Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Jebakan


Andrew dan Han berjalan bersama menyusuri lorong di rumah di sana. Keduanya dengan langkah hati-hati memeriksa berbagai sudut di tempat itu. Tak ada siapapun, keduanya merasa curiga bahwa mereka masuk ke dalam jebakan.


"Han, kenapa semakin sepi, bagaimana keadaan para pengawal kita, coba kamu periksa!" perintah dari Andrew untuk Han.


"Baik tuan!" balas Han, lalu pergi memeriksa ke ruang utama dimana para pengawalnya sedang berjaga, tak ada siapapun. Bahkan Han mencari di beberapa tempat yang lain. Mereka tak ada di sana juga.


"Dimana kalian?" Han mencoba menelepon salah satu diantara mereka. Namun tak ada jawaban dari lawannya.


Han tampak berfikir kemungkinan yang terjadi.


"Sial!" Han hendak berlari namun baru selangkah saja dia merasakan belakang kepalanya begitu sakit. Dan pandangan matanya mulai memudar perlahan hingga menjadi gelap.


"Seret dia ke ruang lain!" perintah Robi pada anak buahnya.


"Baik tuan." Anak buah Robi membawa Han ke tempat yang sudah mereka siapkan.


"Tinggal eksekusi akhir!" Robi tersenyum puas dengan rencananya.


Andrew yang menunggu Han akhirnya segera menyusul pria itu. Karena dia merasa khawatir padanya.


Sama seperti Han, seseorang juga memukul bagian belakang kepala Andrew. Membuatnya jatuh tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian Andrew yang tersadar sudah berada di sebuah ranjang. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit sambil mendudukkan dirinya.


Tapi matanya langsung melotot sempurna saat mendapati dirinya tanpa busana sedikitpun. Sedangkan di sampingnya terdapat seorang wanita yang dia kenali.


"Apa yang terjadi?" tanya Andrew tak mengingat apapun saat ini. Tapi ini seperti dejavu baginya. Andrew tahu ini pasti jebakan yang sama seperti dahulu. Tapi siapa yang melakukannya. Andrew tak tahu itu.


Perlahan dia beranjak dari ranjang itu dan memunguti pakaiannya. Lalu memakainya.


Andrew perlahan keluar dari kamar itu. Meski kepalanya masih pusing, dia memutuskan untuk segera mencari Han dan Zelia.


Hanya Han yang dia temukan tengah di ikat di sebuah kursi tanpa ada yang menjaganya.


"Aneh kenapa begitu sepi tanpa penjaga, jika mereka menginginkanku? Sebenarnya mereka mengincar siapa? Jika memang Zelia masih disini seharusnya aku bisa menemukannya. Tapi kenapa aku tak bisa menemukannya!" batin Andrew.


Han yang mengetahui bahwa tuannya baik-baik saja merasa lega. Andrew lalu membantunya melepaskan diri.


"Tuan Andrew saya minta maaf tidak bisa menjaga anda. Seseorang memukul saya dari belakang dan mengikat saya seperti ini!" ucap Han menyesal tak bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik.


"Tidak apa-apa Han, aku juga mengalami hal yang sama. Sebaiknya kita bergegas mencari Zelia. Aku yakin dia masih berada di sini!" ucap Andrew.


"Baik tuan!" Han yang sudah terlepas dari ikatan segera beranjak dan mengikuti Andrew di belakangnya.


Mereka kembali menyusuri ruang-ruang di rumah itu. Saat keduanya sampai di depan kamar dimana tempat Zelia di kurung. Andrew merasa ada yang aneh di kamar itu. Sebelumnya dia sudah di depan kamar itu namun tak membukanya. Sekarang dia ingin melihat apa isi di dalamnya.


"Han dobrak pintu ini!" pinta Andrew. Han mengangguk dan mencoba mendobrak pintu di depannya itu.


Brak!


Pintu terbuka secara paksa, Andrew dan Han segera masuk ke dalamnya.


Pandangan mata Andrew menyusuri setiap sudut tempat itu. Saat dia berjalan menuju ke arah jendela. Andrew terkejut melihat Zelia tengah meringkuk di sana.


"Zelia!" teriak Andrew. Dia segera mendekati dan membopong tubuh istrinya.


"Andrew!" Zelia yang sedikit sadar melihat bahwa yang membopongnya adalah suaminya.


"Iya ini aku, mana yang sakit?" Andrew sangat khawatir dengan keadaan Zelia. Namun wanita itu kembali menutup matanya. Andrew segera keluar dari rumah itu.


Di luar Han membantunya membukakan pintu mobil. Mereka segera menuju ke rumah sakit untuk menolong Zelia.


Setelah menunggu setengah jam akhirnya sang dokter selesai memeriksa Zelia.


"Bagaimana dok keadaannya?" tanya Andrew panik.


"Tenang saja tuan Andrew, istri dan calon bayi anda hanya mengalami syok saja akibat trauma, saat ini sudah membaik. Tapi saya sarankan agar anda bisa menanyakan penyebab istri anda mengalami traumanya," jelas sang dokter.


"Baik dok," jawab Andrew.


Setelah sang dokter pergi, Andrew menemui Zelia. Di dalam pikirannya kini sedang memikirkan apa yang telah terjadi pada istrinya hingga dia mengalami traumanya.


"Sayang apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Andrew sambil membelai puncak kepala Zelia dan mencium keningnya. Zelia yang merasa seseorang menciumnya pun terbangun.


"Andrew!" Zelia melingkarkan tangannya di leher Andrew, mencoba untuk memeluknya.


"Zelia, sudah tenanglah aku disini!" ucap Andrew menenangkan Zelia.


Zelia menganggukkan kepalanya, dia merasa lebih tenang karena sudah bersama dengan orang yang paling dia cintai.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Andrew pelan saat Zelia sudah mulai tenang.


Zelia tampak ragu-ragu menceritakan kepada suaminya perihal masa lalunya. Tapi dia sudah sangat percaya pada Andrew. Seharusnya suami istri memang harus saling terbuka.


"Sebenarnya," Zelia mulai menceritakan tentang kejadian di masa kecilnya dahulu. Andrew menyimak cerita istrinya.


"Jadi kamu juga pernah jadi korban bullying?" respon Andrew sambil menahan tawanya setelah Zelia selesai bercerita. Melihat respon suaminya, Zelia merasa kesal.


"Jangan menertawakanku!" rengek Zelia.


"Baiklah-baiklah aku tak akan menertawakanmu. Tapi tunggu dulu ceritamu hampir mirip dengan kisahku," ucap Andrew.


"Maksud kamu apa Ndrew?" tanya Zelia.


"Apa itu terjadi di usiamu ke tujuh tahun dan di danau xxx?" tanya Andrew, Zelia mengangguk.


"Bagaimana kamu tahu, aku tidak menyebutkan tentang itu?" tanya Zelia lagi.


Andrew tersenyum kecil. Sambil mendekatkan keningnya di kening Zelia.


"Karena aku lah yang menyelamatkanmu waktu itu."


Zelia tampak terkejut mendengar pengakuan dari Andrew.


"Jadi itu kamu?" tanya Zelia, Andrew mengangguk. Zelia lalu memeluknya.


"Makasih untuk waktu itu, aku tak menyangka kita bertemu lagi dan berjodoh saat ini."


"Tapi Ndrew dia sudah kembali!" ucap Zelia kembali.


"Sudah, kamu jangan terlalu memikirkannya. Kita akan menghadapi dia bersama-sama."


"Iya Ndrew."


Keduanya saling memeluk untuk menenangkan diri. Terlalu banyak lika-liku yang mereka hadapi selama bersama. Meski setelah hari ini mereka mengalami hal buruk lagi, mereka harus tetap bersama dan menghadapi bersama juga.


Di tempat lain, Robi menerima laporan bahwa sanderanya telah lolos. Robi hanya menanggapinya dengan senyuman penuh arti di bibirnya.


"Aku pasti akan menghancurkan kamu, Andrew Tan."


Robi memilah-milah sebuah cetakan foto di mejanya. Foto mana yang terbaik yang akan dia berikan untuk hadiah seseorang kali ini. Robi harus memilih dengan hati-hati.