
Devan berhasil menolong Alina, dan membawanya ke tepi kolam.
Terlihat beberapa tamu undangan ikut berkerumun untuk melihat Alina yang kini telah pingsan.
Devan mencoba menepuk-nepuk lembut pipi Alina. "Al bangun Al."ucap Devan.
Sedangkan Abian dia langsung menghampiri kerumunan itu untuk melihat keadaan sang istri.
"Alina!"ucap Abian dengan tangan mendorong Devan supaya menjauh dari sang istri.
"Al bangun Al."ucap Abian seraya berjongkok, dan mulai menekan-nekan dada Alina.
Sedangkan Devan dia begitu terkejut dengan sikap Abian saat ini.
"Uhuk..!"Alina tersadar dengan mengeluarkan air dari mulutnya.
Setelah melihat Alina mulai sadar, dengan sigap Abian langsung menggendong Alina, dan membawanya pergi dari pesta itu.
Meninggalkan Devan yang kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
Abian mendudukan Alina di jok depan mobilnya, setelah itu dia juga ikut masuk ke dalam mobil.
Melihat Alina yang terlihat kedinginan, Abian langsung membuka jasnya, dan mulai menyelimuti Alina dengan jas miliknya.
Alina hanya memejamkan matanya dengan tubuh yang bersandar ke jok mobil.
Abian langsung memutar kunci mobil, dan mulai melajukan mobilnya.
Sesampainya di basemen apartemen Abian kembali menggendong Alina untuk menuju apartemennya.
Abian menggendong Alina sampai ke kamar Alina.
Membaringkan tubuh Alina ke atas kasur, dan mulai menyelimutinya dengan sebuah selimut.
Namun, Abian bingung karena baju yang kini Alina kenakan basah, dan dia tidak tahu harus bagaimana.
Jika di biarkan Alina tidur dengan baju basahnya maka tidak akan menutup kemungkinan kalau Alina bisa jatuh sakit.
"Gimana ini? mana Mama, dan papah sudah pulang ke rumah lagi."gumam Abian yang kini benar-benar sedang kebingungan.
Abian mondar-mandir di depan ranjang Alina sambil sesekali menatap wajah Alina yang masih saja memejamkan matanya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terlihat Alina mulai mengerjapkan matanya perlahan, hingga mata itu terbuka dengan sempurna.
Menatap langit-langit kamar yang sudah tidak asing lagi baginya. Detik kemudian mulai menyentuh kepala yang terasa sedikit sakit.
Alina mulai beringsut bangun, dan mulai mengingat-ngingat apa yang terjadi padanya.
Bayangan saat dirinya menghadiri pesta semalam mulai bermunculan di ingatan Alina saat ini.
Alina juga mengingat, kalau semalam dia sempat meminum sebuah minuman yang begitu aneh menurutnya.
Sampai dia harus pergi ke toilet karena merasa tidak enak dengan mulutnya. Namun sayang Alina malah terjatuh ke sebuah kolam, dan setelah itu Alina tidak mengingat apapun lagi.
Alina beranjak bangun, dan seketika matanya terbelalak saat mendapati bajunya yang sudah di ganti dengan piyama tidur.
"Siapa yang ganti baju aku?"gumam Alina yang terlihat seperti sedang berpikir.
Alina keluar dari kamarnya, dan mulai berjalan menuju kamar sang suami.
Saat Alina hendak mengetuk pintu kamar Abian, tiba-tiba saja Abian sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya dari dalam.
Abian menautkan kedua alisnya saat mendapati Alina sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu."ucap Alina langsung pada inti.
"Menanyakan apa?"tanya Abian seraya berjalan menuju meja makan dengan Alina yang ikut berjalan di belakang.
"Baju aku di ganti."sahut Alina, yang membuat Abian menghentikan langkahnya.
"Maksudnya siapa yang udah ganti baju aku semalam?"sambung Alina.
"Itu.. Mama."jawab Abian yang kembali melanjutkan langkahnya.
"Iya Mama, semalam kan Mama, dan papah disini."tutur Abian yang kini sudah duduk di sebuah kursi meja makan.
"Apa? berarti Mama dan papah tahu dong kalau semalam aku jatuh ke sebuah kolam di pesta?"tanya Alina.
"Hemm!"jawab Abian singkat.
"Terus sekarang Mama, dan papahnya mana? kok nggak kelihatan?"kembali Alina bertanya dengan mata celikukan mencari kedua mertuanya.
"Mama, sama papah sudah pulang tadi. Katanya ada urusan mendadak."imbuh Abian seraya tangan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alina terlihat seperti sedang berpikir. "Kamu nggak bohong kan?"tanya Alina sambil menyipitkan kedua matanya.
"U-untuk apa aku bohong?"jawab Abian yang terlihat sedikit gugup sambil memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
Alina membuang nafas kasar. "Ya sudah kalau gitu."ucap Alina seraya berbalik, dan mulai berjalan menuju kamarnya.
Abian menatap punggung sang istri hingga punggung itu menghilang di balik pintu.
Lalu kemudian Abian membuang nafas kelegaan.
Setelah beberapa menit Alina keluar dari kamarnya sudah dengan pakaian kantornya.
Berjalan menuju meja makan, dan mulai duduk di sebuah kursi meja makan yang baru saja dia tarik.
"Kamu mau kemana?"tanya Abian.
"Kerja."jawab Alina singkat seraya tangan mengambil selembar roti.
"Hari ini nggak usah pergi kerja!"Abian mengucapkan isi hatinya.
"Emangnya kenapa?"tanya Alina yang kini tengah mengunyah sepotong roti dengan selai strawberry.
"Semalam saja kamu itu bikin masalah di pesta, saya nggak mau kalau kamu juga akan bikin masalah di perusahaan orang."tutur Abian panjang lebar.
"Semalam itu bukan kesalahan aku, yang salah itu minuman di pesta itu. Minumannya ko aneh-aneh sih rasanya."tutur Alina menjelaskan.
"Minuman aneh maksudnya?"tanya Abian yang tidak mengerti.
"Iya, jadi semalam itu kan aku minum tuh sebuah minuman di dalam sebuah gelas kecil. Tapi rasanya tuh bener-bener nggak enak banget sampai-sampai kepala aku rasanya pusing setelah minum minuman itu. Nah tadinya aku mau pergi ke toilet eh malah jatuh ke kolam, lalu setelah itu udah deh aku nggak ingat apa-apa lagi."Alina menceritakan kejadian yang semalam dia alami di pesta.
Apa ini ada hubungannya dengan Devan? suara hati Abian setelah mendengar penuturan Alina.
"Udah ah ini udah siang, nanti aku telat lagi."ucap Alina seraya beranjak dari duduknya.
"Tunggu!"sahut Abian yang membuat Alina diam beberapa saat.
"Kita pergi bareng."ucap Abian yang mulai beranjak juga dari duduknya.
Alina menggeleng cepat. "Enggak usah aku bisa pergi naik ojek online."tolak Alina lembut.
"Udah saya anterin aja, ayo!"Abian bersikeras yang membuat Alina tidak bisa menolaknya.
Tidak butuh waktu lama mobil yang Alina, dan Abian tumpangi telah tiba di sebuah perusahaan besar yakni perusahaan Yogaswara.
Setelah pamit Alina turun dari mobil sang suami, dan mulai berjalan masuk ke gedung besar itu.
"Al, kamu sudah di tunggu pak Devan di ruangannya."ucap salah satu karyawan disana saat Alina baru saja ingin duduk di meja kerjanya.
"Apa? oh ya udah makasih."jawab Alina ngangguk sambil tersenyum.
"Di tunggu pak Devan, ada apa ya?"gumam Alina dengan kaki dia langkah kan menuju ruangan bosnya itu.
Tok..! tok..! tok..! Alina mengetuk pintu ruangan Devan.
"Masuk!"suara sahutan dari dalam yang membuat Alina membuka perlahan pintu itu.
"Bapak memanggil saya?"tanya Alina yang kini sudah berdiri tepat di depan meja kerja Devan.
Devan mengalihkan pandangannya dari layar laptop di hadapannya pada Alina.
"Oh iya, silahkan duduk Al,!"pinta Devan yang langsung di jawab anggukan oleh Alina dengan kaki berjalan sedikit untuk bisa duduk di sebuah kursi di depan bosnya itu.