Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Kemarahan Abian yang tak beralasan.


"Al, ayo pulang!"ajak Abian yang tiba-tiba saja datang, dan menarik tangan Alina.


"Kamu apa-apaan main narik tangan orang gitu aja."ucap Devan seraya tangannya mencoba melepaskan tangan Abian yang menyentuh tangan Alina.


"Anda tidak usah ikut campur dengan urusan saya!"Abian mencoba memperingatkan Devan.


"Tapi Alina adalah karyawan saya, jadi saya berhak untuk memastikan keselamatan, dan kenyamanan Alina."tutur Devan yang kembali mencoba melepaskan tangan Abian dari tangan Alina.


"Alina hanya karyawan anda kan, jadi tidak usah berlebihan, ayo Alina kita pulang!"kembali Abian mengajak Alina untuk pergi dari sana.


"Anda juga hanya teman Alina, jadi anda juga tidak berhak mencampuri urusan pribadi Alina."kata-kata Devan membuat Abian menatapnya intens.


Mendengar pembicaraan Abian, dan Devan Alina hanya bisa memejamkan matanya dalam.


"Apa? siapa yang bilang saya hanya teman Alina?"tanya Abian memastikan sambil menatap Alina, dan Devan secara bergantian.


"Alina adalah istri saya, dan mulai besok Alina akan resign dari perusahaan anda."sambung Abian dengan penuh penegasan.


Kata-kata Abian membuat mata Alina terbelalak tidak percaya dengan apa yang di ucapkan suaminya itu barusan.


Begitupun dengan Devan yang sama terkejutnya dengan penuturan Abian.


Alina tidak percaya jika Abian mengakuinya sebagai istrinya bahkan di hadapan bosnya itu.


Ada rasa bahagia yang terselip di hati Alina, ketika mendengar Abian mengakuinya sebagai istri di hadapan orang lain.


"Ayo Alina kita pulang!"Abian menarik tangan Alina, dan mulai membawa Alina pergi dari sana.


Meninggalkan Devan yang masih diam mematung di tempatnya sambil menatap punggung Abian, dan Alina yang kini mulai menjauh dari pandangannya.


Abian membukakan pintu mobil untuk Alina, setelah itu dia juga ikut masuk ke dalam mobilnya, dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Alina hanya diam, dia tidak berani membuka sebuah pembicaraan bersama suaminya itu, karena dia tahu kalau sekarang Abian sedang sangat kesal.


Mobil yang Abian, dan Alina tumpangi pun kini telah sampai di basemen apartemen.


Mereka turun untuk menuju apartemen mereka.


"Tunggu!"ucap Abian saat melihat Alina hendak berjalan menuju kamarnya.


Abian berjalan menghampiri Alina, dan mulai menatap intens wajah istrinya itu.


"Sepertinya kamu sangat senang jika berada di dekat laki-laki itu."tutur Abian dengan mata yang terus menatap tajam wajah istrinya itu.


"Maksud kamu apa?"tanya Alina yang tidak mengerti dengan ucapan sang suami.


"Dimana tadi dia menyentuh kamu, disini?"Abian menyentuh tangan Alina yang tadi sempat di sentuh oleh Devan saat Alina nyaris terserempet sebuah motor.


"Disini?"tangan Abian berpindah menyentuh tangan Alina ke tangan Alina yang satunya lagi.


"Atau disini?"sambung Abian lagi yang kini menyentuh pinggang Alina yang membuat Alina menatap tajam wajah suaminya itu.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan."jawab Alina yang mencoba melepaskan tangan Abian dari pinggangnya.


"Biar aku jelaskan, supaya kamu mengerti."imbuh Abian seraya tangannya menggendong tubuh Alina yang membuat Alina terkesiap di buatnya.


"Kamu mau bawa aku kemana?"tanya Alina yang mencoba memberontak.


"Abi turunkan aku!"pinta Alina yang tidak di hiraukan oleh Abian.


Abian membawa Alina ke dalam kamarnya, dan mulai menurunkan tubuh Alina ke atas tempat tidurnya dengan cukup kasar yang membuat Alina terlihat ketakutan.


"Abi apa yang ingin kamu lakukan?"tanya Alina seraya beringsut.


Abian masih tidak menjawab ucapan Alina, dia malah membuka jas yang kini melekat di tubuhnya.


Melihat itu, Alina menjadi sangat panik, Alina mencoba untuk menghindar dari Abian, namun dengan sekali gerakan tangan Abian langsung membuat Alina kembali terduduk di atas ranjang.


Abian mulai mendekati Alina, dan mulai ikut menaiki kasur king size miliknya itu.


Tanpa ba-bi-bu Abian langsung mel***t bibir Alina dengan sangat rakus yang membuat Alina begitu terkesiap dengan sikap suaminya itu.


Tidak sampai disitu Abian juga langsung merobek baju Alina yang membuat Alina lagi-lagi di buat terkejut dengan sikap sang suami.


Abian mulai menciumi tangan Alina yang tadi sempat di sentuh oleh Devan laki-laki yang sangat dia benci.


Seolah dia menghapus jejak tangan Devan di tangan istrinya itu.


Alina hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu.


Abian melakukannya seolah-olah dia meyakinkan dirinya sendiri jika Alina adalah miliknya, hanya dia yang berhak menyentuh tubuh istrinya itu.


Setelah Abian memposisikan tubuhnya, dia mulai menguasai tubuh Alina.


Dengan sekali hentakan membuat Alina menjerit kesakitan, dan tidak terasa air bening lolos dari sudut mata Alina yang membuat Abian terkejut dengan apa yang telah dia lakukan.


Setelah melihat Alina yang terlihat kesakitan membuat Abian mencoba melakukannya dengan sedikit lembut hingga permainan itu selesai.


Alina, dan Abian tertidur di kasur yang sama.


Pagi menyapa dengan sinar mentari yang membawa kehangatan bagi alam semesta.


Alina mulai mengerjapkan matanya perlahan hingga mata itu terbuka dengan sempurna.


Yang pertama Alina lihat adalah wajah sang suami yang kini masih terlelap tidur di sampingnya.


Bayangan malam tadi mulai teringat jelas di ingatan Alina saat ini, yang membuat Alina begitu marah.


Alina mulai beringsut bangun, dengan sekujur tubuhnya yang terasa sakit.


Dia mulai berjalan menuju kamarnya.


Tidak lama kemudian Abian juga terlihat mengerjapkan matanya hingga mata itu terbuka sempurna.


Menatap ke samping tempat tidurnya yang sudah terlihat kosong.


Memilih beringsut bangun, dan mulai berjalan menuju kamar mandi.


Abian keluar dari kamarnya, sudah dengan pakaian kantornya.


Menatap ke sekeliling apartemennya yang terlihat sepi.


"Alina kemana? apa dia masih di dalam kamarnya ya?"ngomong sendiri seraya kakinya berjalan menuju kamar Alina.


Tok..! tok..! tok...! Abian mengetuk pintu kamar Alina.


Namun tidak ada sahutan dari dalam sana, yang membuatnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar istrinya itu.


Abian membuka pintu kamar Alina perlahan hingga pintu itu terbuka cukup lebar.


Matanya menyisir setiap sudut kamar sang istri, namun dia tidak menemukan sosok yang di carinya.


"Al, Alina!"panggil Abian dengan kaki yang berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar Alina.


Namun lagi-lagi Abian tidak menemukan sosok yang di carinya. Alina tidak ada di kamar mandi.


"Apa dia pergi kerja lagi ke perusahaan Devan?"gumam Abian sambil mengepalkan kedua tangannya.


Abian langsung berjalan keluar dari apartemennya dengan terburu-buru.


Kini Abian tengah berjalan untuk memasuki perusahaan Yogaswara.


Brakk..! Abian membuka pintu ruangan Devan dengan sangat kasar yang membuat Devan terkejut di buatnya.


"Dimana Alina?"tanya Abian yang langsung pada inti.


"Alina tidak ada disini, bukannya kamu sendiri yang melarangnya untuk bekerja disini."jawab Devan yang beranjak dari duduknya.


"Jangan bohong kamu, kamu pasti menyembunyikan Alina kan?Alina adalah istriku, dan aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Alina."Abian memperingatkan.


"Kita lihat saja nanti, apa masa lalu akan terulang lagi atau tidak."jawab Devan sambil tersenyum licik yang membuat Abian tambah panas di buatnya.


"Berani kau menyentuh Alina, maka aku akan membuat mu menyesal,!"ancam Abian sebelum keluar dari ruangan sahabat masa kecilnya itu.