Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Kejutan


Liera tampak cantik mengenakan gaun putih pernikahannya. Dari wajahnya terlihat jelas bagaimana isi hati wanita itu. Tentu saja dia sangat bahagia karena hari ini tiba. Hari dimana dia akan menjadi istri dari Andrew Tan.


Dengan di bantu oleh penata rias terbaik pilihan Andrew, Liera tampak begitu cantik.


"Kamu cantik sekali Liera," puji Vie pada sahabatnya itu. Dia berkata jujur tentang kecantikan Liera. Namun hatinya menyayangkan perilaku sahabatnya itu. Meski Vie tak tahu sebenarnya yang terjadi antara sahabatnya itu dengan Andrew Tan. Vie percaya semua ini pasti hanya jebakan dari Liera.


Tapi sebagai sahabat, nasihatnya benar-benar tak di hiraukan oleh Liera. Vie hanya bisa mendoakan semoga Liera cepat sadar akan kesalahannya.


"Makasih Vie, aku senang banget akhirnya bisa menikah dengan Andrew Tan."


"Tapi bagaimana dengan istri pertamanya?" tanya Vie yang langsung membuat mood Liera turun drastis. Dia harus mengingat Zelia yang pasti wanita itu lebih segalanya dari dia.


Liera teringat bahwa hanya status saja yang dia miliki dari Andrew. Bukan cinta atau tubuh pria itu.


"Aku tak peduli dengannya," jawab Liera begitu saja.


"Liera kamu juga wanita, harusnya kamu tahu perasaan Zelia bagaimana?" Vie mencoba menasihati Liera kembali. Namun tatapan tajam malah yang dia dapatkan kali ini.


"Vie aku mengundangmu ke sini bukan untuk menceramahiku ya!" Liera mulai kesal dengan sikap Vie yang baginya hanya sok menasihati. Liera berfikir bahwa Vie tak pernah jatuh cinta jadi dia belum merasakan apa yang dia rasakan saat ini.


"Terserah kamu Liera, aku harap kamu bahagia," Vie akhirnya menyerah berdebat dengan Liera tak akan membuatnya tenang.


"Ya itu yang ku mau, ngomong-ngomong kenapa Andrew belum datang juga?" Liera menyadari bahwa calon suaminya belum datang dari tadi.


"Mungkin dia sudah di bawah, ayo ku antar ke sana," ajak Vie. Liera mengangguk.


Perlahan Vie membantu Liera berjalan menuruni anak tangga. Ternyata di lantai bawah para tamu yang Liera undang telah datang satu persatu.


Tapi ekor matanya tak menemukan keberadaan Andrew. Hatinya mulai was-was saat menyadari hal itu.


"Kemana Andrew? Jangan bilang kalau dia kabur dariku?" batin Liera mulai khawatir pernikahannya akan gagal.


Tapi sesaat kemudian hatinya kembali lega karena Andrew akhirnya datang juga. Tapi dia di temani seseorang yang tangannya diikat dan wajahnya ditutup dengan kain.


"Andrew siapa dia?" tanya Liera. Semua orangpun memperhatikan keduanya.


Tiba-tiba lampu di ruang itu mati begitu saja. Membuat penerangan sedikit gelap meski dari jendela masih bisa masuk cahaya luar.


Sebuah lampu sorot tiba-tiba mengarah ke Liera. Membuat mata wanita itu harus memicing karena silau dari lampu.


"Andrew ini ada apa sebenarnya?" tanya Liera yang tidak mengerti.


"Para hadirin semua, saya akan memberikan kejutan kepada calon istri kedua saya hari ini!" ucap Andrew penuh dengan kharisma. Semua orang terpukau.


"Ya ampun Ndrew kamu romantis banget sih," ucap Liera pelan. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung hari ini.


Andrew tak menanggapinya, dia hanya tersenyum ke arah Liera. Lalu menatap ke arah asistennya berada.


"Han," Andrew memberi kode kepada Han. Lalu pria itu mengangguk dan memulai pekerjaannya.


Sebuah slide muncul di salah satu dinding di hadapan para tamu. Semua orang di sana langsung fokus ke arahnya. Termasuk Liera.


Rekaman Cctv saat dirinya meracuni Andrew dan juga foto-foto kemesraannya bersama Bram terpampang jelas di sana.


Selanjutnya adalah percakapannya dengan Bram semalam di depan rumah terekam dengan jelas apa yang di ucapkan keduanya.


Liera lemas seketika, usahanya sia-sia. Ternyata inilah kejutan yang diberikan oleh Andrew padanya. Semua orang tak percaya bahwa Liera ternyata seperti itu.


Lampu utama kemudian menyala kembali. Tampak jelas Liera begitu terkejut. Andrew lalu mendekatinya dan sebuah suara tepuk tangan terdengar begitu nyaring di keheningan itu.


Plok plok plok.


Zelia muncul dari balik pintu bersama Afzriel Tan dan Oliv Jhonson. Ketiganya tampak menikmati pertunjukan yang di buat oleh Andrew dan Zelia.


Andrew lalu membuka kain penutup yang di gunakan oleh pria di sebelahnya.Pria itu adalah Bram. Sekali lagi Liera terkejut.


"Sial semua ini hancur karena Bram!" Liera kesal sekali dia lalu mendekati Bram untuk menamparnya.Namun tangan Liera di hentikan oleh Andrew.


"Ndrew percayalah padaku, pria ini berbohong. Dia hanya ingin memisahkan kita!" jelas Liera namun tak begitu Andrew pedulikan.


"Liera sejak awal aku sudah tahu kebohonganmu, dan sejak awal pula aku tak pernah berniat menikahimu."


Andrew tersenyum puas setelah bisa membalaskan perlakuan Liera kepadanya. Kemudian dia memeluk Zelia di pinggangnya.


"Dan kamu harus tahu sampai kapanpun aku akan setia dengan istriku tercinta," imbuh Andrew.


Liera benar-benar kesal telah dipermainkan seperti ini. Vie yang melihat semua itu sebenarnya kasihan kepada Liera. Namun dia menjadi jijik dengan kelakuan sahabatnya itu yang telah menjebak Andrew.


"Sadarlah Liera, kamu masih bisa memperbaiki hidupmu bersama Bram." Kali ini Zelia yang berbicara.


"Kamu wanita sialan Zelia!" teriak Liera kesal dengan wanita dihadapannya itu.


"Bukankah itu seharusnya julukan untuk dirimu sendiri Liera? Kamu yang main-main dengan api. Maka jangan kecewa jika api itu membesar dan membakarmu saat ini."


Zelia mengatakan hal tersebut sambil tersenyum kecil. Siapapun yang melihatnya pasti bergidik ngeri. Tak menyangka bahwa Zelia bisa secerdik itu.


"Aku akan membunuhmu Zelia!"


Namun di luar dugaan Liera mengambil sebuah pisau yang terletak di atas meja kue tak jauh darinya. Dan mengarahkannya pada Zelia.


Semua orang terkejut dengan hal itu, begitu pula dengan Zelia yang menjadi incarannya. Untung saja pengawal pribadi Andrew dengan sigap menendang tangan Liera dari samping. Sehingga pisau yang di bawanya terjatuh dan jadi tak mengenai Zelia.


"Han bawa wanita gila ini ke kantor polisi, dan pastikan hukumannya tak boleh ringan!" perintah Afzriel Tan.


Vie dan Bram hanya bisa diam tak dapat membantu Liera. Karena sikap wanita itu sudah di luar batas kendali.


Demi keamanan Bram tak di lepaskan begitu saja oleh keluarga Tan. Dia masih di kurung dalam ruang bawah tanah oleh Andrew. Entah sampai kapan pria itu akan dibebaskan.


Dan untuk Liera, Andrew akan memastikan sendiri dengan matanya bahwa wanita itu benar-benar di kurung dalam penjara karena kesalahannya.


Zelia merasa tenang akhirnya wanita yang mengganggu hubungannya dengan Andrew bisa disingkirkan. Dia berjanji untuk percaya kepada suaminya.