
Seorang gadis manis dengan rambut hitam panjang tergerai begitu saja,dia tengah berjalan menyusuri halaman sekolah. Tatapan para remaja pria tak sedikitpun berhenti darinya.
Memang pesonanya cukup membuat sebagian dari pria-pria itu ingin melihatnya lebih lama. Bahkan ada pula yang berharap agar bisa berkenalan dengannya.
Namun keinginan mereka harus di pendam untuk sementara karena bel tanda masuk kelas telah berbunyi.
Gadis itu masuk ke kantor guru untuk mencari wali kelasnya yang baru. Gadis manis itu adalah Monic. Dia pindahan dari luar negeri.
Karena harus mengikuti kedua orang tuanya, dia juga harus pindah sekolah. Dan di sini lah dia memilih sekolah barunya,demi bisa bertemu dengan seseorang yang pernah dia kenal di masa kecil gadis itu.
Dan sesuai informasi yang dia dapat, orang yang dia cari kebetulan bersekolah di sini juga.
Di dalam kelas Alea dan para siswa yang lain tengah duduk di bangku masing-masing. Sembari menunggu guru mereka yang mungkin masih berjalan ke kelas itu.
Alea mengeluarkan beberapa perlengkapan sekolahnya dari dalam tas. Menata rapi di atas meja.
"Selamat pagi semua," sapa wali kelas mereka.
"Selamat pagi bu!" jawab mereka kompak.
Sedetik kemudian seorang gadis manis masuk ke dalam ruang kelas mereka. Dia menatap ke arah Alea. Rona wajahnya terlihat sangat senang saat melihat gadis itu.
"Anak-anak ini adalah teman baru kalian, dia pindahan dari luar negeri. Ayo kenalkan dirimu?" pinta wali kelas pada gadis itu.
"Baik bu."
"Hai semua perkenalkan nama saya Monic Alecia. Kalian bisa memanggilku dengan Monic saja. Salam kenal," ucap Monic ramah. Di balas oleh para siswa di kelas itu dengan senang hati.
"Baiklah Monic kamu bisa duduk di samping Alea ya," ucap wali kelas itu sambil menunjuk bangku kosong di samping Alea.
"Baik bu," Monic segera ke bangkunya.
"Hai, aku Monic, kamu pasti Alea kan?" tanya Monic saat dia sudah duduk di bangku samping Alea. Sambil mengulurkan tangannya hendak berjabat dengan Alea.
Alea menggapainya dengan senang hati.
"Ya aku Alea salam kenal," jawab Alea ramah.
"Apa kamu tak mengingatku Alea?" tanya Monic.
"Eh apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alea bingung, sembari mengingat wajah Monic yang baginya tak asing itu.
Monic menghela nafas panjang. Dia menatap ke wajah Alea, meski sudah sepuluh tahun tak bertemu. Monic masih saja bisa mengenalinya. Kenapa Alea malah melupakan dirinya.
"Apa kamu tak ingat gadis kecil sepuluh tahun yang lalu sedang menemanimu bermain di taman kota?" tanya Monic memastikan.
Alea mencoba mengingatnya,dia memang payah dalam hal ingatan tentang masa lalu. Entah kenapa otaknya bisa seperti memori yang baru dan belum pernah terisi sebelumnya.
Melihat raut wajah Alea yang ragu seperti itu. Monic sedikit kecewa.
"Apa kamu ingat gadis kecil yang sering kamu panggil Momo?" tanya Monic lagi.
"Hah kamu Momo?" tanya Alea akhirnya mengingat sesuatu. Monic menganggukkan kepalanya dengan cepat mendengar Alea mengingat nama kecilnya.
"Ah jadi itu kamu?" Alea akhirnya mengingat tentang Monic kecil. Mereka pernah berteman dahulu sebelum Monic pergi ke luar negeri meninggalkan Alea.
"Alea aku rindu sekali denganmu," ucap Monic lalu memeluk tubuh Alea.
"Ehem-ehem, Monic sudah berkenalan nya?Tolong jangan membuat keributan!" tegur wali kelas pada Monic dan Alea. Keduanya lalu terdiam
Setelah berkenalan, sang guru ternyata sudah datang untuk menggantikan wali kelas mereka. Dan pelajaran pun di mulai. Alea fokus mendengarkan guru yang sedang menjelaskan materi hari ini.
"Bahkan kamu tak berubah Alea," batin Monic.
Saat jam istirahat tiba, Monic meminta Alea menemaninya berkeliling.
Hari ini Alea merasa ada yang kurang dari dirinya. Semalaman dia memandangi ponselnya. Bahkan sampai di sekolahpun masih saja begitu. Entah lah dia sedang menunggu siapa yang akan menghubunginya.
Saat berjalan ke arah kantin, tiba-tiba ponsel Alea berbunyi. Satu pesan di terima. Alea langsung saja meloncat kegirangan saat melihat isi pesannya.
"Kamu kenapa Alea?" tanya Monic yang heran pada temannya itu.
"Gak apa-apa kok, ayo ke kantin. Aku lapar!" ajak Alea. Monic mengangguk dan mengikuti gadis itu.
Sepanjang jalan hingga ke kantin wajah Alea tampak begitu ceria. Sembari memainkan ponselnya.
Monic sudah lama tak bertemu dengan temannya itu. Dia tak tahu apakah sikapnya masih sama atau berubah karena mereka sudah sama-sama dewasa.
Siangnya sepulang sekolah, Alea dan Monic berpisah di gerbang sekolah. Monic terlebih dahulu pulang,sedangkan Alea masih menunggu seseorang.
"Ehem, lama ya nunggunya?" tanya Raffa yang entah sejak kapan berada di depan Alea dengan motor sport barunya.
"Eh kak, enggak kok," jawab Alea.
"Ayo naik!" ajak Raffa.
"Tapi kak, mau kemana?" tanya Alea.
"Udah ikut aja, aku gak bakalan macam-macam ke kamu kok," jawab Raffa. Alea sedikit berfikir beberapa saat,hingga akhirnya dia naik juga ke motor itu.
Sepanjang perjalanan Alea bertanya-tanya, tumben sekali pria di depannya ini mengajaknya pergi ke suatu tempat. Selama ini mereka tak terlalu dekat. Tapi tiba-tiba Raffa menghubunginya siang tadi dan mengajaknya bertemu.
Keduanya sampai di depan sebuah butik pakaian. Alea semakin bertanya-tanya kenapa mereka harus kemari.
"Ngapain ke sini kak?" tanya Alea saat mereka sudah masuk ke dalam butik itu.
"Maaf ya Alea, aku gak beri tahu ke kamu. Sebenarnya kak Raffa minta tolong buat kamu memilihkan baju buat temen kakak. Masalahnya aku gak tahu selera cewek itu gimana?" ucap Raffa ragu-ragu.
Sedetik kemudian tiba-tiba sesuatu yang mengganjal di hati Alea setelah mendengar hal itu.
"Oh gitu ya, gak apa-apa kok. Alea bantuin."
Alea tersenyum meski hatinya kecewa.
"Makasih ya Alea," jawab Raffa sambil memilih beberapa gaun dan menunjukkannya pada Alea.
Gadis itu memberikan penilaian tentang gaun-gaun yang di tunjukkan oleh Raffa. Meski sebenarnya Alea tak terlalu suka dengan gaun-gaun itu. Akhirnya dia memilih salah satu secara acak dan memberikannya pada Raffa.
"Yang ini aja kak, pasti cocok buat dia," ucap Alea sambil memberikan gaunnya pada Raffa.
"Boleh juga, aku ambil yang ini. Oh ya kamu mau yang mana. Kakak akan membelikan untukmu," ucap Raffa penuh rasa terima kasih.
"Eh gak perlu kak, Alea seneng kok bisa bantu kak Raffa."
"Kamu yakin?" tanya Raffa, Alea lalu menganggukkan kepalanya.
Meski sebenarnya Alea berharap, gaun yang di beli Raffa adalah untuk dirinya. Tapi dia menepis pikiran itu dengan cepat.
Setelah keduanya selesai membeli gaun. Raffa hendak mengajak Alea makan siang di restoran. Tapi Alea menolaknya, dia meminta Raffa untuk segera mengantarnya pulang saja. Meski merasa aneh pada sikap Alea, Raffa akhirnya juga menuruti gadis itu.