
sesampai nya di lapangan bola basket, Leon dan Devan saling menatap satu sama lain, membuat kedua orang wanita yang berada di sisi nya masing-masing merasa cemas.
Lea dan Sisil langsung Menghadang di depan kedua lelaki itu, mereka tidak ingin jika Kedua lelaki itu bertengkar kembali.
Leon Menarik tangan Lea untuk berdiri di samping nya, begitupun dengan Devan, lelaki itu juga menarik tangan sisil untuk berada di samping nya.
Devan pun memberikan sebuah undangan pesta ulang tahun untuk Leon dan juga Lea
"Kalian datang tepat waktu ya". ujar Devan lalu kembali membalikkan tubuh nya dan berjalan menuju ke tempat Sisil dan Devan duduk tadi
Devan menatap Sisil dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan
" Sisil maafin gue ya, Kayak nya hubungan kita juga cuma bisa sampai di sini aja". ujar Devan
Sisil menepis tangan Devan dan menatap manik mata lelaki itu dengan Tatapan yang nanar, perkataan itu terlalu muda untuk di ucapkan oleh Devan, namun sangat sakit di terima oleh Sisil.
"Maksud nya apa kak?". Tanya Sisil
Devan menarik tangan Sisil untuk menjauh dari keramaian, mereka berdua berjalan menuju ke arah roftoop sekolah untuk membicarakan hal yang sedang terjadi.
semua ini ia lakukan karena dia tidak ingin jika Sisil merasa malu di hadapan banyak orang, Sesampai nya di rooftop, Sisil menepis kasar tangan Devan dan menatap nya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
"tolong jelasin Kak, maksud nya apa?". Ucap Sisil bertanya kembali
"gue nggak bisa jelasin apapun sama lo sekarang, gue cuma mau bilang kalau lo itu orang baik dan lo pantas dapat yang lebih baik, bukan cowok brengsek kayak gue ini". ujar Devan
"Jadi selama ini kita dekat untuk apa kak? Kakak cuma mau mainin perasaan Gue aja? iyaa??!!". teriak sisil
" ya awal nya sih gue cuma kagum sama lo, tapi entah kenapa lama-kelamaan perasaan ini berubah dan ingin jadi milik lo. lalu Lo mempermudah Jalan Gue menuju ke sana, dan sekarang Lo bilang gitu sama gue? jahat banget sihh Lo!". ucap Sisil yang tidak percaya
"jadi selama beberapa hari ini kakak menghilang, Kakak enggak sibuk kan? Tapi Kakak lagi menghindar dari Gue? jadi ini alasan nya? ". tanya Sisil terus-menerus
"Please.. gue nggak mau kita sudahi perasaan ini gitu aja, gue mau Lo jadi milik gue". Ujar Sisil dengan sendu
" Sil, gue nggak cinta sama lo. gue gk ada rasa sama sekali sama Lo". ucap Devan yang sedari tadi menatap ke arah lain dan langsung menatap ke arah Sisil
"jadi sikap Lo selama ini yang manis sama gue itu cuma akting? apa maksud lo, Hah?". Ujar Sisil dengan emosi bercampur kecewa
"Gue nggak bisa jelasin itu sama Lo, semoga Lo dapat yang jauh lebih baik dari gue". Ucap Dengan yang langsung meninggalkan sisil sendiri dan turun ke bawah
tanpa sadar air mata Sisil jatuh begitu saja, dada nya yang terasa sesak membuat diri nya seakan menjadi hancur di dunia ini.
Sisil menangis sejadi-jadi nya meluapkan semua kekesalan dan rasa sakit hati yang kini ia rasakan
"Kenapa sih lo tega sama gue Kak? ". lirih sisil
wanita itu pun mengusap air mata nya dengan kasar, dan berjalan menuruni tangga untuk menuju ke arah kelas nya.
namun ia tak sengaja melewati gudang sekolahan dan terdengar suara Devan sedang berbicara dengan seorang laki-laki, lalu Sisil mendekatkan telinga nya ke pintu untuk mendengarkan perbincangan yang terjadi di dalam.
" tapi kenapa Lo enggak Coba buka hati Lo buat Sisil aja?? Lo sendiri tahu kan, dia itu cinta mati sama lo!! bodoh banget sih lo jadi cowok! ". kata teman Devan
"gue udah coba, tapi gue enggak bisa. gue merasa bersalah sama dia, gue mau dia dapat cowok yang lebih baik dari gue". Sahut Devan
"lo tau kan keadaan dia di keluarga nya gimana?". tanya teman Devan itu
Devan pun langsung mengganggukan kepala nya dan memukul dinding dengan tangan nya, teman Devan itu langsung memegang bahu Devan.
"Selamat ya, Lo udah berhasil ngehancurin dia berulang kali. lo udah berhasil buat dia semakin terpuruk dan lo lelaki bodoh yang gue jadiin temen. gue enggak mau tahu lagi tentang kebodohan lo itu, dan sekarang biar gue yang akan bahagiain Sisil jika lo enggak bisa".
Devan pun menatap tajam ke arah lelaki itu dan ingin memukul nya, namun niat nya Ia urungkan
teman nya itu yang bernama Dimas langsung meninggalkan Devan dan membuka pintu membuat Dimas terkejut saat Sisil berada di depan pintu, begitupun dengan Devan yang tak kalah terkejut nya.
Sisil menatap ke arah Devan dan juga Dimas, wanita itu menarik nafas nya dalam-dalam dan langsung melangkahkan kaki nya meninggalkan kedu alelaki itu.
Sisil berlari dengan mengusap kasar air mata nya yang terus memaksa untuk keluar, wanita itu masuk ke dalam kelas dan melihat Lea yang tersenyum ke arah nya.
namun saat melihat Sisil menangis, Lea pun langsung mendekat dan memegang tangan wanita itu.
Sisil mengambil tas dan melepaskan tangan Lea, lalu menatap Lea dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan.
"Lo kenapa Sil? ". Tanya Lea dengan cemas
"gue nggak kenapa-napa Kok, gue baik-baik aja, cuma gue mau bolos sekolah dan mau nenangin diri gue". ujar Sisil
wanita itu pun langsung berlari keluar dari dalam kelas dan Lea pun mengikuti nya, Lea berusaha untuk mencegah Sisil.
"Sisil ada yang mau gue jelasin sama lo". teriak Devan yang berusaha mengejar Sisil
Lea yang melihat itu langsung menarik tangan Devan dengan kasar
" Ada apa?". Tanya Lea
"gue salah, gue bodoh, maafin gue". Ucap Devan dengan Getir
"kenapa Kak Devan minta maaf sama gue? Kakak sama Sisil ada masalah apa?". tanya Lea penasaran
Devan menjelaskan semua nya, namun tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada Ketiga lelaki yang sedang menguping, yang tidak lain ada Leon, dan kedua cecunguk nya, siapa lagi kalau bukan Satria dan Putra hehe..
Plaakkk..
Lea menampar dengan keras Pipi Devan, Lea benar-benar kecewa dengan lelaki yang ada di hadapan nya saat ini.
"kenapa sih lo bodoh banget, gue udah punya Kak Leon, dan enggak seharus nya Lo lakuin ini sama Sahabat gue, tau nggak sih Lo gimana ekspresi dia yang bahagia banget saat ceritain Lo! ". Kesal Lea