Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Nyatakan Cinta


Alea menatap pesan di layar ponselnya. Gadis itu sedang bimbang harus menyetujui atau tidak isi pesan dari seseorang yang membuatnya kesal akhir-akhir ini.


Bisakah kita bertemu malam ini Alea?


Isi pesan itu singkat tapi butuh keberanian untuk memberikan jawabannya.


Pesan itu dari Raffa yang meminta agar Alea mau menemuinya. Dengan ragu gadis itu membalasnya untuk menyetujui mereka bertemu.


"Apa ini sebuah kencan?" tanya Alea pada dirinya sendiri.Tapi terlalu dini untuk di katakan sebagai kencan.


Hingga waktunya tiba, Alea mempersiapkan diri. Kali ini dia menggerai rambut lurusnya. Dia juga melepas kacamata kesayangannya. Mencoba merias diri agar terlihat lebih cantik.


Zelia yang kebetulan melihat anak gadisnya merias diri segera mendekati gadis itu. Saat memandang Alea dia teringat dirinya sendiri saat masih muda.


Kecantikan gadis itu di turunkan darinya. Parasnya yang putih bersih dengan kedua mata bulat dan bulu mata yang lentik menambah kecantikan gadis itu. Serta bibir merah alaminya dan hidung mancung dari papanya. Semakin membuatnya terlihat cantik.


"Sayang, cantik sekali," puji Zelia sambil merapikan rambut putrinya dari belakang punggung gadis itu.


"Masak sih ma?" tanya Alea tak percaya.


"Iya kamu putri mama paling cantik," jawab Zelia sambil menganggukkan kepalanya.


"Mama nih suka menggoda Alea."


Kedua pipi gadis itu bersemu merah muda karena mendengar godaan dari mamanya. Meski dalam hati dia memuji dirinya sendiri yang ternyata cantik jika mau berias.


"Beneran, mama gak lagi godain kamu sayang, tumben dandan cantik kayak gini.Mau kemana sih?" tanya Zelia sambil mendudukkan dirinya di ranjang gadis itu.


"Alea mau ketemu seseorang ma," jawab Alea malu-malu.


Zelia menjadi sedikit penasaran dengan siapa orang tersebut.


"Jadi putri kecil mama sudah akan berkencan ya? Ternyata kalian sudah dewasa semua," ucap Zelia mengingat bahwa beberapa tahun lalu ketiga anaknya masih kecil-kecil.


"Bukan kok ma, Alea gak lagi kencan," jawab Alea mengelak.


"Terus dandan cantik kayak gini mau apa kalau tidak berkencan sayang?" goda Zelia pada putrinya lagi.


Suara bel rumah berbunyi,Alea segera berlari meninggalkan mamanya. Dia hendak membuka pintu rumah. Pasti di luar itu adalah Raffa yang datang menjemputnya.


"Itu pasti temen Alea sudah sampai ma,Alea pergi dulu ya?" pamit gadis itu.


Alea tidak mau sampai kedua orang tuanya tahu kalau mereka akan bertemu.Pasti akan mengira mereka berkencan.


"Duh mama ditinggal begitu saja!"gerutu Zelia saat melihat putrinya pergi menjauh.


"Kenapa sih sayang?" tanya Andrew yang kebetulan melihat istrinya di dalam kamar putri mereka.


"Putri kita sudah pergi berkencan Ndrew, bagaimana menurutmu?" tanya Zelia khawatir jika hal buruk terjadi pada gadis itu.


"Bagus lah berarti dia sudah besar. Biarkan saja. Bukankan kita seumuran dia sudah menikah kan?" kenang Andrew pada masa-masa keduanya bersama.


"Benar juga," jawab Zelia mengiyakan.


Andrew tiba-tiba mencium bibir Zelia. Sampai saat ini mereka masih saja bersikap romantis.


"Umm, kamu!" protes Zelia yang mendapat serangan mendadak.


"Masih sama, manis seperti dulu rasanya!" goda Andrew lalu pria itu mengangkat tubuh istrinya. Sontak Zelia terkejut karena perlakuan suaminya itu.


"Hei mau apa Ndrew?" tanya Zelia.


Tapi pria itu tak memperdulikan pertanyaan istrinya. Sesuatu di bawah perutnya sudah bergejolak ingin segera mendapat kehangatan dari Zelia.


Sedangkan putri mereka kini tengah makan malam bersama Raffa. Gadis itu menjadi salah tingkah saat Raffa tak berhenti memandangnya.


"Kenapa kamu terus memandangku?" tanya Alea ragu-ragu.


"Kamu cantik sekali malam ini," ucap Raffa memuji kecantikan Alea. Gadis itu merona di kedua pipinya.


"Benarkah? Lalu apa yang hendak kamu katakan sebenarnya?" tanya Alea mengingat hal penting yang Raffa ingin katakan.


"Sebenarnya aku menyukaimu Alea," ucap Raffa, kini detak jantungnya tak beraturan. Rasa takut di tolak lebih besar di hatinya.


Sedangkan Alea terdiam karena syok mendengar ucapan Raffa. Dia tak percaya pria di depannya itu secara terang-terangan langsung menyatakan cintanya.


"Kamu bercanda ya kak Raffa?" tanya Alea.


"Aku serius Alea, kamu mau kan menjadi pacarku?" tanya Raffa.


"Aku-" Alea tak tahu harus mengatakan apa pada Raffa, menerimanya atau tidak.


Di wajah pria itu terlihat sekali mengharapkan Alea menerimanya. Tapi Alea masih ragu karena beberapa hal yang tak bisa dia jelaskan.


"Maaf kak, bolehkah Alea meminta waktu untuk memikirkannya?" tanya Alea.


"Ya kamu boleh memikirkannya dahulu," jawab Raffa. Alea tersenyum membalasnya. Hingga suasana canggung begitu terasa diantara mereka.


Alea memilih untuk segera pulang ke rumah. Dan dengan berat hati Raffa menyetujuinya. Pria itu mengantar Alea pulang. Namun sepanjang jalan keduanya tak banyak bicara.


Saat sampai di depan rumah. Alea ingin segera turun dari mobil. Namun baru saja hendak membuka pintu. Lengan kanannya di tahan oleh Raffa.Alea lalu menoleh ke arahnya.


"Kenapa kak?" tanya Alea.


"Alea, aku mencintaimu. Dan aku serius tentang itu. Aku harap kamu bisa menerimaku."


Entah mengapa saat mendengar ucapan dari Raffa barusan, Alea semakin diam. Dia sedang bingung harus menerimanya atau tidak. Tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang masih mengganjal bagi gadis itu.


"Yah beri aku waktu kak," aku pasti akan menjawabnya."


"Aku beri waktu tiga hari Alea, kamu harus menjawabnya, oke?" ucap Raffa tegas.


"Baiklah, tolong lepaskan. Aku harus segera masuk ke dalam rumah," pinta Alea.


Raffa segera melepaskan genggaman nya dari lengan Alea. Membiarkan gadis itu keluar dari mobilnya dan kembali ke rumah.


"Kenapa kamu ragu Alea? Bukankah sebenarnya kamu juga menyukaiku?" gumam Raffa.


Saat hendak pulang, Raffa melihat teman pria Alea baru saja tiba di depan rumah gadis itu. Dia adalah Reihan. Entah mengapa Raffa merasa tak suka dengan pria itu. Meski hanya teman sekelas Alea, tapi pria itu sepertinya mempunyai maksud lain pada Alea.


Akhirnya Raffa turun dari mobil dan mendekati Reihan. Keduanya saling beradu tatapan. Sama-sama ingin menjatuhkan satu sama lainnya.


"Perkenalkan saya calon suami Alea, Raffa" ucap Raffa dengan penuh percaya diri. Reihan terlihat acuh mendengar Raffa menekankan kata calon suami.


"Aku Reihan,masa depan Alea, mari kita bersaing secara adil!" Reihan bahkan sudah gila, kenapa dia berani menantang Raffa. Tapi dia seolah harus mengalahkan pria di depannya itu.


"Heh sebelum melangkah mungkin saja kamu akan kalah terlebih dahulu, aku dan Alea sudah di jodohkan dari kami kecil!" jawab Raffa.


"Semua bisa berubah, apa kamu sudah yakin dia menerimamu?" tanya Reihan seolah tahu kegundahan hati Raffa saat ini.


"Aku akan memastikan dia menerimaku!" jawab Raffa tak gentar.


Setelah mengatakan hal itu Raffa segera pergi meninggalkan Reihan.


Sedangkan Reihan memilih mengurungkan niatnya untuk menemui Alea. Bukan waktu yang tepat baginya menemui gadis itu sekarang.