Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Katakan Jika Cemburu!


Belum juga sampai di apartemennya, Defin terpaksa harus memutar balik arah mobilnya melaju.


Setelah dia mendapati handphone milik Adel yang tertinggal di mobilnya.


"Dasar wanita hal sepenting ini bisa saja lupa," gumam Defin sambil melajukan mobilnya kembali ke jalanan menuju apartemen Adel.


Beberapa menit kemudian dia sudah sampai dan segera melangkah naik ke apartemen wanita itu.


Sesampainya di depan pintu, Defin di buat kaget karena pintu apartemen wanita itu terbuka begitu saja, Defin memanggil berkali-kali sahabatnya itu tapi tak ada jawaban darinya.


Defin yang curiga segera masuk ke dalam apartemen itu, dan segera mencari dimana wanita itu berada.


"A-" suara Defin tercekat saat melihat seseorang di dekat Adel, pria yang tak pernah Defin lihat sebelumnya tengah duduk di sofa bersama Adel yang berbaring di pangkuan pria itu.


"Apa dia temanmu?" tanya pria itu pada Adel saat mengetahui kedatangan Defin.


Sedangkan Defin hanya mematung di tempatnya berdiri saat ini, Adel menyadari sesuatu saat tatapannya mengarah kepada sahabatnya itu.


"Def?" panggil Adel sedikit terkejut kenapa Defin bisa kembali lagi ke apartemennya, dia lalu bangkit dari posisinya tadi.


"Del, maaf kalau ganggu, aku cuma mau kembaliin handphone kamu tadi tertinggal di mobilku," ucap Defin sedikit tak bersahabat jika di dengar dari ucapannya.


Defin merasa kecewa dengan Adel, entah apa yang dia lihat benar atau salah, Adel sedang tidur dengan bantalan kedua paha pria itu.


Pemandangan yang begitu membuat Defin ingin segera pergi dari tempat itu.


Adel yang sudah terduduk segera mengambil handphonenya.


"Makasih Def, oh iya ini-" ucapan Adel terpotong oleh suara Defin yang ingin pamit meninggalkan mereka.


"Aku harus kembali," ucap Defin sambil berbalik arah hendak pergi,meski sedikit tak sopan, tapi Defin tak pedulikan itu.


"Defin tunggu!" teriak Adel mengejar Defin yang sudah meninggalkan keduanya sedangkan pria yang bersama Adel hanya menatap keduanya dengan rasa bingung.


Adel meraih tangan Defin, membuat langkah kaki pria itu terhenti saat mereka sampai di pintu keluar apartemen Adel.


"Kenapa kamu buru-buru?" tanya Adel tanpa tahu bagaimana perasaan Defin saat ini.


"Besok ada kelas pagi aku harus segera pulang," jawab Defin asal tanpa menatap mata Adel.


"Kesal? hal apa yang membuatku kesal?" tanya Defin menatap kedua mata Adel dengan serius kali ini.


"Hal yang kamu lihat tadi?" ucap Adel yakin.


"Itu bukan urusanku," Defin mengurai tangan Adel agar terlepas.


Lalu pria itu pergi meninggalkan Adel sendiri, wanita itu tersenyum puas sambil menatap punggung Defin yang mulai menjauh dan hilang di belokan koridor.


"Aku tahu isi hatimu Def, tapi sampai kapan kamu menyembunyikannya?" gumam Adel.


"Jadi dia pria itu?" sosok pria yang tadi bersama Adel di apartemen itu mendekatinya.


Adel hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


"Ku rasa dia cemburu," ucap Aro, nama pria itu.


"Benar sekali, terima kasih mau membantuku?" ucap Adel.


"Apa dia tak tahu siapa aku?" tanya Aro.


"Tentu saja dia tidak tahu, memangnya kamu pernah pulang ke rumah?" tanya Adel lebih ke arah mengejek pria itu.


"Yah sudah lama sekali, mungkin aku sudah lupa bagaimana rumah itu," ucap Aro santai.


"Hah sudahlah sana pergi!" usir Adel memaksa Aro keluar dari apartemennya.


"Hei habis manis sepah di buang, dasar tak tahu terima kasih!" rutuk Aro.


Adel hanya tertawa dan segera menutup pintu apartemennya, menyisakan kesal di hati Aro.


Lalu Adel pergi ke ranjangnya dan mulai membaringkan tubuhnya yang lelah, sambil sesekali menatap foto masa kecilnya dahulu, masa-masa yang ingin sekali dia ulang lagi, namun sayangnya itu tak akan mungkin terjadi.


Sedangkan Defin yang baru sampai di apartemennya dengan keras membanting handphonenya ke ranjang, begitu juga dirinya.


Rasanya begitu kesal melihat wanita itu bersama pria lain, Defin menutup wajahnya dengan bantal agar secepatnya rasa kesal itu hilang bersamaan dengan dirinya yang mulai terlelap.