Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
di beri izin


"Lo berdua ngapain sih datang-datang kayak Jelangkung hah? udah sana sana, gue nggak mau di ganggu sama Lo Lo pada!". Ujar Leon dengan kesal


" Woiii Leon, Lo kok gk bertanggung jawab banget sih jadi laki, kalau habis ini gue masuk rumah sakit gimana?". tanya Putra dengan mimik wajah menahan kesakitan


Leon hanya melengos dan mengacuhkan perkataan dari Putra, kini dia tengah melihat Lea dan juga Sisil sudah keluar dari ruangan tersebut dengan bergandengan tangan.


sontak Leon langsung melepaskan pegangan tersebut dan membawa Lea pergi begitu saja membuat sisil membulatkan mata nya dan menatap bingung ke arah Satria untuk meminta penjelasan.


"Kak Leon itu Kenapa sih? ". Tanya Sisil bingung


"lagi PMS kali tuh orang, Eh by the way Lo kepilih ya?". tanya Satria mendekat ke arah Sisil berada


"Iya gue terpilih sama Lea". Ujar Sisil menganggukan kepalabnya dengan senyum sumringah


"pantesan aja tuh anak bawaan nya lagi pengen makan orang, soal nya bini nya ke pilih". Timpal Putra


Devan melewati mereka bertiga begitu saja, hingga membuat mata Sisil berbinar dan langsung menghampiri Devan dengan senyuman


"Kak Devan....". Sapa Sisil


Devan menghentikan langkah nya, dia menatap ke arah Sisil dengan tersenyum manis..


"aduh, aduuhhh... gue meleleh nih nggak kuat liat senyuman nya itu". Ujar Sisil histeris


"Tuhh lihat, Lo punya saingan berat, udah deh mending Lo mundur aja, cukup Lo sadar diri". Bisik Putra kepada Haikal


Kini mereka berdua menatap Sisil dan Devan dengan tatapan yang datar, sedangkan Sisil langsung mengeluarkan coklat yang selalu ia bawa untuk Devan.


" Hemm Kak Devan mau coklat gk? ". tanya sisil


"coklat ini untuk gue?". tanya Devan balik


Sisil langsung menganggukan kepala nya Seraya memberikan coklat tersebut, Devan menerima nya dan langsung melirik ke arah Putra dan juga Satria yang terus memperhatikan nya.


"kalian berdua kenapa sih ngelihatin kita berdua kayak gitu? Lo berdua mau coklat juga? ". Tanya Devan


kedua nya sama-sama menggelengkan kepala nya dengan kompak, sedangkan Sisil menggerakkan tangan nya seakan mengusir Putra dan Satria agar tidak mengganggu momen diri nya bersama dengan Devan.


" Hemmm Kak, nanti kakak sibuk enggak? ". tanya Sisil


"enggak sih, emang nya kenapa?". Tanya Devan balik


"Kakak mau nonton bareng enggak nanti, soal nya Gue punya tiket nonton berdua, Hemm.. Gue enggak tahu mau pergi sama siapa". Ucap Sisil menjelaskan


"jam berapa?". Tanya Devan


"Jam tiga sore nanti". Jawab Sisil


"oke nanti gue jemput ya". Ujar Devan tersenyum dan langsung pergi meninggalkan sisil


Mendengar jawaban dari Devan membuat Sisil langsung berteriak histeris bahkan wanita itu berlompatan dengan bahagia, karena ia sudah menunggu terlalu lama untuk bisa berkencan dengan Devan dan akhir nya impian nya itu kesampaian juga hari ini.


" Please.. ini gue nggak lagi mimpi kan". Ujar Sisil kesenangan


"Helehh nanti gue jemput ya". ledek Satria kesal dengan memonyong monyongkan bibir nya


"Kenapa kalian berdua kayak gitu?". tanya Sisil dengan warut wajah yang berseri


" oh ya kalian berdua nggak pulang? ". tanya Sisi lagi, namun belum sempat perkataanan nya di jawab, Sisil sudah berkata lagi


"ya udah deh, kalau gitu gue pulang duluan ya, soal nya gue harus siap siap kencan sama Ayang Devan.. bye". Ujar Sisil langsung beralan dengan gembira, bahkan wanita itu sambil menyanyi menuju ke arah parkiran untuk mengambil motor kesayangan nya.


"Sabar ya Bro, Ya udah ayo kita beli cimol nya Bang MoMoy aja yuk". ajak Putra


" Yaudahlah Ayo".


Satria dan Putra berjalan menuju parkiran, mereka berdua melajukan motor sport nya untuk keluar dari area sekolah.


"Mas.. Kamu ini kenapa sih? ". Tanya Lea heran


kini mereka berdua sudah duduk di atas sofa yang ada di ruang keluarga, raut wajah Leon terlihat sangat kesal dan tidak bersahabat.


lelaki itu tidak ingin membuka suara nya sepatah kata, Hal itu membuat Lea merasa kebingungan. Ja langsung meletakkan kepala nya di atas dada bidang milik Leon dan memeluk nya.


"Mas kalau kamu nggak ngizinin aku pergi, Aku nggak akan pergi kok. jadi sudah ya, kamu jangan kesal kayak gitu terus". bujuk Lea


"Beneran kamu nggak akan pergi?". ujar Leon dengan mata yang berbinar, sikap nya berbanding terbalik dengan tadi


Lea langsung menganggukan kepala nya membuat Leon langsung tersenyum dan memeluk tubuh Lea, Iya benar-benar tidak rela jika harus berjauhan dengan istri kecil nya itu untuk waktu yang cukup lama.


rasa nya saat ini hanyalah Lea yang dia inginkan, Bahkan dia tidak akan rela jika harus melepaskan wanita nya itu, walaupun sebelum nya mereka menikah hanya karena perjodohan.


"Lea kamu yakin kan nggak akan pergi Kalau Mas gk izinin kamu? ". Tanya Leon sekali lagi


"Iya Mas, kalau kamu nggak izinin aku nggak akan pergi. Tapi kalau kamu Izinin baru aku akan pergi". Sahut Lea


"Ya udah, kalau gitu jangan pergi ya sayang".


Lea langsung melepaskan pelukan nya dan menatap dalam dalam ke arah mata suami nya yang ada di hadapan.


" Hem tapi kak, kamu tadi kan sudah mengundurkan diri dari drama menjadi pangeran, tadi Lea sendiri dengar, kalau peran itu sudah di gantikan dengan Alfian, ketua tim futsal".


Lea membicarakan sesuatu hal untuk membuat suami nya itu menuruti keinginan nya, agar lelaki itu tidak kesal terus-menerus.


"siapa bilang Gak jadi pangeran? Mas gk ada dapat info kayak gitu".


"ya udah telepon aja Kak Devan kalau nggak percaya, coba tanya sama dia".


Leon langsung mengambil ponsel nya dan langsung menghubungi Devan untuk menanyakan kebenaran yang di ucapkan oleh istri nya itu.


dia tidak akan rela jika harus membiarkan Lea bersama lelaki lain untuk melakukan drama tersebut.


"Halo".


"Ya apa?". jawab Devan dengan ketus dari seberang telepon


"Maksud lo apa gantiin gue jadi pangeran nya? ". Ujar Leon


"Emang sialan Lo! jangan buat pekerjaan gue Terus menerus, Lo udah gue blacklist dari drama itu, gue males ngadepin Orang kayak lo, yang Mood nya berubah-rubah. kalau Lea enggak jadi pergi keluar untuk pertukaran pelajar, maka Alfian yang akan berdampingan dengan Lea".


"eh gue nggak terima ya, enak aja Lo atur atur pacar gue!!!". Kesal Leon


Devan langsung memutus telepon nya secara sepihak, membuat Leon mengumpat dengan kesal lalu melemparkan ponsel nya begitu saja.


dia langsung melirik ke arah Lea dengan tetap yang sangat sulit di artikan


" Jadi gimana??". tanya Lea mengulumkan senyum nya


"Oke, Mas kasih izin kamu pergi tapi mas harus ikut juga ya, dan kamu jangan satu apartemen dengan Sisil gimana? ".


"oke deal!!". Lea tersenyum lebar dan langsung mencium pipi Leon, namun di tahan oleh lelaki itu. dan saat Lea hendak pergi, Leon menarik tubuh Lea hingga wanita itu terduduk di pangkuan Leon.