Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Ingin Memperbaiki


Afzriel Tan tampak sedikit gelisah, dia menunggu Andrew yang belum juga datang pagi ini.


"Flo," panggilnya pada asisten pribadi Afzriel.


"Iya tuan," jawab Flo siap siaga di samping tuannya.


"Kenapa akhir-akhir ini Andrew tak fokus? Apa terjadi sesuatu?" tanya Afzriel curiga dengan keanehan cucunya.


"Setelah pulang dari luar negeri, tuan muda memecat asistennya, tapi setelah itu dia seperti tak bersemangat," jelas Flo.


"Kenapa tiba-tiba memecat Liera?"


"Saya kurang tahu masalah itu tuan," jawab Flo lagi.


"Kamu selidiki mulai sekarang, sepertinya terjadi sesuatu dengan cucuku!"


"Baik tuan."


Flo undur diri setelah mendapat perintah dari Afzriel Tan.


Di tempat lain Zelia tengah melamun di kamarnya, kamar miliknya sendiri. Wanita itu pulang ke rumah mommy nya.


Namun sampai sekarang dia belum berani menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Andrew.


Sang mommy yang melihatnya mulai curiga, kenapa Zelia hanya sendiri kembali ke rumah miliknya tanpa di temani oleh Andrew.


"Sayang," panggil mommy pada putrinya.


Zelia menoleh ke arah sang mommy yang ikut duduk di atas ranjang bersamanya.


"Mom," sapa Zelia tak bersemangat seperti biasanya.


"Kamu ada masalah apa sayang? katakan pada mommy?" tanya mommy hati-hati.


Zelia ragu-ragu mengatakannya kepada mommynya tapi rasa sesak di dadanya ingin segera di keluarkan.


"Mom, gimana kalau dady punya wanita lain? Apa mommy akan memaafkannya jika wanita itu memiliki anak dari dady?" tanya Zelia memulai membuka selembar luka di hatinya.


Mommy tertegun dengan apa yang di tanyakan oleh putrinya. Sesuatu yang mungkin sangat menyakitkan jika itu terjadi pada keluarganya.


"Apa Andrew melakukan kesalahan sayang?" tanya mommy.


Zelia menggigit bibir bawahnya, batinnya berperang. Ingin mengucapkan iya tapi dia takut mengecewakan keluarganya.


"Zelia lihat mommy," kedua tangan mommy mengapit pipi Zelia, membawa wajah wanita itu mendongak dan menatap kedua mata mommynya.


"Katakan sayang, jangan di pendam sendiri?" ucap mommy.


Zelia langsung berhambur memeluk mommynya dan tersedu. Air mata yang sudah dia tahan tak mampu lagi terbendung. Semuanya jatuh membasahi pipinya.


"Mom, Andrew jahat mom, dia hiks dia," ucap Zelia terputus-putus.


"Tenangkan dirimu Zelia, lihat mommy, katakan saja," mommy memberikan senyuman hangatnya. Hanya kepada sang mommy lah Zelia merasa tenang saat ini.


"Andrew selingkuh mom, dan wanita itu hamil anaknya," ucap Zelia pada akhirnya. Mommy terkejut sekaligus menyayangkan apa yang dilakukan oleh menantunya. Tapi sebisa mungkin dia tenang tak terbawa perasaan.


Yang terpenting saat ini harus menenangkan Zelia, demi cucu yang di kandung oleh putrinya itu.


"Sayang dengerin mama, apapun yang terjadi kamu harus tenanglah demi anak di dalam kandunganmu, urusan Andrew biar mommy yang menyelesaikannya, dia harus menjelaskan semuanya."


Zelia merasa lebih tenang saat berbicara dengan mommynya. Ya demi sang buah hati dia harus bisa menahan diri.


Zelia tak mau terjadi sesuatu dengan anaknya. Jika terlalu banyak pikiran.


"Biarkan Zelia saja mom yang nyelesain sendiri, Zelia tahu apa yang harus Zelia lakuin," tegas Zelia yang kembali memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Dia tidak bisa menerima semua itu begitu saja, dia harus mencoba mempercayai Andrew lagi meski itu sangat sulit saat ini.


"Baiklah, mommy percaya sama kalian berdua," balas mommy.


Di ruang kerjanya Andrew tak fokus dengan pekerjaan yang menumpuk di mejanya.


Pikirannya melayang ke awal dimana dia bersama Liera, mencoba mengingat apa yang terjadi malam itu.


"Sial apa dia memberiku obat tidur," gumam Andrew kesal.


Dia lalu menelepon seseorang yang telah dia percayai di perusahaannya di luar negeri itu.


"Halo Ar tolong cek Cctv hotel xxx dua minggu yang lalu kamar 203 dan 204, kirim segera untukku," ucapnya di telepon kepada pria yang bernama Aria itu.


"Baik tuan, segera di laksanakan," jawab Aria dari sebrang telepon.


Setelah memberikan perintah itu Andrew segera menutup teleponnya.


Ada hal janggal yang sedang dia pikirkan tentang bagaimana bisa dia tidur bersama Liera malam itu.


Sedangkan dia tak ingat menyentuh wanita itu.


Setengah jam kemudian handphonenya berbunyi. Tertera nama Aria di layarnya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Andrew di telepon mereka.


"Tuan nona Liera memang memapah anda malam itu ke kamar, tapi ada satu hal yang aneh saat berada di dapur restoran."


"Apa itu?" tanya Andrew tak sabar.


"Sepertinya nona Liera memasukkan sesuatu ke dalam makanan tuan, tapi dia meminta pelayan restoran di sana yang melakukannya."


Penjelasan Aria membuat Andrew semakin geram, jadi memang benar dia di beri obat tidur oleh Liera.


"Cepat kirim file rekamannya ke email ku sekarang!" pinta Andrew.


"Baik tuan," Aria segera menutup telepon untuk dapat mengirim rekaman dari Cctv hotel itu.


Setelah menerima rekaman itu, Andrew segera memeriksanya.


Braak!


Andrew kesal sampai menggebrak mejanya, untung saja tak ada siapapun selain dirinya.


"Wanita sialan!" umpatnya.


"Berani-beraninya menjebakku sampai membuat hubunganku dengan Zelia retak," batin Andrew terlampau kesal.


Dia kemudian menyalin rekaman itu ke dalam disk dan akan membawanya ke rumah mertuanya. Andrew yakin bahwa Zelia pasti di sana.


Namun sebelum dia pergi meninggalkan perusahaan, dia bertemu dengan Afzriel Tan.


"Andrew ikut kakek sebentar!" perintah Afzriel dengan nada dinginnya.


"Baik kek," balas Andrew.


Keduanya lalu masuk ke dalam ruang kerja Andrew. Keduanya lalu duduk di sofa dalam ruangan itu.


"Kenapa kamu memecat Liera?" tanya Afzriel keintinya.


Andrew tahu bahwa cepat atau lambat kakeknya pasti akan tahu masalah ini.


"Dia menjebakku kek," jawab Andrew.


"Apa Zelia tahu?"


"Ya Zelia tahu dan dia sangat marah tentang masalah ini, tapi Andrew akan segera menyelesaikan masalah ini," jelas Andrew.


"Aku percaya padamu Ndrew, lebih cepat kamu selesaikan lebih baik."


Afzriel Tan beranjak dari duduknya, dia hendak melangkah pergi meninggalkan Andrew.


"Baik kek," jawab Andrew.


Beruntung sang kakek mempercayainya kali ini, jika tidak mungkin saja dia sudah di hajar olehnya.


"Huftt sepertinya aku harus segera menemui Zelia," Andrew memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Dia tak sabar ingin bertemu dengan Zelia lagi. Sudah semalam dia tak bertemu dengan wanita itu.