
Abian keluar dari perusahaan Yogaswara dengan amarah yang meluap-luap.
Abian masuk ke dalam mobilnya, dan mulai menjalankan mobil itu tanpa arah tujuan.
"Kemana kamu Al?"gumam Abian yang kini sedang mengendarai mobilnya.
Mata Abian melihat sosok seorang perempuan yang mirip dengan Alina, yang membuatnya langsung menghentikan mobilnya, dan mulai keluar dari mobil.
"Al, Alina!"panggil Abian seraya berjalan, untuk menghampiri seorang gadis yang kini tengah berjalan di depannya.
"Ada apa mas?"tanya gadis itu yang menoleh karena bahunya di sentuh oleh Abian.
"Saya pikir mbak istri saya, maaf mbak!"ucap Abian saat mendapati perempuan itu bukanlah Alina seperti yang dia pikirkan.
Abian bersandar ke jok mobilnya, bayangan semalam mulai memenuhi pikirannya saat ini.
Saat dia memperlakukan Alina semalam dengan begitu kasar.
"Arrggh..!"teriak Abian seraya tangan memukul setir mobil.
"Bodoh! apa yang kamu lakukan Abi? kamu sudah menyakiti dia."Abian merutuki dirinya sendiri sambil menyugar rambutnya prustasi.
"Bagaimana kalau dia tidak akan pernah kembali lagi, bagaimana kalau Alina pergi dari kehidupan ku untuk selamanya? tidak aku tidak bisa biarkan ini terjadi, aku tidak akan membiarkan Alina ninggalin aku. Iya aku harus cari Alina sampai ketemu."gumam Abian yang kembali memutar kunci mobil, dan mulai melajukan mobilnya untuk kembali mencari Alina.
Hari berganti sore, tapi Abian masih belum juga menemukan Alina.
Dengan baju, dan rambut yang sudah terlihat berantakan Abian masih terus menyusuri jalanan untuk mencari keberadaan sang istri.
"Harus kemana lagi aku cari kamu Al? aku tahu aku salah, tapi haruskah kamu pergi tanpa mengabari aku Al?"lirih Abian yang terlihat sudah putus asa.
Drtt... drtt... drtt.. ponsel Abian bergetar di atas dashboard mobil, detik kemudian tangannya mengambil ponsel itu, dan melihat nama Momy yang tertera di layar ponsel sebelum akhirnya dia menggeser icon warna hijau yang berada di layar ponselnya itu.
"Hallo Ma, ada apa?" sapa Abian lesu saat benda pipih itu sudah menempel di telinga kirinya.
"Ini Mama mau ngabarin kamu, kalau Alina akan nginep di rumah boleh ya?"suara Lisa dari sebrang sana yang membuat mata Abian berbinar.
"A-apa mah Alina ada di rumah?"tanya Abian memastikan.
"Iya, bukannya tadi Alina sudah pamit ya sama kamu kalau mau main ke rumah."tutur Lisa.
"Oh iya, Abi lupa mah."sergah Abian. "Ya udah kalau gitu Abi sekarang kesana ya mah."sambung Abian sebelum akhirnya memutuskan panggilan telponnya.
"Anak ini, belum juga Mama nya selesai bicara sudah main tutup aja telponnya."gumam Lisa sambil tersenyum.
"Alina katanya suami kamu akan kesini."tutur Lisa yang berjalan menghampiri Alina yang kini sedang duduk di sebuah sofa, di depan TV.
"A-apa mah, Abian mau kesini?" tanya Alina yang terlihat tidak senang.
"Iya, tadi Mama ngabarin dia kalau kamu akan nginep disini. Eh taunya dia malah akan kesini juga."jelas Lisa yang kini ikut duduk di samping menantunya itu.
"Oh gitu ya mah."jawab Alina yang memaksakan untuk tersenyum.
Terlihat mobil Abian telah memasuki gerbang rumahnya.
Abian turun dari mobil, dan mulai berlari kecil untuk memasuki rumah.
"Al, Alina!"panggil Abian seraya berjalan memasuki rumah.
"Abi!"sahut Lisa yang menghampiri putranya itu.
"Ma, Alina mana mah?"tanya Abian dengan mata celikukan mencari sosok yang di carinya sedari tadi.
"Alina ada di kamar, tapi penampilan kamu?"ucap Lisa seraya matanya melihat penampilan putra semata wayangnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki yang benar-benar berantakan.
Dari rambutnya yang acak-acakan, baju kemeja keluar sebelah yang membuat Lisa benar-benar tidak percaya jika yang berada di hadapannya saat ini adalah Abian putranya.
"Anak itu kenapa sih sebenarnya? penampilannya benar-benar bukan Abian banget."gumam Lisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Abian membuka pintu kamarnya perlahan, dan matanya langsung melihat sosok gadis cantik yang kini sedang duduk di tepi ranjang.
Melihat Abian datang, Alina langsung mengusap kasar air bening yang jatuh di atas pipi putihnya itu.
Abian berjalan untuk menghampiri Alina, dan dia mulai ikut duduk di tepi ranjang di samping istrinya itu.
"Tentang kejadian semalam aku..!"Abian mulai membuka pembicaraan.
"Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu."jawab Alina yang kini hendak beranjak dari duduknya.
"Al, aku minta maaf untuk kejadian semalam!"lirih Abian yang kini menyentuh tangan Alina.
Alina membuang nafas berat sebelum menjawab ucapan suaminya itu."Aku nggak tahu apa aku bisa maafin kamu, atau tidak yang jelas aku ingin sendiri dulu."jawab Alina yang kembali ingin beranjak dari duduknya.
"Al, aku tahu aku salah, aku mohon maafin aku!"kembali Abian meminta maaf, dengan posisinya sekarang menjadi duduk di lantai dengan tangan masih menyentuh kedua tangan Alina.
"Aku ingin terbebas dari pernikahan tanpa cinta ini, dan kamu bisa menceraikan aku."tutur Alina dengan air asin yang mulai lolos dari matanya.
"Enggak Al, kita bisa coba memberikan pernikahan kita kesempatan."ucap Abian yang tidak setuju dengan permintaan Alina.
"Kamu mau kan mencoba memberikan kesempatan untuk pernikahan kita?"tanya Abian sambil menatap intens wajah Alina.
Apa aku harus kasih kesempatan untuk pernikahan ku? dan tetap mempertahankan pernikahan ku ini, pernikahan yang di inginkan oleh mendiang ayah ku. suara hati Alina yang kini menatap wajah sang suami yang berada di hadapannya.
"Kamu mau kan Al?"kembali Abian bertanya dengan wajah yang terlihat harap-harap cemas menunggu jawaban yang akan di berikan oleh istrinya itu.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Alina menganggukkan kepalanya tanda jika Alina setuju untuk memberi kesempatan pada pernikahannya.
"Makasih Al,!"ujar Abian yang terlihat bahagia sambil bangkit, dan mulai memeluk Alina.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Kini Abian, Alina, Lisa, dan juga Seno sudah berada di sebuah meja makan yang lumayan cukup besar.
Mereka akan menyantap makan malam yang sudah terlihat tersedia di atas meja makan itu.
"Oh iya Abi, berhubung kalian berdua datang kesini, papa ingin kasih hadiah untuk kalian."ucap Seno di sela makannya.
"Hadiah, hadiah apa pah?"tanya Abian dengan tangan memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Makan saja dulu, nanti papa kasih tahu kalian."seru Seno yang kini meneguk air putih yang berada di hadapannya.
"Ini hadiah yang tadi papah janjikan."ujar Seno seraya menyimpan sebuah amplop coklat di atas sebuah meja yang berada di hadapannya.
Abian, Alina, dan juga Lisa menatap ke arah amplop yang Seno simpan di atas meja itu.
"Ayo ambil Abi,!"pinta Seno yang di jawab anggukan oleh Abian.
Tangan Abian mulai mengambil amplop itu, dan mulai melihat isinya.
"Tiket ke Amerika?"tanya Abian memastikan setelah membaca isi dari amplop itu.
"Iya, papa ingin kalian pergi ke Amerika untuk bulan madu."imbuh Seno yang membuat Lisa tersenyum sambil mengelus pundak Alina yang duduk di sampingnya.
Alina hanya bisa tersenyum tipis ke arah Mama mertuanya itu.
"Dan papah tidak mau mendengar penolakan dari kalian."sambung Seno menegaskan.
Yang membuat Abian, dan Alina tidak bisa menolak keinginan dari Seno.