
Abian menoleh ke belakang, dan ternyata tidak ada siapa-siapa disana.
"Kamu ngerjain aku al?" ucap Abian yang kini kembali menoleh ke arah alina. Namun Alina sudah tidak ada disana yang membuat Abian semakin kesal di buatnya.
"Awas kamu Al, aku balas nanti" gumam Abian yang kini mulai melangkahkan kakinya menuju kamar.
Abian memasuki kamarnya, dan terlihat Alina sudah bergelung di bawah selimut yang tebal nan hangat itu.
Abian mulai berjalan sedikit untuk bisa menaiki sebuah ranjang king size miliknya itu.
Menoleh ke arah Alina yang tidur membelakanginya.
Abian mulai membaringkan tubuhnya dengan mata yang terus menatap Alina yang tidak bergerak.
"Al, kamu sudah tidur?" bisik Abian yang tidur miring ke arah Alina.
Namun tidak ada jawaban dari Alina, yang membuat Abian benar-benar kesal di buatnya.
"Al..!" kembali Abian berbisik supaya istrinya itu bangun, dengan mendekatkan tubuhnya pada sang istri.
"Hemm..!" jawab Alina singkat.
"Kamu beneran sudah tidur Al?" tanya Abian lagi yang kini tidak mendapatkan jawaban dari Alina.
Tidak dapat jatah dong malam ini. Suara hati Abian sambil mendengus kesal.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Pagi menyapa dengan mentari pagi yang begitu cerah, dan indah.
Alina mulai menggeliat bangun dari tidur nyenyak nya.
Saat Alina membuka matanya dia begitu terkejut karena sudah ada Abian disana yang sedang menatapnya.
"Kamu..?" ucap Alina yang merasa salah tingkah karena Abian melihatnya saat dia baru saja bangun tidur.
"Pagi,!" sapa Abian sambil tersenyum manis.
"Pa-pagi juga." jawab Alina yang kini mulai menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Alina tidak mau kalau Abian melihat keadaannya yang begitu memalukan saat bangun tidur.
Abian menautkan kedua alisnya. "Ngapain wajahnya di tutup pake tangan.?" tanya Abian bingung.
"Enggak!"sergah Alina yang masih menutup wajahnya itu.
Abian mulai membuka tangan Alina yang menutupi wajahnya.
Meski Alina tidak membiarkannya, namun akhirnya Abian berhasil membuat Alina membuka tangannya dari wajahnya.
Kini mata Alina, dan Abian saling pandang. Detik kemudian Abian mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Alina.
Abian mulai mencium lembut bibir Alina, hingga cukup lama bibir mereka berpagut.
Sampai akhirnya Tok..! Tok..! Tok..! Terdengar pintu kamar mereka di ketuk seseorang.
Yang membuat mereka melepaskan pagutan bibir mereka.
"Sebaiknya kamu buka dulu pintunya." saran Alina.
"Sudah biarkan saja." jawab Abian yang kini hendak kembali mencium bibir Alina.
"Takutnya itu mama." ucap Alina lagi yang membuat Abian terlihat kesal. Abian membuang nafas kasar sebelum akhirnya dia beranjak bangun untuk membuka pintu kamarnya itu.
Abian mulai berjalan menuju pintu kamar.
Ceklek! Abian membuka pintu kamarnya. Namun Abian tidak mendapati siapapun disana, yang membuatnya hendak menutup kembali pintu kamarnya itu.
"Om Abi..!" sapa seseorang yang membuat Abian tidak jadi menutup pintu kamarnya.
Terlihat seorang anak kecil kira-kira berumur empat tahun sedang berdiri persis di depan pintu kamarnya.
Abian mengerutkan keningnya. "Dehan..!" ucap Abian bingung.
"Om Abi sedang apa? Kenapa jam segini balu bangun." ucap anak kecil itu seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Abian.
"Ngapain masuk ke kamar om? Ayo cepat keluar!" pinta Abian yang mengekor di belakang anak kecil itu.
"No, aku mau main di kamal om." tolak anak kecil itu yang membuat Abian semakin kesal.
"Hey..! Ada siapa disini?" tanya Alina yang melihat seorang anak laki-laki tengah duduk di tepi tempat tidurnya.
Dehan menatap Alina yang mulai berjalan mendekatinya. "Dia siapa?" tanya Alina pada Abian yang terlihat manyun.
Abian hanya mengangkat kedua bahunya sebelum akhirnya dia berjalan menuju kamar mandi.
Alina mulai duduk di tepi ranjang di samping anak kecil itu. "Hallo, nama kamu siapa?" tanya Alina seraya mengulurkan tangannya pada anak kecil yang kini tengah duduk di sampingnya itu.
"Namaku Dehan tante."jawab anak kecil itu seraya membalas uluran tangan Alina.
"Kamu lucu sekali."ucap Alina gemas seraya mencubit pipi gembul Dehan.
"Ya ampun Dehan, kamu ngapain pagi-pagi sudah ada di kamar om Abi?"suara seorang wanita dari ambang pintu kamar Alina.
Alina berdiri sambil tersenyum." Maaf ya, pagi-pagi seperti ini Dehan sudah ganggu."tutur wanita itu merasa tidak enak, seraya berjalan menghampiri Alina.
"Tidak, Dehan tidak ganggu sama sekali kok." jawab Alina sambil tersenyum.
"Ternyata kalian disini." ucap Lisa yang kini berdiri di ambang pintu kamar putranya itu.
"Iya ini kak, aku nyariin Dehan. Eh taunya malah ada di kamar Abian." ungkap wanita cantik itu.
"Ya sudah, ayo turun kita sarapan bareng!" ajak Lisa yang di jawab anggukan oleh Alina, dan wanita itu.
"Oh iya Al, kenalin ini Lusi adiknya mama." ucap Lisa yang kini sudah duduk di kursi meja makan bersama Alina, dan juga adiknya itu.
"Halo tante, saya Alina." sapa Alina seraya mencium punggung tangan Lusi.
"Kamu cantik sekali Alina." puji Lusi dengan seutas senyum di bibirnya.
"Tante bisa aja." balas Alina sambil tersenyum juga.
"Pagi semuanya!" sapa Abian yang berjalan mendekati meja makan.
"Pantas si gembul ada disini." sambung Abian yang mencubit pipi Dehan yang memang cubby itu, sebelum Abian duduk di kursinya.
"Namaku bukan gembul, tapi Dehan!" protes Dehan manyun, karena tidak terima di sebut gembul.
"Oh, namanya Dehan! Ok siap pak Dehan." ralat Abian yang menggoda keponakan nya itu sehingga menghadirkan gelak tawa di antara mereka.
Sarapan pagi telah selesai. Seperti biasa Alina membantu bi Inah membereskan piring kotor.
Setelah selesai, terlihat Alina tengah berjalan untuk menuju kamarnya, namun tiba-tiba saja tangan Alina di tarik seseorang.
Siapa lagi kalau bukan Abian. "Emm..!" lirih Alina yang kaget karena Abian menutup mulut Alina dengan tangannya.
"Ini aku." ucap Abian seraya melepaskan tangannya dari mulut sang istri.
"Kamu apaan sih, bikin kaget aja deh." decak Alina kesal.
"Sini ikut aku!" Abian menarik tangan Alina, dan menuntunnya masuk ke dalam kamar mereka.
"Sini duduk!" pinta Abian, yang sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang.
Alina hanya bisa menuruti permintaan dari sang suami dengan ikut duduk di tepi ranjang di samping suaminya itu.
"Ada apa?" tanya Alina bingung karena Abian membawanya seperti seorang penculik.
"Aku..!"jawab Abian dengan tangan menyentuh pipi Alina, dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Alina.
" Om Abi..! "teriak Dehan seraya membuka pintu kamar Abian.
Yang membuat Alina langsung mendorong tubuh Abian ke belakang.
"Halo sayang!" Seru Alina yang terlihat gelagapan.
Dehan mulai berjalan mendekati Alina, dan Abian.
Abian mengusap kasar wajahnya. "Hey! Ngapain ke kamar om Abi mulu sih?" decak Abian yang benar-benar kesal.
"Aku mau main sama tante Alina." tutur Dehan.
"Ayo tante kita main di lual!" ajak Dehan seraya menarik tangan Alina untuk ikut bersamanya.
Alina hanya tersenyum sambil beranjak, dan mulai berjalan keluar kamar meninggalkan Abian yang kesal setengah mati.
Abian menyugar rambut. "Dasar pengganggu!" gerutu Abian kesal.