
Alea tengah sibuk dengan beberapa peralatan di dapur. Gadis itu sedang memasak untuk dirinya dan kedua saudara laki-lakinya.
Dia terpaksa harus memasak karena kedua orang tuanya tidak di rumah. Andrew dan Zelia sedang keluar negeri demi pekerjaan mereka. Zelia selalu menemani Andrew jika harus berkunjung ke luar negeri seperti saat ini.
Hari ini Alea harus menjadi koki untuk kedua saudaranya. Ini terjadi karena pembantu di rumah mereka tiba-tiba meminta izin untuk pulang kampung.
Alhasil Alea sebagai wanita harus memasak untuk saudaranya.
Arya yang sudah tak bisa menahan laparnya lagi, dengan hati-hati mendekati kakaknya yang tengah sibuk di dapur.
Arya mengintip dari samping tubuh Alea, apa yang sedang di masak oleh kakaknya itu.
Alea yang menyadari ada yang memperhatikannya segera menatap tajam ke arah Arya.
Wajahnya di buat segarang mungkin karena masih mengingat kejadian tadi pagi.
Arya hanya tersenyum kecil melihat wajah kakak perempuannya yang sudah siap untuk melahap dirinya.
"Hehe kak Alea yang cantik, masak apa sih, Arya udah laper banget nih!" goda Arya pada Alea.
Bukannya mendapat jawaban yang baik, Arya justru mendapat tatapan yang lebih tajam lagi dari Alea.
"Duduk dulu aja, bentar lagi matang!" ucap Alea sedikit judes.
Arya hanya menurut saja, tak berani melawannya lagi.
Arkan yang baru selesai mandi segera menyusul adik-adiknya ke dapur. Setelah sampai di sana, dia melihat Arya yang duduk sambil menyangga dagunya dengan kedua tangan. Bahkan bibirnya mengerucut. Arkan tahu pasti sang adik tengah kesal saat ini.
"Kenapa sih manyun gitu dek?" tanya Arkan saat dia sudah duduk di samping Arya.
"Tuh," tunjuk Arya pada Alea. Arkan mengerti sekarang jika adiknya tengah merajuk pada Alea.
Klotak.
Glek.
Piring berisi nasi goreng yang sangat berantakan dilihat dari penataannya. Dan entah sayur apa yang di masukkan ke dalam nasi goreng itu. Apalagi rasanya, Arya dan Arkan meragukan bagaimana rasa masakan itu.
Alea yang sudah mengambil sepiring nasi goreng untuk dirinya sendiri segera duduk di depan kedua saudaranya. Ketiganya saling memandang di atas meja makan.
"Kenapa gak dimakan, tadi bilangnya kalian lapar!" ucap Alea garang.
Melihat wajah Alea, Arkan dan Arya segera mengambil sesuap nasi dan memasukkannya ke dalam mulut mereka. Berbagai rasa meledak di dalam mulut keduanya setelah sesuap nasi itu mereka telan.
"Enak?" tanya Alea yang belum menyuap sesendokpun.
Arya dan Arkan mengangguk bersamaan.
"Bagus, tak sia-sia aku belajar dari y**t*be,"ucap Alea percaya diri.
Arya dan Arkan saling memandang, di dalam hati keduanya saling meminta bantuan agar menjelaskan ke Alea.Tapi keduanya tak ada yang berani menyampaikannya.
Hanya ekspresi menangis yang mereka perlihatkan saat Alea tak melihat keduanya.
Alea yang juga sudah lapar segera menyuap nasinya. Satu sendok masuk ke dalam mulutnya. Dan seketika wajahnya tanpa ekspresi apapun.
^^^"Astaga kenapa rasanya seperti ini!" batin Alea.^^^
Alea lalu memandang kedua saudaranya yang tampak memerah di wajah masing-masing.
"Ini sepertinya salah masukin bumbu deh, jangan dimakan lagi. Ayo kita makan di luar saja!" ucap Alea akhirnya.
Keduanya mengangguk cepat, dalam hati Arkan dan Arya bersorak gembira. Dua suap nasi goreng itu masuk ke dalam mulut mereka. Dan mereka harus menahan rasa yang tak karuan itu. Mereka pikir Alea bukan memasak nasi goreng lagi,namun memasak garam. Akhirnya penderitaan keduanya akan segera selesai.