Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kedatangan Telaga Hitam


Raja Permadi menangkap tubuhnya yang tidak stabil itu sementara ibu suri terus menerus meronta-ronta.


“Nenek sadarlah…”


Berselang waktu kemudian, ibu suri hanya menangis tersedu-sedu di atas ranjang permadani. Dia membuang serpihan sapu tangan bekas air matanya di atas lantai. Beberapa dayang yang menawarkannya makanan dan minuman langsung dia tepis dan singkirkan.


“Raja memasuki kamar ibu suri” ucap sosok pengawal yang berjaga.


“Nenek bagaimana keadaan mu? Ini kertas kepunyaan mu bukan?” Raja kembali menunjukkan kertas yang sudah mengering lalu meletakkan di atas tangannya.


Air mata ibu suri semakin deras, dia menekan dan menepuk dadanya sendiri.


“Sebentar lagi aku akan mati!” ucapnya tersedu-sedu.


...----------------...


Di Aula istana, Raja mendapat kabar dari panglima perang bahwa musuh yang menyelinap masuk istana bukanlah berasal dari kerajaan Yaksa. Dia meninggalkan jejak senjata ninja dan jejak kaki jin berukuran lebih besar. Raja berpikir sosok utusan itu pasti memiliki kekuatan yang besar.


“Raja, jika mereka mengincar sang Putri bahwa telah tiada akan membuat mereka mengabarkan pada dunia bahwa Jati Jajar sudah di ambar kehancuran tanpa pewaris putri Mahkota. Sungguh musuh yang lebih licik dari Yaksa” ucap panglima perang.


Raja mengangguk lalu mengusap janggutnya. Dia menuju meja strategi untuk memberitahu rencana untuk menjerat musuh dengan memasang berbagai jebakan di sekitar istana.


“Sebelum kita membuat banyak jebakan makan semua pengawal dan prajurit harus berhati-hati agar tidak dinamakan senjata makan tuan” kata Raja Jati Jajar.


Pertemuan dan rapa dengan para panglima dan pengawal perang terhenti saat sosok lain memasuki Aula. Raja Tranggala merentangkan tangan tersenyum merekah bersama Raja Telaga hitam memeluk Raja Jati Jajar.


“Tamu jauh, kenapa tidak memberikan kabar agar aku bisa menyambut mu” jawab Raja Jati jajar membalas pelukan.


Dalam hitungan reinkarnasi mereka sudah berkali-kali bertemu dan hampir mengulang hal kesamaan. Tapi tetap saja sifat sang Raja Telaga Hitam yang ingin merebut dan menguasai Jati Jajar begitupun pangeran Tranggala ingin mempersunting putri Arska untuk memperkuat posisinya sebagai calon penerus penguasa.


“Aku hadir membawa kedamaian”


Raja Telaga Hitam dan pangeran Tranggala ikut mendengarkan rencana dan isi rapat di Aula.


Raja memutuskan untuk mengakhiri pertemuan kepada para pengawal dan panglima perang. Kali ini dia tidak menuangkan semua isi pemikiran dan strategi perang karena tidak ingin wilayah Telaga Hitam mengetahuinya.


“Walau bagaimanapun aku harus tetap hati-hati dan menjaga keselamatan keluarga ku” gumam Raja Jati Jajar.


Di kamar kebesaran, putri Arska mendengar bahwa pangeran Tranggala datang ke istana Jati Jajar. Dia tidak ingin pangeran itu menjadi leluasa memasuki kamar kebesarannya. Putri meminta dayang pendamping untuk mempersiapkan diri menuju halaman paviliun untuk melihat kedatangan mereka.


“Terpaksa aku melakukannya atau pangeran itu akan masuk kesini” gumam putri Arska.


Di paviliun istana sudah ada ibunda ratu, sang ayahanda Jati Jajar, Raja Telaga hitam dan pangeran Tranggala. Putri ikut duduk di samping sang ibu tanpa menghiraukan segala celotehan pangeran Tranggala.


“Putri, kenapa engkau tidak menjawab pertanyaan ku?” tanya pangeran Tranggala menuangkan teh untuknya.


“Terimakasih wahai pangeran Tranggala yang baik, daku hanya memikirkan peperangan lalu.”


Putri mengangkat cangkir bersulang ke arah mereka.