Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Rencana Pertunangan


Satu pekan berlalu setelah kesalahpahaman yang terjadi di antara James dan Liana, kini keduanya seperti memiliki jarak karena keduanya sama-sama sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Malam ini James harus ke rumah neneknya,begitu pula dengan mommy dan dady serta Zelia bersama suaminya.


Sang nenek mengundang mereka untuk berkumpul, tak ada yang tahu apa yang akan di bicarakan oleh wanita itu.


"Andrew malam ini kamu bisa kan ikut ke rumah nenek?" tanya Zelia, di pagi hari ketika mereka sarapan bersama.


"Sepertinya bisa, memang ada apa nenek mengundang kita ke rumahnya?" tanya Andrew penasaran, sedangkan Zelia hanya mengendikkan bahunya tanda tak mengerti.


"Entahlah," sambil memasukkan roti panggang ke dalam mulutnya.


"Baiklah nanti malam kita ke sana," ucap Andrew sebelum keduanya pergi ke kampus.


Di tengah-tengah kesibukan pria itu, Andrew selalu mengutamakan Zelia, kemanapun Zelia ingin di temani,sebisa mungkin Andrew meluangkan waktunya.


Itu pula atas izin sang kakek yang mengerti keadaan Zelia setelah mengalami keguguran dahulu, wanita itu perlu waktu dan juga perhatian dari Andrew.


Malam pun tiba,Zelia dan Andrew memutuskan untuk segera ke rumah sang nenek, di tempat lain pula mommy sekeluarga juga bersiap untuk ke rumah Oliv.


Di sepanjang jalan ke sana, James tak berhenti gelisah, entah kenapa pikirannya sedang menerka-nerka apa yang akan di bahas oleh sang nenek nantinya.


Melihat raut perubahan di wajah sang putra, Essie mencoba menebaknya.


"Apa kamu sedang tak enak badan James?" tanya mommy.


James yang dari tadi gelisah akhirnya menatap ke arah mommynya dan menggeleng pelan.


"Aku baik-baik saja mom,"balasnya.


Lalu ketiganya saling diam, fokus ke perjalanan mereka menuju ke rumah sang nenek.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah nenek bersamaan dengan kedatangan Zelia dan Andrew,mereka saling menyapa, bahkan Zelia sempat bermanja-manja dengan mommynya.


"Kamu makin cantik saja Zelia," puji sang mommy.


"Tentu saja, ini berkat mommy juga, kecantikan mommy yang menurun ke Zelia," balas Zelia senang.


Mereka masuk ke dalam rumah sang nenek, wanita paruh baya itu sudah menunggu mereka di meja makan.


Banyak makanan tersaji di sana.


"Silahkan kalian semua duduk," ucapnya penuh aura memimpin.


Meski sudah tua, tapi ketegasan serta aura kewibawaan sang nenek tak pernah hilang dari dulu, begitulah keluarga itu menghormatinya sekaligus segan kepada sang nenek.


Mereka duduk di kursi masing-masing, setelah di persilahkan untuk makan mereka mulai menikmati makanan masing-masing dengan keadaan hening, hanya suara dentuman sendok yang saling beradu dengan piring, itu pun tak begitu keras suaranya.


Di antara mereka, hanya James yang tak begitu menikmati acara makan malam itu, lebih tepatnya pikiran pria itu sudah melayang entah kemana, tak lagi fokus bersama raganya.


Usai makan malam, sang nenek siap membuka tujuan utama dia mengundang keluarganya berkumpul.


"Pertama-tama aku berterima kasih kalian mau datang malam ini," ucapnya membuka percakapan keluarga, sikapnya masih tegas, tapi menunjukkan ke eleganannya.


Semua orang menatap ke arah Oliv dengan tanda tanya di kepala mereka.


"Sebenarnya aku ingin memberitahu kepada kalian bahwa seminggu lagi akan ada acara pertunangan James dengan calon istrinya," ucap Oliv sontak membuat semuanya terkejut apalagi James.


Pria itu menahan amarahnya, dia begitu kecewa dengan keputusan sang nenek yang tak memperdulikan persetujuannya terlebih dahulu.


"Pertunangan?" tanya mommy James.


"Iya, apa dia belum bercerita kepadamu?" tanya Oliv, sang mommy menatap ke arah James, meminta pria itu mengatakan hal yang sebenarnya belum dia ketahui.


"Nggak aku gak akan melakukan pertunangan bodoh itu," tolak James kali ini sambil menahan amarahnya.


"Aku tak butuh persetujuanmu James, kau hanya perlu melakukannya," balas sang nenek.


Brak.


James menggebrak meja, dia sudah di ambang amarah, tak lagi bisa menahannya.


"Cukup nek, aku tak mau menjadi bidak caturmu lagi, belum cukupkah Zelia menjadi korban keegoisanmu sekarang aku juga harus menuruti nenek? jangan harap!" ucap James lantang.


"James! kau jangan keras kepala!" bentak sang nenek, Zelia dan yang lainnya hanya bisa terdiam di posisi masing-masing, tak ada yang berani ikut dalam kegaduhan itu.


"Aku kecewa sama nenek!" setelah mengatakan hal itu James pergi keluar rumah, Zelia dan mommy mencoba mengejarnya namun James terlanjut kesal, dia pasti butuh waktu sendiri.


Zelia akhirnya kembali ke dalam rumah dan menemui neneknya.


"Nek," panggil Zelia, Oliv menatap cucu perempuannya itu, mereka masih di ruang makan.


"Jangan membelanya Zelia," ucap nenek seolah tahu apa yang ada di pikiran Zelia.


"Apa lagi yang ingin nenek lakukan ke kami?" tanya Zelia memberanikan diri,entah kenapa dia bisa merasakan bahwa saudara kembarnya itu begitu terluka dengan keputusan sang nenek.


"Ini demi kebaikan James Zelia, nenek tak mau dia bersama wanita itu," balas Oliv.


"Maksud nenek Liana? kenapa nek dia wanita baik-baik," ucap Zelia.


"Baik dari mana? bahkan asal-usulnya saja tak jelas."


"Nenek sungguh mengecewakan!" Zelia akhirnya meninggalkan sang nenek, di ikuti Andrew yang mengejar Zelia, begitu juga mommy dan dady juga pamit pulang dengan perasaan yang sama dengan Zelia.


"Apa-apa sih nenek itu, suka sekali mengatur hidup kami!" gumam Zelia kesal ketika dia sudah di dalam mobil milik Andrew.


Andrew hanya mendengarkan keluh kesah istinya dengan seksama.


"Ya kalau bukan nenek, mana mungkin kita bersama juga saat ini sayang," Andrew mencoba menenangkan Zelia tapi wanita itu malah membalasnya dengan tatapan tajam seolah berkata diam kamu! untuk Andrew.


Pria itu hanya menelan ludahnya dengan susah payah, sambil bergumam dalam hati.


"Wanita memang menakutkan!"