Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Egois Sejenak


Reihan menatap langit malam itu dengan perasaan tak karuan. Baru saja dia sadar dari komanya. Tapi hal yang paling dia inginkan namun tak bisa dia terima saat ini baru dia dengar.


Alea menerima cinta Raffa, Rei sudah mengetahuinya setelah gadis itu menelepon dirinya barusan.


Rei senang saat melihat Alea bahagia. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Rei sangat menyesal. Dia menyesal karena bukan dirinya pria pertama yang mendapatkan hati Alea.Dia kalah satu langkah saja dari Raffa.


"Seandainya aku duluan yang bertemu denganmu Alea, apa kamu akan menerimaku?" gumam Reihan. Tanpa pria itu tahu Mila sudah mendengarkan gumaman kakaknya.


Mila ikut sedih melihat sang kakak seperti itu. Dia rela melepas gadis yang dia suka hanya untuk bisa bahagia bersama pria yang dia cintai.


"Kak," tegur Mila pada Reihan.


Reihan menoleh ke arah Mila. Dia tersenyum kepada adiknya itu.


"Masih saja bisa tersenyum setelah hatinya patah!" batin Mila kesal dengan kakaknya.


"Kakak kenapa?" tanya Mila pura-pura belum mengetahui bahwa kakaknya sedang patah hati. Padahal gadis itu mendengar semua percakapan Alea dan Reihan di panggilan video tadi.


"Kakak cuma lagi mikirin sekolah lanjutan kakak, sepertinya kakak harus ikut kakek Mila," ucap Reihan. Seketika wajah Mila tampak sedih.


"Tapi kak, gimana dengan Mila?" tanya Mila khawatir.


"Terserah kamu Mila, mau ikut kakak atau tetap disini!" jawab Reihan.


"Mila gak mau sendirian di sini kak, cuma kak Reihan yang Mila punya. Jadi kemanapun kakak akan melanjutkan sekolah, Mila juga ikut kakak," ucap Mila.


Rei mengusap lembut kepala adiknya. Dia tahu gadis kecil ini tak mungkin mau di tinggal sendiri. Reihan sudah memutuskan untuk membawanya meski gadis itu belum memintanya.


"Baiklah kalau kamu mau ikut, kakak akan segera mengurus surat pindah sekolahmu."


Mila mengangguk paham, sekarang yang terpenting adalah menenangkan hati kakaknya. Pasti begitu berat bagi Reihan untuk sekali lagi patah hati.


Setelah sekian lama pria itu tidak jatuh cinta. Dan saat ini ketika dia jatuh cinta kembali. Reihan harus merasakan patah hati sebelum sempat menyatakan cintanya.


Keduanya menatap ke langit bersama. Membayangkan seseorang yang sedang berada di hati mereka saat ini bisa menemani mereka.


Keesokan harinya, Reihan yang sudah benar-benar sehat dan kembali ke sekolah. Dia mengejar beberapa pelajaran yang tertinggal agar bisa lulus sekolah.


Alea yang berada di depannya juga begitu. Dia harus serius belajar kali ini. Karena besok mereka harus menghadapi ujian kelulusan.


Reihan dari belakang selalu memperhatikan gadis itu. Tapi sayangnya dia tidak bisa lebih dari memperhatikan Alea. Karena Reihan tahu dirinya hanya dianggap sahabat oleh Alea.


Sedangkan Alea saat ini merasa bahwa Rei sedikit berbeda. Beberapa hari setelah sadar dari komanya. Pria itu sedikit menjauhi Alea. Entah apa alasannya yang jelas Alea merasa tidak rela jika sahabatnya itu mulai menjauhinya.


Saat jam pulang tiba, semua murid di kelas itu sudah pulang. Tinggal Alea dan Reihan yang masih berada di dalam kelas. Mereka masih mengemasi buku mereka.


Saat ini Alea berdiri di depan meja Reihan. Dia menatap pria itu sambil melipat kedua lengannya di dada.


"Rei aku mau ngomong sama kamu," ucap Alea.


"Kenapa Alea?" Rei mendongakkan wajahnya untuk melihat Alea.


"Kenapa kamu akhir-akhir ini menjauhiku?" tanya Alea.


"Perasaan kamu aja kali Alea," jawab Rei singkat.


"Aku serius!"


Tapi sebelum jauh dari Alea, pria itu terhenti karena ucapan gadis itu.


"Apa karena aku pacaran sama Raffa? Jadi kamu menjauh dariku!" ucap Alea. Seketika Rei berhenti, ingin sekali dia menjawab iya tentang ucapan gadis itu. Tapi bibirnya lengket tak bisa mengucapkannya.


Alea lalu berlari menghampiri Reihan, tanpa pria itu duga. Alea memeluk punggung Reihan. Membuatnya terkejut.


"Please Rei jangan kayak gini, kamu sahabat aku yang paling baik. Dan kamu penyelamatku. Kamu jangan jauhin aku kayak gini!" ucap Alea sedih. Dia benar-benar merasakan perbedaan saat di jauhi Reihan. Seperti kehilangan sahabat untuk selamanya.


Sudut bibir Reihan terangkat, di dasar hatinya dia sangat senang di perlakukan seperti itu. Tapi pikirannya tak boleh egois, karena pasti Raffa akan tersakiti.


Rei lalu menghadap ke arah Alea, gadis itu menangis. Rei mencoba menghapus air mata itu.


"Aku tidak menjauhi mu Alea, kita masih bisa seperti dulu," ucap Rei menenangkan.


Pria itu mengapit kedua pipi Alea dengan kedua telapak tangannya. Alea tak tahu apa yang sedang sahabatnya itu lakukan.


Tiba-tiba Reihan mencium bibir Alea lembut.Membuat Alea terkejut karena perlakuan itu. Tapi dia tidak segera mendorong Reihan, hingga Rei melepaskan bibirnya dari bibir Alea.


"Maaf Alea, tapi ijinkan aku egois untuk hari ini. Aku ingin lebih dari sahabat meski aku tahu, aku kalah dari dia. Tapi aku sangat mencintaimu Alea," pernyataan itu keluar begitu saja dari bibir Reihan. Kedua matanya menyusup ke kedua mata Alea. Mencoba menyakinkan gadis itu. Bahwa dia serius dengan ucapannya barusan.


Gadis itu masih diam membisu, dia terkejut dengan pengakuan Reihan. Selama ini dia hanya menganggap Reihan sebagai sahabatnya.


"Tapi aku-" Alea terhenti bicara saat jari telunjuk Reihan menempel di bibirnya.


"Aku tahu apa yang akan kamu ucapkan Alea, meski sulit bagiku menerima,asalkan kamu bahagia bersamanya aku rela melepaskan mu."


Sekali lagi Rei mencium bibir Alea, gadis itu hanya diam seperti patung saat ini. Dia tak tahu harus bagaimana.


"Makasih, untuk bibir lembutmu."


Setelah mengucapkan itu, Rei pergi meninggalkan Alea yang masih diam membeku. Gadis itu memegang bibirnya.Ingin marah tapi dia tidak bisa.


Saat Rei keluar dari kelas itu, di ujung tangga seseorang menantinya.


"Bagus ya main cium adikku!" ucap Arkan membuat Rei sedikit terkejut karena kehadirannya.


"Bagus juga kamu suka ngintipin orang ciuman. Pasti iri kan?" balas Reihan.


"Kamu, sialan!" Arkan hendak memukul pundak Reihan. Tapi dia urungkan,Arkan malah tersenyum kepada pria itu.


"Aku kira kamu tidak serius dalam perasaanmu setelah kepergian dia!" ucap Arkan,Rei tahu apa yang di maksud Arkan.


Keduanya sudah berbaikan, setelah kecelakaan yang terjadi beberapa bulan lalu. Menyadarkan Arkan bahwa dia harus menjaga persahabatannya itu.


"Tapi dia milik pria lain!" Rei menghela napas panjang,dia ikut bersandar di dinding dekat Arkan.


"Kalau cinta berjuanglah, setidaknya dia tahu bahwa kamu mencintainya!" saran Arkan.


"Jangan memberiku saran seolah-olah kamu sudah pernah melakukannya, kamu saja masih jomblo sampai sekarang. Aku gak yakin kamu suka sama perempuan!" ejek Reihan yang langsung menghujam tepat di hati Arkan.


"Jangan mengejekku, aku akan mendapatkan perempuan yang ku inginkan!" balas Arkan.


"Baiklah, aku tunggu pembuktiannya!"


Rei merangkul pundak Arkan, keduanya lalu menuju ke parkiran motor mereka.