
di Ruang tengah semua berkumpul, ada Mama dan Papa Leon, dan juga bapak mertua nya Leon.
"Lea mana?". tanya Mama indah
" Dia lagi ingin sendiri mah menenangkan diri nya". ujar Leon
"kalau gitu kalian semua di sini aja dulu ya, Tante mohon bantu hibur Lea, Jangan Biarin dia terus melamun, tante yakin kalian pasti bisa bikin Lea tersenyum lagi". Pinta mama indah
" Beres, aman Tante". jawab mereka serempak
"Lea itu sangat sulit untuk dihibur dan jika nanti dia bertindak kasar atau emosi kepada kalian, Bapak mohon jangan kalian masukkan ke dalam hati ya, dia nggak seburuk itu kok, Lea itu anak yang baik". Ujar Pak Heru
"Tenang aja Pak, Putra sama Satria yang muka nya buruk rupa dan perilaku nya kasar kayak preman aja kami terima kok". Timpal Cakra
" Heru kalau gitu kami pamit dulu ya, kamu yang tabah dan harus kuat, Insya Allah istrimu sudah tenang di sana dan nggak akan ngerasain sakit lagi". ujar Papa Damar
"Iya makasih ya, kalian juga hati-hati pulang nya dan Makasih sudah lahirin Leon untuk Lea". Ujar Pak Heru berterima kasih karena dia melihat jika Leon memang benar-benar tulus mencintai anak semata wayang nya itu
Leon sendiri terenyuh saat mendengar perkataan itu, Sedangkan Mama Indah tersenyum dengan Getir.
"Leon pasti akan menjaga Lea dan kamu jangan khawatir, ada kami juga yang akan menjaga nya. karena Lea sudah kami anggap seperti anak kami sendiri". Ujar Mama Indah
Pak Heru pun menganggukan kepala nya dan mengantarkan kedua pasangan suami istri itu hingga ke depan pintu.
"tante, Om hati-hati ya di jalan". ujar mereka semua
karena hari sudah semakin malam, semua nya sudah tertidur. tapi tidak dengan Leon yang masih sibuk mencari keberadaan istri nya, tiba-tiba Lelaki itu mendengar suara tanah yang di lempari oleh batu .
Leon langsung melangkahkan kaki nya menuju sumber suara.
"sayang". panggil Leon namun wanita itu tidak melirik sama sekali, Lea terus melakukan aktivitas nya dan terus melaporkan batu ke arah kebun yang berisi beberapa tanaman bunga
Leon mendekat ke arah Lea dan menepuk pelan punggung istri nya.
"Lea". Panggil Leon lagi
Lea menoleh ke arah Leon sekilas, lalu kembali melemparkan batu itu.
Leon menghentikan tangan Lea agar tidak melempari batu ke tanaman dengan sembarangan.
"sayang, ayo kita masuk ke dalam sudah malam". ajak Leon
Lea pun menghentikan kegiatan nya dan langsung berdiri membalikkan tubuh nya ,menatap Leon dengan Tatapan yang sendu.
Lea menarik nafas nya dengan panjang, lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Ayo Mas, apa mereka semua sudah pulang? ". tanya Lea
"Ya sudah pulang, tapi dalam mimpi". Jawab Leon
Keesokan pagi nya, semua nya langsung berlari ke belakang karena teriakan dari Pak Heru.
lelaki paruh baya itu tengah frustasi menatap kebun nya yang tidak ada satupun tanaman nya selamat dari perbuatan Lea semalam.
"Astagfirullah, Bapak ada apa ini? kenapa jadi Kacau seperti ini? Apa ada maling semalam? ". tanya Satria yang panik
"Marlena mati". jawab Pak Heru mengusap kasar rambut nya seperti Tengah frustasi
"innalillahiwainnailaihirojiun, tetangga bapak yang mati atau aku kerabat Bapak? yang Sabar ya Pak, umur memang nggak ada yang tahu, kita semua hanya bisa menunggu waktu kita saja". sahut Putra dengan bijak
"Lah ternyata tanaman, Waduhh iya Pak sayang banget, mana banyak yang mati semua, Kok bisa ya Pak? mungkin dia lagi sedih Pa, jadi ingin nyusul Ibu". ujar Putra ngasal
Satria yang mendengar itu langsung menonyor kepala Putra dengan Kuat
"Ngawur Lo".
Leon langsung menatap ke arah Lea yang tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan ia terlihat santai dan berjalan mendekati kebun itu.
"kenapa nggak Bapak tutup saja tadi malam, biar gk ada yang masuk? ". tanya Leon yang sudah tahu siapa dalang nya
" Tempat ini biasa Lea pakai untuk melapiasan rasa amarah dan kesal nya. Bapak membuka nya biar dia bisa lebih baik setelah itu, tapi nggak nyangka kalau mati semua, tapi ya udah deh nggak apa-apa nanti bisa Bapak tanam lagi". jawab Pak Heru
"Hah maksud nya? jadi kalau Lea kesal berantem nya sama tanaman Pak? ngeri juga ya". Timpal Satria
"Ngeri banget Lo Lea, tanaman aja lo Ajakin berantem pantesan aja Lo selama ini berotot". Timpal Putra lagi
"Tapi besaran otot gue sih". ucap satria menunjukkan otot tangan nya
"Diihh itu sih kecil, Sisil Lo tunjukin otot Lo". perintah Putra
Sisil pun langsung melebarkan mata nya dan memukul kuat bahu Putra
" otot-otot Pala Lo peyang, gue ini cewek yang paling cantik setelah Lea, mana ada Gue punya otot". Ujar Sisil
"kalau gue cowok apaan dong?". tanya Satria
"Kalau Kak Satria Waria kali!". Ketus Sisil
Tanpa di sadari senyuman tipis terbit di wajah manis Lea, membuat Leon yang melihat nya merasa lega.
Leon bisa memaklumi tingkah mereka, karena bisa membuat istri nya tersenyum kembali.
"sudah-sudah, ini bukan karena Lea berantem sama Marlena, tapi Marlena di lemparin batu sama Lea sampai dia puas, Lihat batu itu sebanyak itukan". ujar Pak Heru
"dari dulu dia emang begitu, Kebun ini selalu jadi tempat pelampiasan nya". Lanjut Pak Heru yang sudah biasa dengan kejadian ini
"Lea, untung kebiasaan Lo bukan ngelemparin orang sama batu besar-besar, duhh Gue takut jadi sasaran lo". ujar Satria
"Leon, ini bagus buat referensi untuk lo. Siapin aja tanaman yang besar di belakang rumah, sama batu besar. kalau kalian berdua bertengkar masalah suami istri jadi bukan Lo yang Bapak belur tapi tanaman nya". usul Putra
"tunggu-tunggu, Apa Lo bilang tadi? Berarti Lo udah nggak hilang ingatan dong? kenapa Lo bisa tahu kalau kami ini suami istri atau jangan-jangan Lo bohongin kita semua ya? ". tanya Leon dengan serius
"Hah apa? gue enggak denger".jawab Putra dengan gugup
"Oh iya pak, tanaman nya mau di apakan? bawa ke sana ya Pak? ya, ya Putra bantuin ya".
Putra pun langsung ingin meninggalkan mereka semua, namun baju nya di tarik oleh Sisil.
"Mau ke mana lo hah? ". tanya Sisil dengan nada yang mengerikan
"ke mana? lah itu bantuin Bapak, lo cewek-cewek Barbar banget sih, kalem dikit napa kayak idaman gue gitu". ujar Putra
"Enggak ada yang mau jadi idaman Lo! jujur sama kita, jadi selama ini Lo pura-pura hilang ingatan?". tanya Sisil
Satria langsung melepas tangan Sisil dari baju Putra dan kini gantian ia menarik kerah baju Putra hingga tergantung, membuat lelaki itu memukul kuat Satria.
"Bang*Sat, lepasin tangan Lo sialan! gue mau mati nih, gue enggak bisa nafas, Trus gue bakal gentayangin Lo semua, biar kita pada ngumpul lagi di kuburan, dan kita buat geng poci poci dan pocica idaman seluruh setan". ancam Putra