
Dua hari berlalu dari Andrew pergi ke luar negeri. Dua hari pula Zelia tak berhenti menangis.
Sedangkan Liera selama itu juga tak berhenti meminta Andrew untuk bertanggung jawab.
Andrew tak bisa menghubungi Zelia, dia akhirnya memilih segera kembali untuk melihat apa yang terjadi dengan istrinya itu.
Meski rasa takut menyelimuti Andrew, sebisa mungkin dia tak memperlihatkannya pada Zelia. Dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengannya bersama Liera.
Andrew sebenarnya tak merasakan menyentuh Liera, tapi wanita itu tak berhenti merengek untuk meminta pertanggung jawabannya.
Andrew memilih menolaknya dan memberikan cek sebesar satu milyar agar Liera tak mengganggunya kembali.
Bagaikan petir di siang bolong, perlakuan Andrew pada Liera membuat wanita itu kesal bukan main.
Membuat rasa ingin memiliki pria itu lebih tinggi dari sebelumnya, Liera semakin yakin untuk merebut Andrew dari Zelia.
Saat sampai di rumah Andrew bergegas mencari Zelia di kamar mereka. Tak ada siapapun di kamar itu saat Andrew membukanya.
"Dimana Zelia?" batin Andrew khawatir.
Dia lalu berjalan menyusuri rumah mereka, masih saja tak ada tanda dari Zelia di sana.
"Astaga kamu dimana Zelia," gumam Andrew semakin khawatir.
Dia lalu menghubungi mertuanya dan juga kakak Zelia, barangkali dia ada bersama mereka.
Namun jawaban dari keduanya sama, Zelia tak bersama mereka. Andrew semakin bingung.
Dia lalu mencoba menelepon sang kakek, barang kali Zelia bersama kakeknya. Telepon pun terhubung,Andrew segera menanyakan tentang Zelia.
"Benarkah Zelia tak di sana? tidak apa-apa, baiklah terima kasih kek," suara Andrew sebelum menutup teleponnya.
Andrew mencoba menelepon Zelia kembali, namun masih saja tak ada jawaban.
Di rumah seseorang Zelia tengah termenung sendiri, sesaat kemudian seorang perempuan mendekatinya dan duduk di samping Zelia.
"Zelia makanlah dulu, jangan menyiksa diri seperti ini," pinta Refi pada sahabatnya itu.
Sudah dua hari Zelia berada di rumah Refi, dua hari pula wanita itu tak mau makan apapun. Membuat Refi gelisah.
Tak ada jawaban dari Zelia, tatapan matanya kosong. Seolah menerawang jauh entah kemana.
Refi sudah mendengar cerita tentang Andrew berselingkuh di luar negeri. Awalnya dia tak percaya namun setelah Zelia menunjukkan sebuah foto Andrew yang sedang tidur bersama wanita lain. Membuat Refi mempercayainya. Bahkan dia ingin sekali menghajar Andrew saat ini karena telah menyakiti Zelia.
"Zelia aku suapi ya, kamu memang kuat menahan lapar, tapi apakah anak di dalam perutmu akan mampu menahannya juga, pikirkan itu Zelia," Refi tak tega melihat sahabatnya seperti itu.
Zelia mengelus perutnya, dia akhirnya mulai luluh. Zelia menerima suapan dari Refi demi sang anak. Dia tak boleh egois kepada calon bayinya.
"Makasih Ref," ucap Zelia.
"Kamu pantas bahagia Zelia," Refi menatap kedua mata sahabatnya itu dan memberikan senyuman kepadanya. Keduanya lalu berpelukan.
Di rumahnya, Andrew saat ini masih kebingungan mencari Zelia. Dia sampai kelelahan dan akhirnya tertidur di sofa ruang tamu beberapa jam setelah mencari istrinya.
Hingga malam tiba, suara decitan pintu utama membuat Andrew terbangun. Sosok yang dia cari sedang berdiri di depan pintu.
"Zelia," panggil Andrew sambil berlari meraih Zelia dan memeluknya.
Zelia tak membalas pelukan Andrew, matanya yang bengkak mulai berkaca kembali. Zelia tak mampu menyembunyikan kesedihannya itu.
"Selemah ini kah aku?" batin Zelia.
"Kamu kemana sayang, aku khawatir sekali?" tanya Andrew sambil melepas pelukannya, di lihatnya kedua mata Zelia yang membengkak dan memerah.
"Zelia maafkan aku," sesal Andrew.
"Apa kamu merasa begitu bersalah kepadaku sampai harus meminta maaf seperti ini?" tanya Zelia dengan raut wajah dinginnya.
Zelia kini seperti patung yang tak bergerak di depan Andrew.
"Apa kesalahan itu begitu besar?" tanya Zelia lagi.
"Bukankah kesalahan itu begitu kamu nikmati!" nada suara Zelia meninggi.
Wanita itu mulai tak bisa mengendalikan dirinya. Andrew tahu Zelia kecewa, wanita itu pasti sudah mengetahui semuanya.
"Aku tak ada niat melakukan itu sayang, aku di jebak," jelas Andrew.
Namun Zelia tak mau menerima alasan seperti itu saat ini. Terlalu banyak hal yang dia tak tahu saat suaminya di luar sana.
"Aku sungguh kecewa denganmu," Zelia perlahan meninggalkan Andrew, dia tak mau terlihat selemah itu di depan suaminya.
"Zelia percayalah padaku," Andrew mengejar Zelia dan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku," ucap Zelia.
Andrew tak melepasnya, dia bahkan semakin mempererat pelukannya. Sambil mengelus perut sang istri.
"Demi anak kita percayalah kepadaku," ucap Andrew lagi.
Zelia tak mampu menahan air matanya lagi. Hatinya perih menerima semua ini. Bagaimana jika perempuan itu datang dan merebut Andrew darinya.
Bagaimana nasib anaknya jika sang ayah tak lagi memperdulikan mereka. Zelia terdiam cukup lama. Merasakan kehangatan dari tubuh suaminya.
Kehangatan yang tidak ingin dia bagi kepada wanita manapun. Katakan lah Zelia egois, tapi itulah cintanya, tak bisa terbagi.
"Aku tak tahu Ndrew harus bagaimana, yang jelas hatiku saat ini begitu sakit," batin Zelia.