
Hamparan pasir putih terbentang luas di pelupuk mata, air laut yang sesekali membelai kaki putihnya, membawa keceriaan tersendiri bagi pemilik kaki itu.
Zelia berdiri di tepian pantai sambil menikmati angin laut sore di sana, sedangkan di belakangnya Andrew memeluk pinggang ramping Zelia, memberikan ketenangan bagi kedua tubuh itu.
Ya kini keduanya tengah asik memadu kasih di salah satu tempat terbaik di kota tersebut,sesuai permintaan Zelia,Andrew menuruti saja kemauannya.
Wanita itu tak meminta ke luar negeri sebagai tempat bulan madu mereka, tapi lebih memilih di dalam negeri dengan hamparan pasir putih sebagai pemandangannya.
Salah satu villa keluarga Tan kebetulan memiliki lokasi yang di inginkan oleh Zelia, tak perlu menunggu lama Andrew segera membawanya ke tempat itu.
Setelah urusan perusahaan dan kampus selesai dia tanpa memberitahu Zelia akan kemana, membawa wanita itu ke villanya sore itu.
"Sayang bagus banget tempatnya," mata Zelia tak berhenti terpukau akan keindahan alam di depannya setelah mereka tiba di pantai.
Matahari yang mulai tenggelam begitu menarik perhatian wanita itu, sesekali dia meminta Andrew memfoto dirinya dan begitu sebaliknya.
Setelah lelah keduanya memilih duduk di tepian pantai sambil memeluk satu sama lain, hingga matahari benar-benar tenggelam, keduanya memutuskan untuk kembali ke villa.
"Ahh nyamannya," Zelia menggeliat di atas ranjang setelah selesai membersihkan dirinya sepulang dari pantai.
Andrew yang melihat tingkah menggemaskan istrinya itu tak kuasa lagi menahan diri, dia lalu menerkam tubuh Zelia, membiarkan tubuh wanita itu di bawah kungkungannya.
"Hei-hei sayang, kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Zelia yang terkejut akan tingkah suaminya itu.
"Siapa suruh menggodaku!" balas Andrew.
"Siapa yang menggodamu?" Zelia membantah, tapi kemudian memandang Andrew yang tatapan matanya sudah menuju ke aset berharga milik Zelia.
Wanita itu baru tersadar bahwa dia menggunakan pakaian tipis yang bahkan memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas saat ini.
"Ah aku lupa kenapa mengenakan pakaian seperti ini?" batin Zelia.
"Em itu sepertinya aku-" belum selesai Zelia berbicara tiba-tiba suara sesuatu sangat mengganggu keduanya.
Kruyuuk kruyuuuk.
Zelia menahan rasa malunya karena mendengar suara dari perutnya sendiri.
Andrew menahan tawanya,lalu berdiri dan melepas kungkungannya pada Zelia.
Beberapa menit kemudian seorang pelayan membawakan keduanya makan malam, Andrew menerimanya di ambang pintu kamarnya.
"Silahkan tuan, ini makanannya," ucap sang pelayan, Andrew mengangguk kemudian menerimanya.
Setelah itu dia kembali ke tempat Zelia berada.
"Ayo makan, biar nanti gak lemas waktu kita olahraga malam," ajak Andrew tapi dengan sedikit meledek Zelia, wanita itu hanya melototkan matanya ke arah Andrew.
Pria itu malah tertawa melihat reaksi dari istrinya, sambil tangannya menyuapi Zelia, wanita itu dengan senang hati menerima suapan dari Andrew.
Meski sedikit kesal dia tak bisa menolak perlakuan romantis dari suaminya itu.Setelah makan malam selesai keduanya kini tengah bersantai di balkon kamar mereka.
Keduanya tengah berada di sebuah kursi panjang, Zelia duduk dan Andrew berbaring dengan bantal paha milik istrinya.
"Andrew?" panggil Zelia, tapi wanita itu tak memandang wajah Andrew, dia fokus menatap langit yang tengah bertebaran bintangnya.
"Ya, kenapa sayang?" jawab Andrew sambil memainkan ujung rambut panjang Zelia yang beberapa tergerai ke wajahnya.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Zelia, Andrew mengkerutkan dahi saking herannya.
"Tentu saja, kenapa menanyakan hal itu?" tanya Andrew.
"Bagaimana kalau aku tak bisa memberikanmu anak? apa kamu masih akan mencintaiku seperti sekarang?" tanya Zelia, kali ini Zelia menatap wajah suaminya.
Andrew tersenyum lalu membelai wajah Zelia, menyingkirkan beberapa rambut dari wajah wanita itu.
" Jangan berbicara seperti itu, kamu akan baik-baik saja," ucap Andrew.
"Tapi aku takut tak bisa-," jari telunjuk Andrew menyentuh bibir wanita itu.
"Apapun yang terjadi perasaanku padamu tak akan pernah berubah, aku tetap akan mencintaimu, sekarang ataupun nanti," ucap Andrew, kedua mata Zelia mulai berkaca-kaca, tapi Andrew tak mengizinkan air mata wanita itu untuk sempat jatuh ke pipinya.
Andrew lalu menggendong Zelia secara tiba-tiba ke dalam kamar dan meletakkan tubuh wanita itu ke atas ranjang.
"Ahh," Zelia mendesah karena Andrew tiba-tiba mulai menggerayanginya, hingga malam panjang tak bisa mereka lewatkan begitu saja.
Hanya ada suasana panas diantara keduanya, hingga mereka tak tahu kapan mereka akan menyelesaikan olahraga malam itu.