Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Dua Pilihan


"Ah sial!" mobil James kembali berbalik ke arah sebelumnya, dia ingin memperjelas apa yang barusan dia lihat tadi, tidak mungkin hanya teman biasa yang bisa membuat Liana senyaman itu dengannya.


Dengan kecepatan penuh James mengemudikan mobilnya menuju ke tempat Liana dan pria itu tadi berada.


Tak perlu menghabiskan waktu lama untuk James sampai di tempat itu,namun sayangnya Liana dan pria yang bersamanya tadi sudah tak berada di sana.


"Bodoh! kenapa juga harus memperdulikan hal seperti ini," gumam James lalu berlalu pergi, dia kesal sekaligus bingung dengan dirinya sendiri.


Pikirannya tak tentu lagi, hanya satu tempat yang saat ini menjadi tujuannya, dia segera bergegas ke sana.


Di persimpangan jalan seorang wanita turun dari sebuah mobil mewah,dia mengurai senyuman di bibirnya sebelum meninggalkan pemilik mobil tersebut, serta mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya.


Wanita itu adalah Liana,perlahan dia berjalan masuk gang arah rumah wanita itu setelah memastikan pria yang mengantarnya pergi,perlahan kedua matanya menangkap seseorang yang familiar di hidupnya sedang bersandar di gerbang rumahnya sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.


"James?" sapa Liana padanya, sedangkan James tak bereaksi apapun atas sapaan tersebut, setelah dia tahu bahwa Liana telah bersama pria lain.


Liana menjadi heran kenapa tiba-tiba James berdiri di depan rumahnya,namun hanya diam tak menjawab sapaannya.


"Ada apa ya James kamu kemari?" tanya Liana hati-hati.


"Kenapa gak boleh kesini?" tanya James membuka mulutnya namun pertanyaan itu terkesan sarkasme bagi Liana.


Liana semakin mengkerutkan keningnya mendengar ucapan dari James.


"Tentu saja boleh, hanya saja tidak biasanya kamu tak memberitahuku terlebih dahulu," balas Liana masih tenang, mencoba tak terpancing dengan suasana hati pria di depannya itu.


Karena Liana tahu mungkin James sedang ada masalah jadi dia sedikit sensitif.


"Apa aku mengganggu acara kencanmu barusan?" sindir James.


"Kencan? Maksud kamu apa James?" tanya Liana tak tahu arah pembicaraan James.


"Huh masih berpura-pura saja kamu itu Liana, kemarin bilang kalau malam ini kamu sibuk dengan urusanmu dan tak mau bertemu denganku, jadi maksud kamu sibuk adalah kencan diam-diam dengan seorang pria tanpa sepengetahuanku, itu kan yang terjadi?" tuduh James, Liana sontak terkejut tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Aku gak pernah seperti itu James, kenapa kamu bisa bilang begitu!" balas Liana.


"Lalu apa yang barusan aku lihat Liana, kamu tertawa bahagia bersama seorang pria bahkan dia mengantarmu sampai pulang?" James semakin terpancing oleh kemarahannya sedangkan Liana mulai mengerti kemana arah pembicaraan pria itu.


"Apa serendah itu aku di matamu James?"


"Jadi kamu mengakuinya Liana?" James tak mereda, bahkan dia menyimpulkan bahwa ucapannya benar, Liana telah bermain di belakangnya.


Plak.


Tangan mulus Liana mendarat sempurna di pipi kanan James, hingga akhirnya keduanya terdiam.


"Jika itu yang sekarang ada di pikiranmu James, anggap saja semuanya benar, dan tolong tinggalkan aku sekarang," ucap Liana lirih, matanya mulai merah dan berkaca-kaca.


"Maksud kamu apa hah, main di belakangku seperti ini!" hardik James dengan suara sedikit meninggi, kedua tangannya mengunci Liana hingga tubuh wanita itu menghimpit tembok rumahnya yang sebelum itu keduanya sudah masuk ke pekarangan rumah.


Suasana malam yang gelap dan sepi begitu terasa, Liana mencoba memberontak dari James namun pria itu tak mudah melepaskan Liana.


"Lepaskan aku James, aku gak pernah selingkuh!" bela Liana, pria di depannya ini sedang cemburu buta.


Terlepas dari masalah Liana bersama pria lain, wanita itu juga sedang menyembunyikan sesuatu hal dari James.


Liana yang sebelumnya berfikir untuk meminta izin bersama James akhirnya hanya bisa terdiam sambil mendengarkan ucapan sang nenek dengan derai air mata di kedua pipinya.


"Tolong tinggalkan cucuku, berapapun uang yang kamu minta aku akan memberikannya untukmu Liana," ucap Oliv kala itu di sebuah cafe dekat rumah Liana dengan tegas tanpa mau di tolak.


"Kenapa nenek harus memisahkan kami?" tanya Liana tak menerima keputusan sang nenek itu.


"James sudah ku jodohkan dengan wanita yang lebih baik darimu, sebaiknya kamu urusi saja mamamu itu, keluargaku tak mungkin bisa menerima kalian menjadi bagian dari kami," ucap Oliv begitu menyayat hati Liana.


Ternyata alasannya tak di terima oleh keluarga James adalah tentang latar belakang keluarganya, Liana hanya mampu terdiam saat Oliv meninggalkan dirinya dengan sebuah cek kosong yang di berikan kepadanya.


Oliv meminta Liana untuk mengisi sendiri berapa nilai uang yang dia inginkan di cek tersebut.


Tapi bagi Liana itu tak lebih dari penghinaan baginya, sejak saat itu Liana mencoba menjauh dari James, mulai merenggangkan komunikasi di antara keduanya, hingga akhirnya James melihatnya bersama pria lain.


Pria yang membantu Liana akhir-akhir ini untuk membebaskan mamanya, pria itu adalah Leon, pengacara muda yang mau membantunya menangani kasus sang mama.


Tapi bagi James mungkin Leon adalah pria baru Liana, jika begitu mungkin ini kesempatan Liana untuk berpisah dari James.


Meski sebenarnya hati wanita itu begitu remuk jika harus melepaskan James pada perempuan lain.


"Kamu tak tahu James ini terlalu sakit bagiku," batin Liana.


"Lalu siapa pria tadi?" tanya James menyadarkan kembali Liana dari bayangan pertemuannya dengan Oliv.


"Dia temanku James," balas Liana.


Perlahan James mulai tenang, dia tak lagi mengunci tubuh Liana, tapi tatapan matanya tak lepas dari wanita itu.


"Teman?" tanya James, Liana mengangguk.


"Ku harap kamu tak membohongiku Liana, atau aku tak akan lagi bisa mengendalikan diriku," ucap James lalu perlahan pergi meninggalkan wanita itu.


Liana menghela napas panjang, jantungnya kembali stabil setelah berdetak tak karuan karena menghadapi James.


Liana belum siap jika harus melepas James, tapi bagaimana dengan peringatan sang nenek pria itu yang memintanya untuk segera meninggalkan cucunya.


Liana tak tahu harus berbuat apa, bahkan dia tak mungkin menceritakan semuanya itu kepada James.


Itu tak mungkin karena mamanya sebagai taruhan, jika Liana bisa berpisah dari James kemungkinan Oliv akan membantu mamanya untuk lepas dari jeratan hukum.


Dan Liana percaya bahwa Oliv bisa membantunya, tapi dia juga tak bisa mengorbankan cintanya demi sang mama.


Dua pilihan yang sulit bagi Liana untuk melangkah, menentukan keputusan yang mana yang akan dia ambil kali ini.


Menyakiti James, atau membiarkan sang mama terkikis hawa dingin di jeruji besi.


"Ma Liana bingung harus bagaimana kali ini," batin Liana.


Wanita itu masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya.


Dia tanpa sadar merosot ke lantai setelah sampai di kamar, Liana duduk berpangku dengan kedua lutut sebagai sandaran wajahnya, perlahan dia terisak dan mengeluarkan semua air mata yang sedari tadi dia tahan di depan pria yang begitu dia cintai.