kata meminta maaf berkali-kali.
“Wahai yang mulia ratu yang agung, maafkanlah hamba!” ucapnya membenturkan dahi ke tanah.
“Pulanglah dengan damai. Perbuatan mu ini akan memicu pasukan telaga hitam menyerang Jati Jajar” ucap sang ratu.
Ketika pangeran Tranggala berdiri, tubuhnya tiba-tiba merasa lemah sempoyongan terjatuh di dekat sang ratu lalu tidak sadarkan diri. Ratu meminta prajurit mengangkatnya masuk ke istana.
......................
“Menghadap Raja Permadi, hamba melihat pangeran Tranggala memasuki istana Jati Jajar” ucap utusan raja.
“Apa? Bukan kah raja Jajar sangat marah terhadapnya? Dia pernah ingin mencuri benda pusaka dan melakukan penghinaan."
“Sungguh cara yang licik” gumam Raja Permadi
Dia bergerak terbang mengepakkan sayap menuju lembah sungai jin. Hari ini terhitung putaran waktu ketujuh untuk perjanjian selalu berjumpa. Raja mengudara menatap langit yang semakin menghitam.
“Sepertinya musim hujan dan salju akan datang. Aku harus mempercepat langkah menjemput putri” gumam raja Permadi.
Kepakan sayap menuju wilayah Jati Jajar, dari kejauhan putri Arska terbang menujunya. Mereka ke lembah sungai jin bersama, rintik hujan semakin deras membuat mereka mencari tempat untuk berteduh. Di bawah pohon favorit mereka raja menutup tubuh sang putri dengan sayap raksasanya dari hujan.
“Raja, hujan sangat deras, lihatlah tubuh mu yang basah kuyup itu” ucap putri Arska.
“Sesungguhnya aku tidak memperdulikannya asal engkau tidak terkena air hujan” jawab raja Permadi.
Dari samping, Gangga ikut menutup mencontohkan sang raja. Dia berdiri di depan keduanya lalu menutup Raja dan putri dengan sayapnya. Putri dan Raja tertawa melihat tingkah gangga.
“Engkau adalah hewan yang pintar!” seru raja.
Dingin menerjang, angin bertiup kencang. Suara dentuman petir bercampur dengan kilatan merah.tanpa terasa sang putri memeluk raja dengan erat. Dia menenggelamkan wajah di tubuh sang raja sangat lama.
“Putri..” ucap raja Permadi.
Mendengar suara Raja. Sang putri melepaskan pelukan lalu berpaling mencari pandangan lain. Sayap sebelah raja kini membalut tubuhnya, raja teramat bahagia sampa hari ini masih bisa bersama sang putri dan mengetahui keadaannya. Raja perlahan bergerak ingin menepikan rasa hangat ke arah sang putri. Putri langsung menahan tepian itu dengan menggelengkan kepala.