
Rasa canggung kini begitu terasa diantara Alea dan Raffa. Keduanya saling diam saat makan malam bersama.
"Oh ya Raffa, gimana rencana kamu buat ke depan?" tanya Andrew pada Raffa setelah selesai makan malam.
"Raffa mulai minggu depan bakal ngurus bisnis di sini om, udah selesai buat liburannya," jawab Raffa.
"Ya itu memang perlu, untuk masa depanmu juga."
"Iya om, jadi maaf seminggu ke depan Raffa masih numpang di sini sementara," ucap Raffa.
"Kamu bilang apa sih Raf, kamu tinggal di sini selamanya juga gak apa-apa kok." Kali ini Zelia yang berbicara.
"Iya Raf, om juga setuju kok apa yang di ucapkan oleh istri om."
"Makasih om, tapi Raffa udah beli apartemen sendiri kok. Seminggu lagi Raffa bakal pindah ke sana."
"Yah kak Raffa ngapain sih pindah? Arya jadi gak bisa main basket bareng kak Raffa lagi dong," rengek Arya setelah mendengar pembicaraan mereka.
"Kan ada kak Arkan Ya," jawab Raffa santai.
"Ah kak Arkan gak asik dia sibuk di luar melulu," jawab Arya melirik kakak laki-lakinya.
"Apaan sih dek, emang kakak lagi sibuk kok," Arkan mulai membuka suaranya.
"Sibuk merhatiin cewek itu kan?" ucap Arya keceplosan.Seketika itu juga Arkan menutup mulut Arya dengan tangannya.
"Hish apaan sih!" bisik Arkan pada Arya.
"Hah Arkan lagi Pdkt?" tanya Zelia penasaran.
"Gak kok ma, Arya ni suka ngelantur kalau ngomong!" jawab Arkan secepat mungkin. Bahkan dia memaksa Arya untuk menganggukkan kepalanya lewat sorotan mata pria itu.
"Udah jangan pada ribut kalian berdua. Oh ya Raffa kalau perlu bantuan buat pindah panggil aja bi Rani biar bantu kamu," ucap Zelia.
"Iya tan."
Tiba-tiba Alea berdiri begitu saja. Membuat semua orang menatapnya.
"Aku udah selesai makannya ma, pa, aku akan ke kamar dulu," ucap Alea lalu pergi meninggalkan meja makan dengan raut wajah penuh tanda tanya. Semua orang yang berada di meja makan itu saling menatap heran. Ada apa dengan Alea saat ini.
"Om tante, Raffa sudah selesai juga. Raffa pamit dulu ke kamar," ucap Raffa.
"Baiklah," jawab Andrew.
Raffa segera undur diri dari ruang makan itu. Dia ingin menyusul Alea. Ada hal yang aneh dengan gadis itu sejak dia mengatakan akan pindah dari rumahnya.
Sampai di depan kamar gadis itu. Raffa mencoba mengetuknya. Alea lalu membukanya beberapa saat kemudian.
"Ada apa?" tanya Alea dingin.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Raffa.
"Aku mengantuk, besok saja!" ucap Alea dengan malas. Dia hendak menutup pintu kamar. Tapi Raffa dengan sigap menahannya.
"Kamu marah soal aku akan pindah?" selidik Raffa.
"Itu bukan urusanku. Kalau mau pindah malah lebih cepat lebih baik!" jawab Alea ketus.
"Baguslah kalau kamu rela aku pindah!" ucap Raffa lalu melepaskan tangannya dari pintu yang hendak Alea tutup.
Alea hanya bisa terdiam mendengar respon dari pria di depannya itu.
"Maaf aku mau istirahat," ucap Alea.
Cup. Raffa mencium kening Alea. Sekali lagi hal itu membuat Alea terkejut.
"Baiklah, selamat malam," ucap Raffa di selingi senyuman di bibirnya. Alea masih mematung di tempat mendapat perlakuan seperti itu.
Sedangkan Raffa sudah pergi ke kamarnya. Alea segera menutup pintu kamar miliknya. Tubuhnya melorot begitu saja ke lantai.
"Kenapa sih kamu bersikap seperti ini? Main cium seenaknya?" batin Alea kesal tapi senyuman terukir di bibir gadis itu saat mengingat wajah Raffa. Jantungnya kini berdetak tak bisa terkendali.
"Ah aku pasti sudah gila! Kenapa memikirkannya?" gumam Alea sambil mengacak rambutnya.
Dia lalu bangkit dan berhambur di atas ranjang. Mencoba melupakan kejadian cium paksa berulang kali oleh Raffa. Tapi semakin Alea berusaha melupakannya. Dia malah semakin mengingatnya dengan jelas.
Keesokan paginya, saat di dalam kelas. Afo berusaha mendekati Alea kembali. Namun dia enggan lagi bersama pria itu setelah kejadian semalam menimpanya.
"Alea aku minta maaf, aku janji tak akan mengulanginya lagi," ucap Afo saat mereka berdua di dalam kelas yang masih sepi.
"Jangan ganggu aku lagi Fo, aku gak bakalan lupa perbuatan kamu itu!" ucap Alea penuh dengan amarah.
"Alea tolong maafkan aku," bujuk Afo sambil mendekati gadis itu lagi.
Di balik pintu ruang kelas itu telah berdiri Arkan yang dari tadi mendengarkan mereka berdua berbicara. Arkan sebenarnya hendak memberikan buku catatan milik Alea yang tertinggal di rumah. Tapi malah dia mendengar pembicaraan itu.
Arkan segera menghampiri keduanya. Dia menatap tajam ke arah Afo.
"Alea apa yang terjadi?" tanya Arkan.
"Kakak," Alea terkejut dengan kedatangan kakaknya.
"Bukan apa-apa kok kak," jawab Alea secepatnya agar kakaknya tidak menaruh curiga.
"Kamu yakin dek?" tanya Arkan.
"Iya kak, tumben ke sini?" tanya Alea.
"Oh ini, punyamu kan dek?" tanya Alea sambil menyerahkan buku catatan di tangannya.
"Iya kak." Alea lalu menerima buku itu.
"Ya udah kakak ke kelas dulu. Kalau ada yang gangguin kamu bilang langsung ke kakak. Biar kakak patahkan tangan dan kakinya!" ucap Arkan serius sambil melirik ke arah Afo.
"Siap kak, gak akan ada yang berani ganggu Alea kok."
"Ya udah belajar yang bener dek!" Arkan lalu pergi meninggalkan kelas adiknya.
Ruang kelas yang tadinya sepi mulai di penuhi oleh siswa dan siswi yang lain. Alea segera kembali ke tempat duduknya.Begitu juga Afo yang masih menyimpan sejuta kata untuk gadis itu.
Sayangnya karena satu kesalahan fatal membuatnya harus kehilangan kesempatan bersama gadis itu. Afo menyesali semua itu. Tapi kini percuma karena Alea bahkan tak memberinya ruang untuk Afo berdiri di samping gadis itu. Apalagi hatinya tak mungkin menerimanya lagi.