Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Keluar dari Jendela


"Alea tunggu aku datang," gumam Raffa saat di dalam pesawat. Dia tengah memikirkan gadis itu. Serta bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Alea agar dia tak salah paham lagi padanya.


Raffa berharap gadis itu bisa menerimanya kembali. karena Raffa yakin bahwa Alea juga menyukainya.


Sedangkan saat ini Alea tengah gundah karena Arkan mengurungnya selama liburan sekolah. Setelah kemarin dia bertemu dengan Reihan. Arkan marah besar padanya.


Dia hanya bisa menghubungi pria itu lewat panggilan video. Meminta maaf atas kesalahan kakaknya yang sudah memukul Reihan.


Tentu saja Reihan tahu alasan Arkan memukulnya. Selain karena melindungi Alea, pasti juga karena kemarahan Arkan tentang masa lalu mereka.


Reihan bukan berarti tidak pernah meminta maaf secara langsung pada Arkan tentang masa lalu. Tapi Arkan yang selalu menutup diri untuk menerima maaf dari Reihan.


Karena menurut Arkan penyebab kematian sahabat mereka adalah Reihan. Jika saja Reihan tidak ceroboh maka semuanya tidak akan berakhir seperti sekarang.


Reihan sudah tak tahu harus meluluhkan hati pria yang dulu adalah sahabatnya itu dengan cara apa lagi. Arkan selalu menghindarinya.


"Hei Alea!" panggil Reihan saat mereka melakukan panggilan video.


"Hum," Alea menjawab sambil bermalas-malasan di atas ranjang.


"Ayo ikut aku!" ajak Reihan.


"Kamu sudah gila ya! Aku sedang di kurung kakakku karena kamu," ucap Alea cemberut.


Seharusnya dia bersenang-senang di liburannya kali ini. Tapi malah terkurung dan tak bisa berhenti memikirkan kenyataan tentang cinta dan persahabatannya yang kacau akhir-akhir ini.


"Katanya kemarin ingi melihat tempat itu di malam hari, ayo malam ini ke sana!"ajak Rei lagi.


Alea mengerutkan dahinya. Dia heran dengan ide yang di ucapkan oleh sahabatnya itu.


"Terus aku gimana keluarnya Rei? kamu tahu kan kakakku sedang menjaga pintu rumah saat ini?" jelas Alea.


"Aku punya ide, gimana kalau kamu lewat jendela kamarmu, aku akan menunggumu di bawah!" ide Reihan terdengar sangat sederhana, tapi Alea tak tahu apakah bisa melakukannya atau tidak.


"Kamu yakin bisa berhasil, gimana kalau ketahuan?" tanya Alea.


"Gak lah, kita coba dulu aja!"


"Baiklah, tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu saat kita bisa keluar nanti, bagaimana?" tanya Alea.


"Tentang apa itu?"


"Nanti aku beri tahu!" jawab Alea.


"Baiklah terserah kamu!" Rei lalu menutup panggilan mereka.


Tiga puluh menit kemudian Rei sudah sampai di dekat rumah Alea. Pria itu segera menyelundup ke bawah kamar gadis itu. Dia lalu mengirim pesan pada Alea agar segera membuka jendelanya.


Alea yang sudah menunggu Rei segera beraksi. Dia menurunkan sprei yang sudah dia sambung agar lebih panjang. Dia melemparnya ke bawah jendela. Di sana Rei sudah menunggu.


"Hati-hati," bisik Rei. Alea mengangguk dan segera meraih kain itu untuk pegangannya turun ke bawah.


Baru kali ini dia nekat. Siapa suruh Arkan mengurungnya di dalam kamar. Dia harus melakukan ini agar tak mati kebosanan di dalam kamar.


Alea bisa dengan mudah turun dengan kain itu. Tapi saat hampir sampai di bawah tangannya sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya. Alhasil pegangannya terlepas, Alea ketakutan karena akan jatuh dan dia refleks menutup matanya.


Tapi Alea tak merasakan sakit di punggungnya. Perlahan dia membuka matanya. Wajah Rei kini tepat menghadap ke arahnya. Seketika Alea merona karena malu.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Rei dengan suara pelan.


Ternyata Rei menangkap tubuhnya agar tak jatuh ke tanah.


"Aku gak apa-apa, makasih!" Alea segera berdiri.


"Ayo, sebelum kakakmu menyadari kita di sini!" ajak Reihan segera menarik tangan Alea.


"Baiklah!"


Keduanya menuju ke mobil milik Reihan yang terparkir tak jauh dari rumah Alea. Mereka akhirnya berhasil keluar dari rumah gadis itu tanpa ketahuan oleh Arkan.


Saat Alea dan Rei sudah sampai di dalam mobil milik pria itu. Keduanya saling bertos ria dengan kedua tangan mereka. Kedua tertawa senang karena bisa lolos malam ini.


"Hahaha ternyata kak Arkan bisa juga kecolongan kayak gini, pasti dia bakalan bingung banget nyariin aku!" tawa Alea tak bisa berhenti memikirkan wajah kakaknya yang kebingungan.


"Gimana asik kan main kucing-kucingan kayak gini?" tanya Rei sambil mengemudikan mobilnya.


"Betul tapi gimana kalau kak Arkan marah?" tanya Alea.


"Sebelum dia marah, kamu harus sudah kembali ke kamarmu!" ucap Rei.


"Benar juga!" ucap Alea tak khawatir lagi.


Keduanya lalu menuju ke tempat kemarin yang belum sempat Alea lihat keindahannya di malam hari.


Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai. Alea segera keluar dari mobil dan menuju ke pinggir bukit.


"Wah bagus banget Rei pemandangannya!" ucap Alea kagum melihat keindahan di depan matanya.


"Bagus kan, sayang kalau kamu gak melihatnya!" ucap Rei. Alea mengangguk setuju.


"Oh ya aku mau tanya sesuatu padamu Rei," Alea memasang tampang wajah serius.


"Apa itu?" tanya Rei.


"Sebenarnya masalah apa antara kamu dan kakakku sampai dia sangat marah padamu seperti ini?" tanya Alea.


Rei menatap jauh ke arah langit, seolah sedang mengingat sesuatu tentang kejadian itu. Luka itu teramat sulit sembuh baginya.


"Sebenarnya,,," Rei akhirnya menceritakan semua tentang masa itu pada Alea dari awal hingga akhir. Alea mendengarkan dengan perasaan tak karuan.Dia bisa merasakan bagaimana perasaan Rei dan juga kakaknya.


Sebenarnya masalahnya adalah diantara keduanya yang tak bisa saling menerima kenyataan. Tapi memang sulit jika orang yang di pergi adalah orang yang sering bersama mereka.


Rei menghela napas panjang setelah menceritakan hal itu pada Alea. Ada perasaan lega saat dia mencoba berbagi kegundahan hati.


"Maaf Alea kamu harus tahu sisi lain dariku, tapi semua itu sudah berlalu, dia sudah tenang di sana," ucap Rei.


"Dia belum tenang Rei!" Alea tiba-tiba mengucapkan hal itu.


"Maksud kamu?" tanya Rei bingung.


"Bagaimana gadis itu bisa tenang di sana jika kedua sahabatnya tak bisa akur seperti ini?"


"Ya kamu benar!" Di kedua mata Rei terlihat sangat kosong. Alea bisa melihatnya, pasti Rei sangat menyayangi gadis itu.


Alea menepuk pundak Rei.


"Rei kamu jangan khawatir, aku pasti akan membantumu berbaikan lagi dengan kakakku!" ucap Alea yakin.


Rei lalu membalikkan tubuhnya agar menghadap Alea. Dia lalu menyentil dahi gadis itu.


"Aduh sakit!" ucap Alea mengaduh.


"Dasar bodoh emangnya kamu bisa menjinakkan Arkan? Kamu aja di tindas olehnya!" sindir Rei pada Alea.


"Jangan meremehkan aku ya Rei, gini-gini aku bisa membuat Arkan bertekuk lutut di hadapanku! Dia pasti mau menuruti keinginanku!" ucap Alea sambil tertawa senang.


"Apanya, baru di kurung aja udah cemberut kok!" ejek Rei lagi.


"Duh Rei jangan jatuhin semangat aku dong," ucap Alea.


Rei hanya tertawa kecil mendengar Alea seperti itu saat ini. Tapi bagi Alea tawa Rei begitu murni dari hati pria itu.


"Yah setidaknya aku hanya bisa menghiburmu seperti ini Rei," batin Alea. Keduanya saling menikmati kebersamaan mereka malam ini.


Tapi keduanya tak tahu bagaimana murkanya Arkan saat ini di rumah. Pria itu tidak mendapati Alea di kamarnya. Sedangkan sebuah kain menggantung di jendela gadis itu.


"Awas kamu Alea!" ucap Arkan menahan marah setelah melihat Alea tak di kamarnya. Pria itu sudah tahu siapa yang mengajari Alea seperti ini. Itu tak lain adalah Reihan.